Sejarah Bermulanya Bulan Zulkaidah

  • 13 Mei 2026 17:09 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Zulkaidah adalah bulan ke-11 dalam kalender Hijriah dan salah satu dari empat bulan Haram (bulan yang suci/dimuliakan) bersama Muharram, Rajab dan Dzulhijjah sehingga pertumpahan darah dilarang. Secara etimologi, bulan Zulkaidah berasal dari bahasa Arab, "Dzu" (pemilik) dan "Qa'dah" (duduk/berdiam diri). Nama bulan zulkaidah secara harfiah merujuk pada aktivitas berdiam diri atau beristirahat sebagaimana dilansir laman wakaf salman.

Secara historis, asal usul bulan zulkaidah berakar dari tradisi bangsa arab dimana pada bulan zulkaidah sepakat menghentikan segala bentuk pertikaian, konflik, ekspedisi militer, peperangan atau gencatan senjata di bulan zulkaidah demi keamanan sehingga mereka "duduk" atau menetap di rumah dan guna menghormati kesucian bulan tersebut, sebagaimana tercantum dalam Surah At-Taubah ayat 36. Pada bulan zulkaidah, umat Islam dilarang keras berbuat zalim karena dosa maksiat akan dilipatgandakan, begitu pula dengan pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan, seperti dikutip laman wakaf salman.

Masyarakat mulai menetap dan beristirahat dari perjalanan jauh untuk bersiap melaksanakan ibadah haji di bulan berikutnya (Dzulhijjah). Merupakan bagian dari bulan-bulan haji (Syawal, Zulkaidah, 10 hari pertama Dzulhijjah) yang menjadi waktu sah berihram haji. Digambarkan sebagai waktu santai di mana mereka tidak mencari pakan ternak atau berdagang ke luar daerah.

Banyak peristiwa penting dalam Islam terjadi pada bulan zulkaidah, salah satunya adalah Perjanjian Hudaibiyah (Kesepakatan damai antara umat Muslim dengan kaum Quraisy) pada tahun ke-6 Hijriah. Menurut hadis riwayat Bukhari, Nabi Muhammad SAW melaksanakan empat kali umrah dan semuanya dilakukan atau dimulai pada bulan Zulkaidah. Nabi Muhammad SAW memulai perjalanan haji terakhirnya pada akhir Zulkaidah tahun ke-10 Hijriah.

Sebagian ulama ahli tafsir menyebutkan bahwa 30 malam janji Allah kepada Nabi Musa AS terjadi pada bulan zulkaidah. Allah menjanjikan Kitab Taurat kepada Nabi Musa AS setelah beliau melalui 30 malam di bulan Zulkaidah dan digenapkan 10 malam di awal Dzulhijjah sebagaimana dilansir laman majelis ulama Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....