LLDIKTI Wilayah 16 Dorong Perguruan Tinggi Percepat Aksi Nyata SDGs
- 20 Sep 2026 16:10 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Perguruan tinggi diharapkan mampu menerjemahkan komitmen pembangunan berkelanjutan menjadi solusi nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat, seiring semakin dekatnya batas waktu pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030.
Harapan tersebut disampaikan Kepala LLDIKTI Wilayah 16, Munawir Sadzali Razak, saat menghadiri Konferensi Interdisipliner Internasional ke-9 tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs 2026 Universitas Bina Mandiri Gorontalo (UBMG), yang dilaksanakan Minggu 20 September 2026.
Mengangkat tema Eleven Years of SDGs: Progress, Lessons and the Road Ahead, konferensi ini dinilai menjadi ruang penting untuk merefleksikan perjalanan sebelas tahun SDGs sekaligus mempercepat penerapan hasil pengetahuan dan riset dalam pembangunan.
Pada momentum tersebut Munawir mengapresiasi konsistensi UBMG Gorontalo yang selama sembilan tahun menyelenggarakan konferensi internasional dengan mengangkat isu-isu global, khususnya pembangunan berkelanjutan. Ia menilai, tema konferensi relevan karena dunia berada dalam fase akhir perjalanan menuju target SDGs 2030, yang disepakati negara-negara anggota PBB pada 25 September 2015 melalui Sidang Umum PBB ke-70.
“Saya kira pertanyaan yang mungkin penting untuk kita jawab bukan lagi berapa banyak tujuan yang telah kita capai, melainkan apa yang benar-benar telah berubah dan apa yang telah kita ketahui selama ini,” ucap Munawir

Menurutnya, konferensi tersebut tidak boleh hanya dimaknai sebagai peringatan perjalanan SDGs, tetapi harus menjadi momentum refleksi dan akselerasi.
Sebelas tahun pertama telah digunakan untuk membangun komitmen, kesadaran, target, dan mekanisme pencapaian pembangunan berkelanjutan. Munawir menegaskan, sisa waktu menuju 2030 perlu dimanfaatkan sebagai periode pembuktian, dengan memastikan pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi diterjemahkan menjadi perubahan yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat.
“Perguruan tinggi harus bisa bertransformasi, perguruan tinggi harus bergeser dari sekadar knowledge producer menjadi solution provider,” kata Munawir.
Ia menjelaskan, perguruan tinggi tidak lagi hanya berfungsi sebagai lembaga penghasil lulusan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menerjemahkan komitmen global menjadi solusi lokal, menghubungkan riset dengan kebijakan, serta menjadikan pengabdian dan kemitraan sebagai instrumen kemajuan bersama. Munawir menyebutkan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menetapkan 12 Indikator Kinerja Utama (IKU) bagi perguruan tinggi melalui Keputusan Menteri Nomor 358 Tahun 2025. Salah satu indikator tersebut mengukur kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian SDGs.
Ia menjelaskan, terdapat tiga tujuan SDGs yang menjadi bagian wajib dalam pengukuran tersebut, yakni SDGs 1 tanpa kemiskinan, SDGs 4 pendidikan berkualitas, dan SDGs 17 kemitraan untuk mencapai tujuan. Perguruan tinggi juga diberikan keleluasaan memilih dua tujuan SDGs lainnya sesuai keunggulan dan konteks strategis masing-masing. Munawir mengingatkan, implementasi IKU tidak seharusnya hanya berorientasi pada pemenuhan angka pelaporan.
Setiap program, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kerja sama harus dinilai berdasarkan manfaat serta dampak yang dihasilkan.
“Jangan sampai kita memahami IKU ini hanya sekadar angka yang harus dilaporkan, tapi yang harus kita perhatikan adalah bagaimana yang kita lakukan ini betul-betul memberikan dampak kepada masyarakat,” ujar Munawir.
Ia mencontohkan, kontribusi terhadap SDGs 1 harus diwujudkan melalui program dan riset yang membantu masyarakat keluar dari kemiskinan. Sementara itu, SDGs 4 perlu mendorong perguruan tinggi memastikan kualitas pendidikan serta relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat.
Untuk SDGs 17, Munawir menekankan pentingnya kolaborasi karena persoalan pembangunan yang kompleks tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Riset dan pengabdian di masa depan perlu semakin melibatkan kerja sama lintas disiplin dan lintas negara.
“Riset dan pengabdian masa depan harus semakin bersifat kolaboratif, lintas disiplin bahkan lintas negara atau secara global,” tambahnya.
Melalui konferensi internasional ini, peran perguruan tinggi diharapkan semakin kuat dalam mendukung pencapaian SDGs, dengan menjadikan hasil riset dan pengetahuan sebagai dasar penyusunan solusi pembangunan yang berkelanjutan dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (RA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....