IPR Gorontalo Turun, FKPT Waspadai Paparan Radikalisme Digital

  • 25 Agt 2026 17:39 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo — Indeks Potensi Radikalisme (IPR) di Provinsi Gorontalo menunjukkan tren penurunan. Namun, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Gorontalo masih menemukan potensi paparan paham radikalisme, khususnya melalui aktivitas digital di kalangan generasi muda.

Kabid Penelitian FKPT Gorontalo, Hasan Panigoro, kepada RRI mengatakan hasil penelitian yang dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan angka IPR Gorontalo berada di 8,8 persen, turun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 11,6 poin atau sekitar 9,6 persen.

Menurut Hasan, penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode multistage random sampling. Survei melibatkan 400 responden berusia 18 hingga 60 tahun yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo.

“Angka 8,8 ini merupakan proses setelah dilakukan perhitungan secara matematis. Datanya diambil secara kuantitatif dengan sampling Provinsi Gorontalo,” ujar Hasan ketika diwawancarai via telpon, Selasa 25 Agustus 2026.

Meski mengalami penurunan, Hasan mengatakan hasil penelitian menunjukkan adanya faktor yang tetap perlu diwaspadai, yakni perilaku digital masyarakat.

Menurutnya, aktivitas di media sosial dan internet berpotensi menjadi ruang masuknya konten yang mengarah pada paham radikalisme. Kondisi tersebut dinilai semakin kompleks karena generasi muda saat ini memiliki kemampuan menggunakan teknologi yang cukup tinggi.

“Walaupun dia turun, ternyata masih ada potensi-potensi yang memberikan pengaruh signifikan. Perilaku itu adalah perilaku digital,” katanya.

Hasan menyebut media sosial seperti TikTok dan Facebook menjadi bagian dari ruang digital yang perlu mendapat perhatian. Menurutnya, keberadaan konten bermuatan radikalisme tidak selalu mudah dikendalikan hanya melalui pemblokiran.

Karena itu, FKPT Gorontalo berencana memperkuat kajian dan program pencegahan yang menyasar ruang digital, khususnya generasi Z.

Hasan mengatakan upaya tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama dengan pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, serta masyarakat.

“Yang paling penting kami akan melakukan beberapa koordinasi untuk program-program yang langsung menyasar Gen Z, terutama di sekolah,” ujarnya.

Ia menilai guru memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman kepada siswa mengenai bagaimana menyaring informasi yang beredar di ruang digital. Hal serupa juga diperlukan di lingkungan perguruan tinggi agar mahasiswa memiliki kemampuan mengenali dan menyikapi konten yang berpotensi memengaruhi cara pandang mereka.

Menurut Hasan, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan dengan menertibkan atau memblokir konten. Literasi dan kemampuan masyarakat dalam memahami serta menyaring informasi digital juga perlu diperkuat.

“Harus ada program yang bukan hanya menertibkan, tetapi juga mengontrol dan mengendalikan lalu lintas informasi yang ada via digital,” katanya.

FKPT Gorontalo sendiri selama ini telah menjalankan berbagai kegiatan pencegahan radikalisme dan terorisme melalui sosialisasi, kegiatan keagamaan, koordinasi lintas sektor, serta penguatan kearifan lokal Gorontalo.

Dengan tren IPR yang menurun, FKPT berharap upaya pencegahan yang dilakukan secara kolaboratif dapat mempertahankan sekaligus menurunkan potensi radikalisme di Gorontalo, termasuk dengan memperkuat ketahanan masyarakat di ruang digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....