Mahasiswa KKN-T UNG Dorong Hilirisasi Jagung di Desa Huntu

  • 10 Sep 2026 13:03 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Kabupaten Gorontalo - Mahasiswa KKN Tematik Tahap II Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mendorong hilirisasi pangan lokal melalui pelatihan pengolahan jagung menjadi emping di Desa Huntu, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.

Pelatihan tersebut memanfaatkan potensi lahan pertanian jagung di Desa Huntu yang mencapai 86 hektare.

Kegiatan ditujukan kepada masyarakat dan kelompok tani agar komoditas jagung tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk pangan dengan nilai tambah dan nilai jual lebih tinggi.

Kepala Desa Huntu, Said Suudi, menyambut baik pelatihan yang dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus menyediakan camilan dengan harga terjangkau.

“Alhamdulillah dengan adanya sosialisasi pembuatan emping dari jagung ini, mudah-mudahan masyarakat Huntu bisa mengambil hikmahnya dan menjadi makanan untuk anak-anak mereka. Ini juga salah satu cara membangun ekonomi keluarga,” ujar Said saat diwawancarai Kamis 10 September 2026.

Pelatihan teknis dipandu pemateri olahan pangan, Ismet Tangahu, dari Desa Boludawa, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.

Ismet memperkenalkan penggunaan alat pemipih atau roller untuk mempercepat proses produksi. Peserta juga mendapat pemahaman mengenai Standar Operasional Prosedur, mulai dari perebusan, pengukusan, pengepresan hingga pengemasan secara higienis.

“Penggunaan peralatan pemipih ini sangat mempermudah dan mempercepat proses dibanding cara tradisional dulu yang memakai batu,” jelas Ismet.

Menurut Ismet, kualitas bahan baku dan ketepatan proses produksi turut menentukan daya simpan serta kerenyahan emping jagung. Ia berharap kelompok yang telah dilatih dapat konsisten mengembangkan usaha tersebut.

Sementara itu, Fitriani Poiyo, warga sekaligus keluarga petani Desa Huntu, menilai pengolahan jagung menjadi emping dapat memberikan keuntungan lebih bagi petani dibanding hanya menjual jagung pipilan.

“Jagung di desa sekarang bukan cuma untuk makanan pokok atau milu siram, tapi sudah bisa jadi camilan emping. Tentu keuntungannya lebih banyak untuk petani,” tutur Fitriani.

Ia menilai ketersediaan bahan baku menjadi salah satu kunci keberlanjutan produksi. Karena itu, petani dan kelompok usaha perlu menjaga stok jagung agar produksi tetap berjalan ketika terjadi fluktuasi harga.

Melalui pelatihan tersebut, mahasiswa KKN UNG berharap Kelompok Usaha Bersama Desa Huntu mampu memproduksi emping jagung secara mandiri, higienis, dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas jagung lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....