Harga Tomat Anjlok, Petani Gorontalo Terancam Merugi
- 30 Agt 2026 19:06 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Anjloknya harga tomat di Gorontalo dinilai semakin menekan pendapatan petani. Kondisi tersebut terjadi ketika produksi tomat meningkat, sementara permintaan pasar tidak mampu menyerap seluruh hasil panen.
Pemerhati Petani, Jamaluddin Hamid kepada RRI mengatakan, kondisi kemarau justru dapat mendorong produksi tomat meningkat apabila petani memiliki sistem pengairan yang memadai.
Menurutnya, berbeda dengan musim hujan yang membuat tanaman tomat rentan terserang penyakit, kondisi kemarau dengan ketersediaan air yang cukup memungkinkan produksi lebih stabil.
| Baca juga: DPD Tani Merdeka Pohuwato Resmi Dikukuhkan |
“Kalau kemarau begini produksinya kemungkinan besar bisa stabil dengan catatan sistem pengairan tersedia. Nah, ketika jumlah produksi tinggi, biasanya tidak sebanding dengan permintaan sehingga harganya anjlok,” ujar Jamaluddin, saat diwawancarai via telepon, Minggu 30 Agustus 2026.
Ia menyebut, kondisi tersebut sangat merugikan petani. Terlebih, harga yang diterima petani di tingkat produksi biasanya lebih rendah dibandingkan harga yang terlihat di pasar.
Selain mengalami kerugian secara ekonomi, anjloknya harga juga dinilai dapat menurunkan semangat petani untuk kembali melakukan budidaya tomat.
Jamaluddin menilai, persoalan tersebut perlu diantisipasi sejak sebelum masa tanam. Salah satunya melalui pemetaan wilayah produksi agar penanaman tomat tidak terkonsentrasi di wilayah tertentu dalam waktu yang sama.
“Misalnya apakah banyak petani yang menanam tomat, mestinya diarahkan ada pengelompokan atau pemetaan wilayah, sehingga tidak menumpuk produksinya seperti ini dan akhirnya merugikan petani,” katanya.
Ia juga mendorong adanya advokasi kepada petani terkait perencanaan tanam. Penyuluh pertanian dinilai memiliki peran penting dalam memetakan potensi produksi sekaligus mengarahkan petani memilih komoditas alternatif ketika produksi tomat diperkirakan berlebihan.
Selain mengatur pola tanam, menurut Jamaluddin, pemerintah perlu mendorong pengolahan tomat menjadi produk bernilai tambah. Tomat segar dapat diolah menjadi saus atau produk pangan lainnya sehingga petani tidak sepenuhnya bergantung pada harga komoditas segar di pasar.
Dukungan terhadap UMKM pengolahan hasil pertanian juga dinilai penting untuk menciptakan pasar alternatif bagi produksi tomat.
Jamaluddin turut mengusulkan penyediaan fasilitas penyimpanan sementara atau cold storage agar hasil panen tidak seluruhnya harus dijual dalam waktu bersamaan ketika produksi sedang tinggi.
Ia berharap pemerintah dapat memperkuat peran penyuluh dalam melakukan pemetaan produksi, mengatur pola tanam, serta menghubungkan petani dengan sektor pengolahan hasil pertanian.
Langkah tersebut dinilai penting agar peningkatan produksi tidak justru berubah menjadi kerugian bagi petani akibat harga yang jatuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....