Kalimantan dan Borneo, Dua Nama Satu Pulau
- 22 Agt 2026 18:12 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo - Satu pulau, tetapi dua nama yang sama-sama dikenal dunia. Dalam peta internasional, literatur ilmiah, hingga berbagai publikasi asing, pulau terbesar ketiga di dunia ini lebih sering disebut Borneo. Namun, bagi Indonesia, nama yang melekat kuat adalah Kalimantan.
Perbedaan tersebut bukan sekadar persoalan penyebutan atau terjemahan bahasa. Di balik dua nama itu tersimpan sejarah panjang tentang perjalanan masyarakat lokal, pengaruh kerajaan, kedatangan bangsa Eropa, hingga tumbuhnya kesadaran identitas kebangsaan Indonesia.
dilansir dari GNFI, Asal-usul nama Kalimantan hingga kini memiliki sejumlah versi. Salah satu teori mengaitkannya dengan bahasa Sanskerta, yakni Kalamanthana. Kata kala dimaknai sebagai musim atau waktu, sementara manthana diartikan sebagai membakar. Secara bebas, istilah tersebut kerap dimaknai sebagai wilayah dengan panas yang menyengat.
Penafsiran itu dianggap sesuai dengan kondisi geografis Kalimantan yang berada di kawasan tropis dan sebagian wilayahnya dilintasi garis khatulistiwa.
Versi lain dikemukakan oleh penjelajah Inggris, John Crawfurd, yang mengaitkan nama Kalimantan dengan klemantan, sejenis mangga lokal. Dari teori tersebut muncul pemaknaan Kalimantan sebagai “Pulau Mangga”.
Ada pula pendapat yang menghubungkan nama Kalimantan dengan gabungan unsur bahasa Jawa dan Dayak. Kata kali dalam bahasa Jawa berarti sungai, sedangkan mantan atau pamantan dalam bahasa Dayak Ngaju dikaitkan dengan makna besar. Jika mengikuti penafsiran ini, Kalimantan dapat dimaknai sebagai wilayah sungai-sungai besar.
Makna tersebut memang memiliki keterkaitan dengan kondisi geografis pulau ini. Kalimantan dikenal memiliki sejumlah sungai besar yang menjadi jalur kehidupan masyarakat sejak berabad-abad lalu, seperti Sungai Kapuas, Mahakam, Barito, hingga Kahayan.
Budayawan dan tokoh Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut, juga mencatat versi lain yang berakar dari tradisi lisan Dayak Ngaju atau Tetek Tatum. Dalam penjelasan tersebut terdapat istilah Bangawan Bawi Lewu Telo, yang kurang lebih dimaknai sebagai negeri tempat tiga putri.
Namun, berbagai teori tersebut belum menghasilkan satu kesimpulan tunggal yang sepenuhnya disepakati para ahli. Ahli bahasa dan sejarah Slamet Muljana, misalnya, memiliki pandangan berbeda mengenai asal-usul kata Kalimantan dan menilai istilah tersebut kemungkinan merupakan hasil penyerapan dari bahasa lain.
Meski memiliki beragam penafsiran, satu hal yang menarik adalah sebagian besar teori tentang Kalimantan lahir dari bahasa, tradisi, dan pengetahuan masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan kawasan tersebut.
Berbeda dengan Kalimantan, nama Borneo lebih kuat dikaitkan dengan perjalanan penjelajah Eropa di kawasan Asia Tenggara.
Pada awal abad ke-16, pelaut dan penjelajah Eropa tiba di kawasan utara pulau tersebut dan berhubungan dengan Kesultanan Brunei yang ketika itu menjadi salah satu kekuatan maritim penting di kawasan.
Nama Brunei kemudian digunakan oleh para pelaut Eropa untuk menyebut wilayah pulau yang lebih luas. Dalam perjalanan bahasa dan penulisan pada peta-peta Eropa, penyebutan Brunei mengalami perubahan hingga berkembang menjadi Borneo.
Nama itu kemudian semakin dikenal melalui peta navigasi, catatan perjalanan, serta literatur ilmiah Barat. Seiring waktu, Borneo menjadi istilah internasional yang digunakan untuk menyebut keseluruhan pulau.
Dengan demikian, Borneo bukan hanya nama geografis, tetapi juga menjadi jejak bagaimana pengetahuan dunia tentang sebuah wilayah dapat dibentuk oleh pelayaran, perdagangan, kekuasaan, dan proses penamaan oleh pihak luar.
Penggunaan nama Kalimantan semakin menguat pada masa pergerakan nasional Indonesia sekitar dekade 1920-an hingga 1930-an.
Sejumlah tokoh dan organisasi mulai menggunakan istilah Kalimantan sebagai bagian dari identitas politik dan kebangsaan. Pada 1930, A.A. Hamidhan mendirikan surat kabar Soeara Kalimantan di Banjarmasin. Sebelumnya, istilah Borneo lebih banyak digunakan dalam berbagai publikasi kolonial.
Perubahan penggunaan nama juga terjadi di sejumlah organisasi dan lembaga. Nama Kalimantan mulai tampil sebagai simbol identitas masyarakat yang ingin membangun kesadaran berbeda dari penamaan yang diwariskan oleh kekuasaan kolonial.
Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, nama tersebut semakin kuat digunakan dalam berbagai struktur perjuangan, termasuk satuan-satuan yang membawa identitas Kalimantan.
Momentum penting terjadi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Pada 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan pembagian awal wilayah Republik Indonesia menjadi delapan provinsi. Salah satunya adalah Provinsi Kalimantan dengan Pangeran Mohammad Noor sebagai gubernur pertama.
Sejak saat itu, Kalimantan memperoleh kedudukan resmi dalam administrasi negara Indonesia dan menjadi bagian dari identitas nasional.
Saat ini, penggunaan kedua nama tersebut memiliki konteks yang berbeda.
Borneo lazim digunakan untuk menyebut keseluruhan pulau secara geografis. Pulau ini terbagi ke dalam wilayah tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Sementara itu, Kalimantan dalam penggunaan resmi Indonesia merujuk pada bagian pulau yang berada dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kawasan tersebut kini terbagi menjadi lima provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Wilayah Indonesia mencakup sebagian besar daratan Pulau Borneo, atau sekitar 73 persen dari keseluruhan luas pulau.
Dengan kata lain, setiap Kalimantan berada di Pulau Borneo, tetapi Borneo tidak hanya terdiri atas wilayah Kalimantan Indonesia.
Perdebatan mengenai nama dan sejarah mungkin terasa jauh dari persoalan sehari-hari. Namun, pulau yang dikenal dengan dua nama itu kini menghadapi tantangan lingkungan yang tidak kalah penting.
Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah Kalimantan kembali menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Titik-titik panas bermunculan di beberapa provinsi, terutama di wilayah yang memiliki bentang gambut luas.
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi kawasan yang kerap mendapat perhatian karena karakter lahannya yang rentan terbakar saat musim kering. Kebakaran gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan sepenuhnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan Kalimantan hari ini bukan hanya mengenai bagaimana wilayah tersebut dinamai, tetapi juga bagaimana masa depannya dijaga.
Pulau yang selama berabad-abad dikenal dengan nama Borneo dalam peta dunia dan Kalimantan dalam perjalanan identitas Indonesia, memiliki kekayaan alam yang sangat besar. Hutan hujan tropis, sungai, lahan gambut, serta keanekaragaman hayati menjadi bagian penting dari kawasan ini.
Karena itu, menjaga Kalimantan berarti lebih dari sekadar mempertahankan sebuah nama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....