Pasca PENAS KTNA, Komisi II Deprov Dorong Hilirisasi Pertanian Berbasis Daerah

  • 25 Jun 2026 10:15 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 dinilai telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Provinsi Gorontalo. Namun, tantangan terbesar yang harus dihadapi daerah bukan lagi saat kegiatan berlangsung, melainkan bagaimana menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tersebut setelah PENAS berakhir.

Hal itu disampaikan Koordinator Komisi II DPRD Provinsi Gorontalo, Ridwan Monoarfa, kepada RRI dalam wawancara melalui sambungan telepon, pada Kamis 25 Juni 2026.

Menurut Ridwan, penyelenggaraan PENAS telah menghadirkan manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh berbagai sektor, mulai dari pelaku UMKM, perhotelan, transportasi hingga destinasi wisata.

“PENAS ini memberikan kesan yang baik bagi para tamu dari berbagai daerah. Mereka merasakan keramahan masyarakat Gorontalo. Di sisi lain, puluhan miliar rupiah berputar di masyarakat melalui aktivitas UMKM, hotel, transportasi dan sektor wisata,” ujarnya.

Meski demikian, Ridwan menegaskan bahwa keberhasilan PENAS tidak boleh berhenti pada ramainya kunjungan peserta dan meningkatnya aktivitas ekonomi selama kegiatan berlangsung.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu menyusun langkah lanjutan yang terarah melalui kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam membangun sektor pertanian berbasis keunggulan masing-masing daerah.

Ia mencontohkan Kabupaten Gorontalo dapat difokuskan sebagai pusat hilirisasi kelapa, sementara Kabupaten Boalemo dan Pohuwato didorong menjadi kawasan pengembangan kakao. Adapun Gorontalo Utara dapat mengembangkan sektor rumput laut sebagai komoditas unggulan daerah.

“Harus ada orkestrasi yang dipimpin gubernur agar setiap daerah memiliki fokus pengembangan komoditas unggulan. Dengan begitu hilirisasi pertanian dapat berjalan lebih efektif dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya.

Ridwan menilai diperlukan kesepakatan bersama antara gubernur, para bupati, dan wali kota untuk merancang arah pembangunan pertanian Gorontalo pasca PENAS.

Menurutnya, momentum PENAS harus menjadi titik awal lahirnya desain pembangunan pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga dampak ekonomi yang tercipta tidak hanya dirasakan sesaat.

“PENAS tidak boleh berhenti sebagai seremoni atau sekadar ramainya orang datang ke Gorontalo. Yang paling penting adalah tindak lanjut setelah PENAS melalui kolaborasi dan konsensus pembangunan pertanian di seluruh daerah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....