BI Sulampua Berkolaborasi Dorong Penguatan Rantai Nilai Jagung

  • 11 Feb 2026 16:10 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) merupakan wilayah produsen jagung terbesar ke tiga secara nasional setelah Jawa dan Sumatera. Pangsa produksinya sekitar 13,9 persen dari total produksi nasional, dengan kontributor terbesar di Provinsi Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Meski begitu, rantai nilai jagung di Sulampua masih dihadapkan pada sejumlah isu dan kendala di berbagai pelaku, mulai dari petani, pengepul, hingga pemasok/pedagang besar dan pengguna akhir.

Di tingkat petani, tantangan yang dihadapi meliputi keterbatasan lahan, risiko iklim, kualitas produksi, hingga kebutuhan modal. Sementara itu, pengepul dan industri menghadapi permasalahan ketidakstabilan pasokan dan kualitas bahan baku yang berdampak pada efisiensi operasional.

Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan BI Provinsi Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara melaksanakan diseminasi riset berjudul “Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Sulampua” pada Selasa, 10 Februari 2026. Kegiatan ini dihadiri Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, pelaku usaha jagung, serta akademisi sebagai peserta.

Riset ini menegaskan bahwa rantai nilai jagung di Sulampua berperan strategis dalam mendukung program swasembada pangan, terutama karena menjadi komponen utama pakan unggas (ayam petelur dan pedaging). Sebagai rekomendasi, riset ini mengidentifikasi lima prioritas strategi untuk mengoptimalkan rantai nilai jagung di Sulampua melalui penguatan integrasi hulu–hilir guna meningkatkan produktivitas dan kualitas.

Pertama, peningkatan kualitas jagung untuk meningkatkan harga jual di tingkat petani melalui pembangunan infrastruktur pascapanen terintegrasi seperti dryer komunal dan gudang komunal. Kedua, penguatan peran kelompok tani dan gapoktan sebagai aggregator untuk mengkonsolidasi pasokan dan memperkuat bargaining power petani. Ketiga, peningkatan produktivitas melalui adopsi benih hibrida dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Keempat, penguatan kemitraan berbasis kontrak kualitas antara petani, pengepul, dan industri pakan disertai sistem insentif, untuk menjamin ketersediaan pasokan dan mendorong peningkatan kualitas pascapanen. Terakhir, peningkatan literasi dan kapasitas teknologi pertanian melalui program sekolah lapang jagung, termasuk pembentukan klinik-klinik agribisnis.

Melalui diseminasi ini, BI mendorong penguatan rantai nilai jagung Sulampua yang terarah pada peningkatan produktivitas (pasokan) dan kualitas, melalui lima prioritas strategi rantai nilai. Hasil kajian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan program konkret guna memperkuat pasokan jagung nasional dan mendukung swasembada pangan.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....