Tradisi Membangunkan Sahur yang Menghidupkan Ramadan

  • 28 Feb 2026 20:22 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO..ID GORONTALO - Setiap bulan Ramadan, suasana dini hari di berbagai daerah di Indonesia berubah menjadi lebih hidup. Di saat sebagian orang masih terlelap, sekelompok warga berkeliling kampung untuk membangunkan sahur. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas, tetapi warisan budaya yang mempererat kebersamaan dan menghidupkan nuansa Ramadan.

Di banyak daerah seperti Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, tradisi membangunkan sahur memiliki ciri khas tersendiri. Ada yang menggunakan kentongan bambu, beduk, hingga pengeras suara sederhana. Anak-anak dan remaja biasanya menjadi pelopor kegiatan ini, berjalan kaki menyusuri gang-gang sambil melantunkan salawat, lagu-lagu religi, atau teriakan khas seperti “Sahur… sahur…!”

Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum teknologi seperti alarm dan ponsel menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dahulu, membangunkan sahur menjadi bentuk kepedulian sosial agar tidak ada warga yang terlewat menjalankan makan sahur, yang merupakan sunnah penting sebelum berpuasa. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga.

Menariknya, setiap daerah memiliki kreativitas masing-masing. Ada yang mengiringinya dengan tabuhan rebana, ada pula yang membuat arak-arakan kecil dengan kostum unik. Di beberapa tempat, lomba membangunkan sahur bahkan diadakan untuk menambah semarak Ramadan. Tradisi ini bukan hanya membangunkan fisik, tetapi juga membangunkan semangat kebersamaan dan kegembiraan menyambut ibadah puasa.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini menghadapi tantangan. Penggunaan pengeras suara yang berlebihan terkadang menimbulkan keluhan. Karena itu, banyak masyarakat kini berupaya menjaga keseimbangan antara melestarikan tradisi dan menghormati kenyamanan bersama.

Pada akhirnya, membangunkan sahur bukan sekadar membangunkan orang dari tidur. Ia adalah simbol gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan yang menjadi ruh Ramadan. Selama nilai-nilai tersebut tetap dijaga, tradisi ini akan terus hidup dan menjadi bagian indah dari cerita Ramadan di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....