Nasi Ayam Semarang, Kuliner Legendaris yang Punya Cerita
- 20 Sep 2026 09:29 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID , Goorntalo - Semarang tidak hanya dikenal dengan lumpianya. Kota yang berada di pesisir utara Jawa Tengah ini juga memiliki kuliner khas yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, salah satunya adalah nasi ayam Semarang.
Hidangan ini cukup mudah ditemui, terutama pada pagi hari sebagai menu sarapan maupun malam hari sebagai pilihan kuliner bagi warga dan wisatawan.
Namun, menikmati nasi ayam Semarang bukan hanya soal menyantap makanan dengan cita rasa khas. Di balik sepiring nasi ayam, terdapat cerita mengenai kehidupan masyarakat dan perjalanan kuliner yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Nasi ayam Semarang mulai dikenal luas sejak sekitar tahun 1960-an. Salah satu kisah mengenai asal-usulnya menyebutkan, makanan ini berkembang di kawasan Kampung Koja, Semarang.
| Baca juga: Resep Sambal Goreng Hati Kentang |
Pada masa awal kemunculannya, nasi ayam tidak langsung dijual di warung seperti sekarang. Para pedagang berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya dengan membawa dagangan menggunakan pikulan atau menggendongnya.
Salah satu nama yang dikaitkan dengan tradisi tersebut adalah Satinem, pedagang nasi ayam di kawasan Kampung Koja. Dari kawasan inilah nasi ayam kemudian dikenal dan berkembang menjadi salah satu makanan khas Semarang.
Sekilas, nasi ayam Semarang memang mengingatkan kita pada sejumlah hidangan khas Jawa lainnya. Ada nasi, ayam, telur, sayuran, serta berbagai lauk pendamping.
Tetapi ketika dicicipi, karakter rasanya cukup berbeda.
Kalau nasi liwet Solo identik dengan kuah areh yang gurih dan kental, nasi ayam Semarang justru menggunakan kuah opor kuning yang lebih ringan. Kuah inilah yang kemudian disiramkan ke nasi bersama lauk dan pelengkap lainnya.
Ciri khas lainnya adalah sambal goreng jipang. Jipang merupakan sebutan masyarakat setempat untuk labu siam. Sayuran ini biasanya diiris tipis dan dimasak dengan bumbu bercita rasa pedas sekaligus manis.
Perpaduan kuah opor, sambal goreng jipang, dan berbagai lauk membuat nasi ayam Semarang memiliki rasa yang gurih, manis, dan pedas dalam satu piring.
Untuk lauknya, nasi ayam dapat dilengkapi dengan ayam suwir, telur, krecek, tahu atau tempe bacem, hingga berbagai jenis sate.
Meski sama-sama menggunakan sejumlah unsur masakan Jawa, nasi ayam Semarang bukanlah gudeg. Nangka muda yang menjadi ciri khas gudeg tidak menjadi bagian utama dari hidangan ini. Justru sambal goreng jipang menjadi salah satu elemen yang memberikan identitas tersendiri.
Kini, nasi ayam Semarang bukan sekadar makanan untuk mengganjal perut. Hidangan tersebut menjadi bagian dari warisan kuliner yang terus bertahan dan berkembang mengikuti zaman.
Dari dagangan yang dahulu dibawa berkeliling kampung, nasi ayam kini dapat ditemukan dengan mudah di berbagai sudut Kota Semarang.
Bagi masyarakat setempat maupun wisatawan, sepiring nasi ayam akhirnya bukan hanya menawarkan rasa, tetapi juga menghadirkan cerita tentang kehidupan masyarakat Semarang dan perjalanan sebuah kuliner yang telah bertahan selama lebih dari setengah abad.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....