Bubur Beureum Warisan Kuliner Sunda Sarat Nilai Filosofi
- 04 Agt 2026 11:30 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Indonesia memiliki beragam kuliner tradisional yang tidak hanya menawarkan cita rasa khas, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah bubur beureum, hidangan tradisional masyarakat Sunda yang hingga kini masih dijumpai di berbagai wilayah Jawa Barat.
Bubur beureum, yang juga dikenal sebagai bubur bodas atau bubur merah putih, merupakan sajian yang memadukan bubur merah dan bubur putih dalam satu wadah. Di balik tampilannya yang sederhana, makanan ini memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Sunda, terutama dalam berbagai upacara adat.
Mengutip Ensiklopedi Makanan Tradisional (di Pulau Jawa dan Pulau Madura), bubur beureum dibuat menggunakan bahan utama beras, yang sejak lama menjadi hasil pertanian utama masyarakat Jawa Barat. Beras kemudian diolah bersama santan, gula merah, garam, dan bahan pelengkap lainnya sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih yang khas.
Lebih dari sekadar hidangan, bubur beureum menjadi bagian penting dalam berbagai prosesi adat. Makanan ini lazim disajikan pada upacara kelahiran, seperti puput puser, peringatan empat puluh hari bayi, hingga pemberian nama. Kehadirannya menjadi simbol rasa syukur keluarga atas kelahiran seorang anak.
Dalam tradisi tersebut, bubur putih melambangkan kesucian dan kebersihan hati bayi yang baru lahir. Sementara bubur merah menggambarkan berbagai tantangan dan perjalanan hidup yang kelak akan dihadapi. Perpaduan kedua warna tersebut mencerminkan keseimbangan antara harapan, doa, dan kenyataan hidup yang akan dijalani setiap manusia.
Tidak hanya dalam tradisi kelahiran, bubur beureum juga hadir dalam berbagai ritual yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat agraris Sunda, seperti upacara panen, tradisi pertanian, hingga prosesi mendirikan rumah.
Pada upacara panen, bubur beureum menjadi ungkapan syukur atas hasil bumi yang diperoleh sekaligus doa agar musim tanam berikutnya membawa hasil yang lebih baik. Sementara dalam prosesi pembangunan rumah, hidangan ini melambangkan harapan agar penghuni rumah senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, dan terhindar dari segala bentuk marabahaya.
Keberadaan bubur beureum membuktikan bahwa makanan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai santapan, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai-nilai budaya, spiritual, dan kebersamaan. Filosofi yang terkandung di dalamnya menjadi warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Sunda sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal yang patut dilestarikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....