Warisan Kuliner Dunia Resmi Diakui UNESCO Sebagai Budaya
- 09 Mei 2026 10:02 WIB
- Gorontalo
UNESCO kembali menegaskan pentingnya makanan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat dunia. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu menyatakan bahwa kuliner bukan hanya sekadar kebutuhan hidup atau pelengkap aktivitas sehari-hari, melainkan warisan budaya yang menyimpan sejarah panjang, nilai sosial, tradisi, hingga filosofi kehidupan suatu komunitas.
Melalui daftar Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, UNESCO telah memasukkan berbagai tradisi kuliner dari sejumlah negara sebagai warisan budaya takbenda dunia. Pengakuan tersebut diberikan bukan semata-mata pada jenis makanannya, melainkan pada praktik budaya, keterampilan, pengetahuan tradisional, hingga kebiasaan sosial yang menyertai proses pembuatan dan penyajiannya.
Dalam publikasi resminya, UNESCO menjelaskan bahwa tradisi kuliner memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat, mempererat hubungan sosial, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan dari generasi ke generasi. Tradisi memasak, makan bersama keluarga, hingga cara mengolah bahan pangan lokal dianggap sebagai bagian dari warisan hidup yang harus dijaga keberlangsungannya.
Salah satu tradisi kuliner yang mendapat pengakuan dunia adalah Belgian Beer dari Belgia. Bagi masyarakat Belgia, bir bukan hanya minuman biasa, tetapi bagian penting dari budaya dan kehidupan sosial mereka. Seni pembuatan bir di negara tersebut telah berkembang selama ratusan tahun dan melahirkan beragam jenis serta teknik fermentasi tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Budaya minum bir di Belgia juga erat kaitannya dengan tradisi lokal, festival masyarakat, hingga kehidupan sosial di berbagai daerah. UNESCO menilai keterampilan para pembuat bir serta keberagaman tradisi yang menyertainya merupakan bentuk kekayaan budaya yang layak dilestarikan.
Dari kawasan Afrika Utara, UNESCO turut mengakui Couscous sebagai warisan budaya dunia. Couscous merupakan makanan berbahan dasar semolina yang dikukus dan menjadi makanan pokok di sejumlah negara Maghreb seperti Maroko, Aljazair, Libya, dan Mauritania.
Tradisi penyajian couscous biasanya dilakukan dalam acara keluarga, perayaan adat, hingga kegiatan sosial masyarakat. Makanan ini melambangkan kebersamaan karena umumnya disantap bersama dalam satu wadah besar. Proses pembuatannya pun melibatkan keterampilan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, Korea dikenal melalui tradisi Kimchi dan praktik kimjang yang telah diakui UNESCO. Kimjang merupakan kegiatan membuat kimchi secara bersama-sama untuk persediaan makanan selama musim dingin.
Tradisi tersebut bukan hanya aktivitas memasak, tetapi juga momen sosial yang mempererat hubungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses kimjang, warga saling membantu menyiapkan bahan, membumbui sayuran, hingga menyimpan kimchi dalam jumlah besar. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial menjadi alasan utama UNESCO memberikan pengakuan terhadap budaya ini.
Uniknya, praktik budaya kimchi mendapat pengakuan UNESCO baik di Korea Selatan maupun Korea Utara. Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi kuliner mampu menjadi jembatan budaya yang melampaui batas politik dan wilayah.
Dari kawasan Asia Barat dan Kaukasus, UNESCO memasukkan Lavash ke dalam daftar warisan budaya takbenda. Lavash merupakan roti pipih tradisional yang dibuat menggunakan oven tanah liat dengan teknik khusus yang diwariskan turun-temurun.
Di sejumlah negara seperti Armenia, Iran, Azerbaijan, dan Turki, lavash bukan sekadar makanan, tetapi bagian penting dalam upacara adat, tradisi keluarga, hingga simbol keramahan masyarakat. Pembuatan lavash umumnya dilakukan secara bersama-sama oleh anggota keluarga atau komunitas.
Italia juga memperoleh pengakuan dunia melalui seni pembuatan Neapolitan Pizza. UNESCO menilai bahwa pembuatan pizza khas Napoli bukan hanya keterampilan memasak biasa, tetapi bagian dari tradisi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Mulai dari teknik mengolah adonan, memutar pizza dengan tangan, penggunaan bahan sederhana berkualitas, hingga proses pemanggangan menggunakan oven kayu menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut. Para pembuat pizza di Napoli bahkan memiliki metode dan filosofi tersendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di kawasan Afrika Sub-Sahara, UNESCO mengakui Nsima sebagai bagian penting dari budaya pangan masyarakat Afrika. Nsima merupakan bubur tepung jagung yang menjadi makanan pokok di berbagai negara Afrika.
Makanan ini memiliki makna sosial yang kuat karena selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, baik dalam acara keluarga maupun kegiatan adat. Tradisi memasak dan menyantap nsima mencerminkan hubungan erat masyarakat dengan sumber pangan lokal mereka.
Prancis turut masuk dalam daftar UNESCO melalui tradisi The Gastronomic Meal of the French. Pengakuan ini diberikan bukan pada satu jenis makanan tertentu, melainkan budaya makan masyarakat Prancis secara keseluruhan.
Tradisi gastronomi Prancis dikenal menekankan tata cara makan, etika meja, pemilihan hidangan, perpaduan rasa, hingga pentingnya kebersamaan saat makan bersama keluarga dan teman. UNESCO menilai budaya makan tersebut mencerminkan seni hidup masyarakat Prancis yang diwariskan lintas generasi.
Sementara itu, Jepang dikenal lewat budaya makan Washoku yang menonjolkan keseimbangan gizi, penggunaan bahan alami, serta penghormatan terhadap musim dan alam.
Washoku mencerminkan filosofi masyarakat Jepang yang menjunjung harmoni antara manusia dan lingkungan. Dalam budaya ini, makanan disajikan dengan memperhatikan warna, bentuk, keseimbangan rasa, hingga estetika penyajian. Tradisi tersebut juga memperlihatkan penghargaan tinggi masyarakat Jepang terhadap hasil alam dan perubahan musim.
Menurut UNESCO, yang diakui dalam daftar warisan budaya takbenda bukanlah produk makanannya semata, melainkan seluruh praktik budaya yang menyertainya. Mulai dari cara memperoleh bahan, proses memasak, teknik penyajian, hingga tradisi makan bersama dianggap memiliki nilai penting dalam menjaga identitas budaya suatu komunitas.
UNESCO menilai tradisi kuliner mampu memperkuat hubungan sosial karena makanan sering kali menjadi media berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat ikatan antaranggota masyarakat. Selain itu, warisan kuliner juga dinilai memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata dan industri kreatif.
Pengakuan internasional tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa modernisasi dan perkembangan zaman tidak boleh menghilangkan tradisi kuliner lokal yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Di berbagai negara, banyak tradisi memasak tradisional mulai terancam hilang akibat perubahan gaya hidup dan dominasi makanan cepat saji.
Karena itu, UNESCO mendorong setiap negara untuk terus menjaga, mendokumentasikan, dan mewariskan tradisi kuliner kepada generasi muda agar tidak punah di masa depan. Kuliner dinilai bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menyimpan identitas, sejarah, nilai kebersamaan, dan karakter budaya suatu bangsa.
Melalui pengakuan tersebut, UNESCO ingin menegaskan bahwa makanan merupakan bahasa universal yang mampu menghubungkan manusia dari berbagai latar budaya. Dari meja makan sederhana hingga tradisi memasak turun-temurun, kuliner telah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....