Studi: Duduk Lama tanpa Jeda Tingkatkan Risiko Kanker
- 08 Sep 2026 11:54 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Duduk lebih dari 30 menit tanpa jeda berkaitan dengan peningkatan risiko kanker.
- Aktivitas ringan seperti berjalan dapat membantu mengurangi dampak duduk terlalu lama.
- Memecah waktu duduk menjadi kebiasaan sehat untuk mendukung kesehatan jangka panjang.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Duduk terlalu lama tanpa jeda dapat meningkatkan risiko kanker dan kematian akibat kanker. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa memecah waktu duduk dengan aktivitas ringan dapat membantu mengurangi dampak buruk perilaku kurang gerak.
Studi yang diterbitkan dalam PLOS Medicine menemukan bahwa bukan hanya total waktu duduk dalam sehari yang perlu diperhatikan. Pola seseorang dalam mengakumulasi waktu duduk juga berhubungan dengan kondisi kesehatan jangka panjang.
Penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 91.000 orang yang mengikuti UK Biobank. Para peserta memiliki usia rata-rata 56 tahun dan tidak memiliki riwayat kanker ketika penelitian dimulai.
Dalam penelitian tersebut, peserta menggunakan alat pemantau aktivitas berbasis akselerometer selama tujuh hari berturut-turut. Perangkat tersebut mencatat tingkat pergerakan peserta, termasuk perilaku tidak aktif dan aktivitas fisik ringan hingga berat.
Selama masa tindak lanjut sekitar 12 tahun, peneliti menemukan bahwa perilaku kurang gerak secara keseluruhan berkaitan dengan hasil kesehatan yang lebih buruk. Kondisi tersebut mencakup peningkatan risiko terkena kanker dan meninggal akibat kanker.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tambahan satu jam duduk berkepanjangan dalam sehari berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker sebesar 9 persen. Risiko kejadian kanker secara keseluruhan juga meningkat sebesar 3 persen.
Dilansir dari ScienceAlert, penelitian ini menunjukkan bahwa bahaya duduk lama tidak hanya ditentukan oleh jumlah waktu seseorang duduk, tetapi juga bagaimana waktu tersebut terkumpul sepanjang hari. Duduk dalam periode panjang tanpa gangguan dinilai memiliki dampak kesehatan yang lebih buruk dibandingkan duduk yang sering diselingi aktivitas.
Peneliti membedakan dua pola perilaku sedentari, yaitu duduk berkepanjangan dan duduk terputus-putus. Duduk berkepanjangan merupakan periode duduk selama 30 menit atau lebih, sedangkan duduk terputus terjadi ketika seseorang sering melakukan aktivitas di sela waktu duduk.
Sebaliknya, pola duduk yang sering diselingi aktivitas menunjukkan dampak kesehatan yang lebih baik. Setiap satu jam pemecahan waktu duduk berkaitan dengan penurunan risiko kematian akibat kanker sebesar 18 persen dan penurunan kejadian kanker secara keseluruhan sebesar 6 persen.
Ahli epidemiologi dan penulis senior penelitian, Frederick Ho dari Universitas Glasgow, mengatakan bahwa duduk lebih dari 30 menit secara terus menerus memiliki hubungan dengan risiko kanker yang lebih tinggi.
"Kabar baiknya, menyelingi waktu duduk Anda dengan sesuatu yang sederhana seperti jalan kaki singkat dapat memberikan perlindungan," kata Frederick Ho.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa mengganti satu jam perilaku duduk berkepanjangan dengan aktivitas fisik ringan berkaitan dengan penurunan risiko kematian akibat kanker sebesar 12 persen. Aktivitas fisik ringan dinilai tetap memiliki manfaat dalam menjaga kesehatan.
Meski demikian, para peneliti menjelaskan bahwa penelitian ini bersifat observasional. Temuan tersebut menunjukkan hubungan antara perilaku kurang gerak dan risiko kanker, tetapi belum membuktikan bahwa perubahan perilaku secara langsung dapat menurunkan risiko kanker seseorang.
Para peneliti menyebutkan bahwa aktivitas ringan dalam jumlah kecil tetap memberikan manfaat bagi kesehatan. Masyarakat disarankan untuk tidak membiarkan waktu duduk berlangsung terlalu lama tanpa jeda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....