Misteri Bisikan dan Kesehatan Jiwa
- 27 Jul 2026 13:30 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo -Fenomena mendengar bisikan gaib kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis atau spiritual. Namun, dari sudut pandang kesehatan mental dan medis, pengalaman tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah sebagai kondisi yang dikenal dengan istilah halusinasi auditori, yakni seseorang mendengar suara, musik, atau bisikan tanpa adanya sumber suara yang nyata.
Dilansir dari sariasih.id, Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RS IMC Bintaro (RS Sari Asih Group), dr. Nina Masdiani, Sp.KJ, menjelaskan bahwa halusinasi auditori dapat dialami seseorang karena berbagai faktor, mulai dari gangguan psikologis, kondisi neurologis, hingga pengaruh lingkungan dan kelelahan.
Menurut dr. Nina, salah satu penyebab yang paling sering dikaitkan dengan halusinasi auditori adalah gangguan psikotik, seperti skizofrenia. Pada kondisi ini, penderita dapat mendengar suara yang memerintah, mengkritik, atau sekadar berbicara tanpa ada sumber suara yang sebenarnya.
Selain itu, stres berat atau trauma psikologis akibat kehilangan orang terdekat, kecelakaan, maupun kekerasan juga dapat memicu otak menciptakan persepsi suara sebagai respons terhadap emosi yang kompleks. Kurang tidur dalam waktu lama atau kelelahan ekstrem juga berpotensi menyebabkan gangguan persepsi sehingga seseorang mendengar suara yang sebenarnya tidak ada.
Halusinasi auditori juga dapat muncul sebagai efek samping penggunaan obat-obatan tertentu, termasuk antidepresan, narkotika, maupun zat psikoaktif lainnya. Sementara dari sisi neurologis, kondisi seperti epilepsi, tumor otak, atau gangguan pendengaran seperti tinnitus dapat memunculkan sensasi mendengar suara yang tidak biasa.
Pada beberapa kasus, depresi berat juga dapat disertai halusinasi pendengaran yang berisi bisikan atau suara bernada negatif, sesuai dengan kondisi emosional yang sedang dialami seseorang.
Meski demikian, dr. Nina menegaskan bahwa mendengar bisikan tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan jiwa. Namun, apabila pengalaman tersebut terjadi berulang kali, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai gejala lain seperti perubahan perilaku dan kesulitan membedakan kenyataan, maka kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian medis.
Beberapa gangguan kesehatan mental yang dapat disertai halusinasi auditori antara lain skizofrenia, gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan bipolar pada fase tertentu, hingga penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA).
Apabila seseorang mengalami atau melihat orang di sekitarnya mengalami bisikan yang mengganggu, langkah pertama yang disarankan adalah mengevaluasi kondisi fisik dan lingkungan, seperti memastikan kebutuhan tidur terpenuhi, mengurangi stres, serta menghindari kelelahan berlebihan. Jika keluhan terus berlanjut, konsultasi dengan psikolog atau psikiater sangat dianjurkan untuk memperoleh diagnosis dan penanganan yang tepat.
Penanganan dapat dilakukan melalui terapi farmakologi, seperti pemberian obat antipsikotik atau antidepresan sesuai indikasi medis, serta terapi nonfarmakologi seperti psikoterapi suportif dan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy atau CBT).
Dr. Nina juga mengingatkan pentingnya menghilangkan stigma terhadap individu yang mengalami halusinasi. Menurutnya, mendengar suara bukan berarti seseorang lemah secara mental ataupun memiliki hal-hal mistis, melainkan dapat menjadi gejala dari kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan profesional.
"Fenomena bisikan gaib merupakan pengalaman yang kompleks dan dapat dijelaskan dari berbagai perspektif, terutama kesehatan mental dan medis. Pendekatan ilmiah dapat membantu mengatasi kondisi ini secara efektif sehingga individu dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif," ujar dr. Nina Masdiani, Sp.KJ.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....