Fenomena Duck Syndrome Banyak Terjadi pada Anak Muda

  • 28 Mei 2026 15:10 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo : Fenomena Duck Syndrome atau sindrom bebek belakangan semakin sering dibicarakan, terutama di kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda yang hidup di tengah tuntutan kompetisi dan tekanan sosial. Istilah ini pertama kali populer di lingkungan Stanford University untuk menggambarkan kondisi seseorang yang terlihat tenang, sukses, dan baik-baik saja di luar, padahal sebenarnya sedang berjuang keras menahan tekanan emosional di dalam dirinya.

Istilah tersebut diibaratkan seperti seekor bebek yang tampak mengapung santai di atas permukaan air. Namun di balik ketenangan itu, kakinya terus bergerak cepat di bawah air agar tetap bisa bertahan dan tidak tenggelam. Gambaran inilah yang dianggap mewakili banyak orang saat ini, khususnya mereka yang berusaha terlihat sempurna di depan publik.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Mayapada Hospital, dr. Elli Misnawati, Sp.KJ menjelaskan bahwa Duck Syndrome merupakan kondisi psikologis ketika seseorang menyembunyikan rasa lelah, cemas, dan tekanan hidup di balik penampilan yang tampak santai dan penuh pencapaian.

Menurut dr. Elli, orang yang mengalami kondisi ini biasanya terlihat tidak memiliki masalah. Mereka tampak produktif, aktif, memiliki prestasi akademik atau karier yang baik, bahkan terlihat menjalani kehidupan yang sempurna. Namun kenyataannya, mereka sedang berusaha keras memenuhi ekspektasi lingkungan maupun tuntutan terhadap diri sendiri.

Beberapa tanda Duck Syndrome sebenarnya dapat dikenali sejak dini. Salah satunya adalah munculnya sikap terlalu kompetitif. Seseorang akan selalu merasa harus lebih unggul dibanding orang lain dan berusaha menjaga citra diri agar terlihat berhasil di mata publik. Keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan validasi sosial pun menjadi semakin besar.

Selain itu, penderita Duck Syndrome juga sering mengalami kelelahan emosional dan mental yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini muncul karena mereka terus memaksakan diri untuk memenuhi target, menjaga reputasi, atau mempertahankan standar kesuksesan tertentu.

Gejala lainnya adalah rasa cemas yang berlebihan. Perasaan khawatir, sedih, hingga tidak percaya diri sering muncul, terutama ketika melihat pencapaian orang lain di media sosial maupun lingkungan sekitar. Tidak sedikit yang kemudian mulai membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih bahagia dan lebih sukses.

Dalam banyak kasus, tekanan tersebut akhirnya membuat seseorang merasa kesepian meski terlihat baik-baik saja di luar. Mereka memilih memendam masalah sendiri karena takut dianggap lemah atau gagal.

Fenomena Duck Syndrome menjadi pengingat bahwa tidak semua senyum menandakan seseorang benar-benar bahagia. Di era media sosial saat ini, banyak orang berusaha menampilkan sisi terbaik hidupnya, sementara perjuangan dan rasa lelah justru disembunyikan.

Karena itu, penting bagi setiap orang untuk memahami bahwa merasa lelah, sedih, atau tidak baik-baik saja adalah hal yang manusiawi. Memberi waktu untuk beristirahat, mengurangi tekanan dari media sosial, serta berbicara dengan orang terpercaya dapat membantu menjaga kesehatan mental agar tetap stabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....