Temuan Kasus TBC di Gorontalo Meningkat, Masyarakat Diminta Waspadai Gejalanya

  • 13 Jun 2026 09:42 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Masyarakat diimbau lebih waspada terhadap gejala tuberkulosis (TBC) dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan. Imbauan tersebut disampaikan Dokter Spesialis Paru, dr. Rahman Bahmid, di tengah upaya pemerintah meningkatkan penemuan kasus TBC di Provinsi Gorontalo.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, hingga Mei 2026 capaian penemuan kasus TBC baru mencapai 26,84 persen dari target yang ditetapkan sepanjang tahun ini.

Menurut dr. Rahman, gejala paling umum TBC adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan tidak kunjung sembuh. Kondisi tersebut sering kali disertai dahak bercampur darah, demam berkepanjangan, penurunan berat badan, hingga berkurangnya nafsu makan.

“Gejala yang paling umum adalah batuk lebih dari dua minggu. Biasanya disertai dahak bercampur darah, demam yang berlangsung lama, berat badan menurun, dan nafsu makan berkurang,” ujarnya kepada RRI, Jumat 12 Juni 2026.

Ia menjelaskan, demam pada penderita TBC umumnya tidak terlalu tinggi, namun berlangsung dalam waktu lama dan sering hilang timbul meski telah mengonsumsi obat penurun panas.

Rahman menuturkan, sebagian besar pasien justru datang berobat ketika kondisi penyakit sudah cukup berat. Padahal, penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

“Banyak pasien datang ketika sudah terjadi batuk darah atau sesak napas. Biasanya sebelumnya sudah ada anjuran untuk memeriksakan dahak atau melakukan foto rontgen, tetapi tidak segera dilakukan,” katanya.

Menurutnya, sesak napas pada penderita TBC dapat menjadi tanda adanya komplikasi lain yang menyertai penyakit tersebut.

Selain berdampak pada kesehatan penderitanya, TBC juga merupakan penyakit menular yang penyebarannya cukup tinggi, terutama pada orang yang tinggal serumah dengan pasien.

Rahman menjelaskan, penderita TBC aktif dengan hasil pemeriksaan dahak positif memiliki tingkat penularan yang tinggi. Saat batuk, penderita dapat melepaskan ribuan partikel bakteri TBC ke udara yang mampu bertahan selama beberapa jam.

“Partikel bakteri TBC bisa bertahan di udara selama tiga sampai empat jam. Jika terhirup oleh orang lain, terutama yang tinggal serumah, risiko penularannya sangat tinggi,” jelasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat yang mengalami gejala TBC untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar mendapatkan diagnosis dan pengobatan lebih cepat.

Menurut Rahman, semakin cepat TBC ditemukan dan diobati, semakin besar peluang kesembuhan sekaligus mencegah penularan kepada orang lain.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....