Temuan Ilmuwan tentang Usus dan Kebiasaan Makan Pukul 2 Pagi yang Perlu Diketahui

  • 09 Jun 2026 21:36 WIB
  •  Gorontalo
Poin Utama
  • Makan pukul 2 pagi dapat mengganggu jam biologis usus.
  • Sel ICC sulit menyesuaikan diri dengan perubahan jadwal makan.
  • Pekerja shift lebih rentan mengalami keluhan pencernaan.

RRI.CO.ID, Gorontalo - Kebiasaan makan pukul 2 pagi bisa membuat jam usus bekerja tidak serempak. Temuan baru ini menyorot risiko pencernaan bagi pekerja shift dan orang berjadwal tidak teratur.

Sebuah studi dari UT Southwestern Medical Center menemukan dampak makan saat tubuh seharusnya tidur. Studi itu diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences atau PNAS.

Peneliti menyebut waktu makan dapat memengaruhi jam biologis di dalam usus. Jam ini ikut mengatur pencernaan, penyerapan nutrisi, dan gerakan usus.

Selama ini, ritme sirkadian sering dikaitkan dengan otak dan pola tidur. Namun, usus juga memiliki sistem waktu internal yang bekerja setiap hari.

Dalam studi tersebut, peneliti mengamati beberapa jenis sel usus pada tikus. Sel-sel itu tetap sinkron saat hewan makan sesuai jadwal normalnya.

Perubahan terjadi saat tikus diberi makan pada jam tidur biasanya. Sebagian besar sel usus menyesuaikan diri dengan pola makan baru.

Namun, satu kelompok sel penting tidak ikut berubah. Sel itu disebut interstitial cells of Cajal atau ICC.

ICC berperan membantu makanan bergerak melalui saluran pencernaan. Ketika sel lain bergeser jadwal, ICC tetap mengikuti ritme lamanya.

Ketidaksesuaian itu dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Kondisi ini diduga ikut mengganggu gerakan usus dan kenyamanan pencernaan.

Temuan ini membantu menjelaskan keluhan yang sering dialami pekerja shift. Keluhan itu mencakup sembelit, kembung, dan gejala sindrom iritasi usus.

Pelancong yang sering melintasi zona waktu juga dapat mengalami gangguan serupa. Pola makan dan tidur yang berubah cepat dapat mengganggu ritme tubuh.

“Memahami bagaimana jam sirkadian usus menjadi tidak selaras pada akhirnya dapat memandu strategi yang melibatkan pengaturan waktu makan, terapi berbasis sirkadian, atau intervensi diet untuk meningkatkan kesehatan pencernaan dan metabolisme,” kata penulis studi, Yuuki Obata, Ph.D.

Meski begitu, peneliti masih memerlukan studi lanjutan pada manusia. Hasil pada hewan belum otomatis berarti sama persis pada tubuh manusia.

Pesan praktisnya tetap jelas untuk kebiasaan harian. Makan pada jam yang relatif sama dapat membantu menjaga keseimbangan ritme usus.

Makan larut malam sesekali bukan berarti langsung berbahaya. Namun, kebiasaan rutin makan saat tubuh seharusnya tidur perlu mulai dikendalikan.

Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....