Kaki Kesemutan Sebelah? Waspada!

  • 08 Jun 2026 12:49 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Kebanyakan orang pernah mengalami kaki kesemutan, terutama setelah duduk bersila terlalu lama atau berada dalam posisi tertentu yang menekan saraf. Namun, bagaimana jika kesemutan hanya terjadi pada satu kaki dan tidak kunjung hilang? Kondisi ini patut mendapat perhatian lebih karena bisa menjadi tanda adanya gangguan kesehatan yang lebih serius.

Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai parestesia unilateral, yaitu sensasi abnormal berupa kesemutan, mati rasa, rasa terbakar, atau sensasi seperti ditusuk jarum yang hanya terjadi pada satu sisi tubuh. Berbeda dengan kesemutan biasa yang umumnya bersifat sementara dan cepat membaik setelah posisi tubuh diubah, kesemutan pada satu kaki yang berlangsung lama dapat mengindikasikan adanya masalah pada sistem saraf, pembuluh darah, atau organ tubuh lainnya.

Dilansir dari patella.id para ahli kesehatan menjelaskan bahwa saraf berfungsi sebagai jalur komunikasi antara otak, sumsum tulang belakang, dan seluruh bagian tubuh. Ketika terjadi gangguan pada jalur tersebut, tubuh dapat mengirimkan sinyal berupa kesemutan, nyeri, mati rasa, hingga kelemahan otot. Karena itu, kesemutan yang berlangsung terus-menerus tidak boleh dianggap sebagai keluhan ringan.

Gejala kaki kesemutan sebelah dapat bervariasi pada setiap orang. Sebagian penderita merasakan sensasi seperti ditusuk ribuan jarum kecil, sementara yang lain mengalami rasa panas, terbakar, atau mati rasa pada area tertentu. Dalam beberapa kasus, kesemutan disertai kelemahan otot sehingga membuat penderita kesulitan berjalan, berdiri, atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Salah satu penyebab paling umum adalah saraf kejepit atau Hernia Nucleus Pulposus (HNP). Kondisi ini terjadi ketika bantalan tulang belakang mengalami pergeseran dan menekan akar saraf yang menuju kaki. Akibatnya, penderita tidak hanya merasakan kesemutan tetapi juga nyeri yang menjalar dari punggung bawah hingga ke paha, betis, bahkan telapak kaki. Keluhan biasanya semakin berat saat batuk, bersin, atau mengangkat beban berat.

Selain saraf kejepit, stroke juga menjadi penyebab yang perlu diwaspadai. Kesemutan mendadak pada satu sisi tubuh, termasuk kaki kiri atau kanan, dapat menjadi tanda awal stroke. Kondisi ini biasanya disertai kelemahan pada wajah atau lengan, bicara pelo, gangguan penglihatan, serta kehilangan keseimbangan. Stroke merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan sesegera mungkin karena setiap menit sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kualitas hidup pasien.

Penyakit diabetes mellitus juga sering menjadi penyebab kaki kesemutan yang berlangsung lama. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf tepi, kondisi yang dikenal sebagai neuropati diabetik. Kerusakan saraf ini menyebabkan munculnya sensasi kesemutan, mati rasa, nyeri seperti tersengat listrik, hingga rasa terbakar pada kaki. Jika tidak ditangani dengan baik, neuropati diabetik dapat meningkatkan risiko luka kronis dan amputasi.

Kekurangan vitamin B12 juga berperan penting dalam munculnya keluhan kesemutan. Vitamin B12 dibutuhkan untuk menjaga kesehatan selubung saraf atau mielin yang berfungsi melindungi serabut saraf. Ketika tubuh kekurangan vitamin ini, fungsi saraf dapat terganggu sehingga muncul kesemutan, kelemahan tubuh, gangguan konsentrasi, hingga anemia. Kondisi ini sering ditemukan pada lansia, vegetarian ketat, serta penderita gangguan penyerapan nutrisi.

Penyebab lain yang tidak kalah penting adalah sindrom terowongan tarsal, yaitu kondisi ketika saraf tibialis di area pergelangan kaki mengalami penekanan. Kondisi ini sering dialami oleh pelari, atlet, atau orang yang menggunakan alas kaki yang tidak sesuai. Gejalanya berupa kesemutan, nyeri, dan sensasi terbakar yang menjalar ke telapak kaki.

Dalam beberapa kasus, penyakit ginjal kronis juga dapat menyebabkan kesemutan pada kaki. Ketika fungsi ginjal menurun, zat-zat sisa metabolisme menumpuk dalam darah dan memengaruhi fungsi saraf. Penderita biasanya mengalami pembengkakan kaki, kelelahan, mual, sesak napas, serta gangguan buang air kecil.

Gangguan hormon seperti hipotiroid juga dapat menjadi penyebab tersembunyi. Produksi hormon tiroid yang rendah menyebabkan perlambatan metabolisme tubuh sehingga berdampak pada sistem saraf. Gejala yang menyertai biasanya berupa mudah lelah, kenaikan berat badan, kulit kering, rambut rontok, dan rasa sensitif terhadap udara dingin.

Selain itu, penyakit autoimun seperti Multiple Sclerosis (MS) dapat memunculkan gejala kesemutan yang berpindah-pindah lokasi. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan pelindung saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Gejala lain yang dapat muncul antara lain gangguan penglihatan, kelemahan tubuh, gangguan koordinasi, dan kelelahan berkepanjangan.

Pada kasus yang lebih serius, kesemutan sebelah juga bisa menjadi tanda adanya tumor atau kanker yang menekan saraf. Tumor yang tumbuh di tulang belakang, otak, atau jaringan sekitar saraf dapat menyebabkan gejala yang semakin memburuk seiring waktu. Penderita sering mengalami nyeri kronis, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, dan kelemahan otot yang progresif.

Beberapa obat-obatan juga diketahui dapat menyebabkan kerusakan saraf sebagai efek samping. Obat kemoterapi, obat anti kejang, antibiotik tertentu, hingga beberapa jenis obat HIV dapat memicu munculnya neuropati yang ditandai dengan kesemutan dan mati rasa.

Masyarakat juga perlu mengenal Sindrom Guillain-Barré, penyakit autoimun langka yang menyerang saraf tepi. Penyakit ini sering diawali dengan kesemutan pada kaki yang kemudian berkembang menjadi kelemahan otot dan bahkan kelumpuhan. Karena dapat mengancam nyawa, penderita harus segera mendapatkan perawatan medis intensif.

Dokter mengingatkan bahwa ada beberapa tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Jika kesemutan muncul secara tiba-tiba, disertai kelemahan pada satu sisi tubuh, gangguan bicara, nyeri dada, kesulitan bernapas, kehilangan kontrol buang air, atau gangguan penglihatan, segera cari pertolongan medis. Gejala-gejala tersebut dapat menandakan kondisi serius yang membutuhkan penanganan darurat.

Untuk membantu meredakan gejala sementara, penderita dapat melakukan peregangan ringan, mengubah posisi tubuh, melakukan pijatan lembut, serta menggunakan kompres hangat atau dingin. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki juga dapat membantu melancarkan aliran darah dan mengurangi tekanan pada saraf.

Pola hidup sehat menjadi langkah penting dalam mencegah kesemutan yang berkaitan dengan gangguan saraf. Konsumsi makanan kaya vitamin B kompleks, omega-3, serta antioksidan dapat membantu menjaga kesehatan saraf. Selain itu, olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok dan alkohol, serta mengontrol penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi sangat dianjurkan.

Untuk memastikan penyebabnya, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan neurologis, tes darah, pemeriksaan kadar gula darah, fungsi ginjal, vitamin B12, hingga pemeriksaan pencitraan seperti MRI dan elektromiografi (EMG). Hasil pemeriksaan tersebut akan membantu menentukan jenis pengobatan yang paling tepat.

Kaki kesemutan sebelah memang tidak selalu berbahaya. Namun, jika keluhan berlangsung lama, sering kambuh, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, kondisi ini tidak boleh diabaikan. Deteksi dini dan penanganan yang tepat menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Menjaga kesehatan saraf sama pentingnya dengan menjaga kesehatan jantung atau organ tubuh lainnya. Dengan mengenali gejala sejak awal dan segera berkonsultasi ke tenaga medis, berbagai penyakit yang mendasari kesemutan dapat diketahui lebih cepat sehingga peluang kesembuhan menjadi lebih besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....