Obat Alami Ala Simpanse
- 30 Mei 2026 19:46 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo - Kemampuan mengobati diri sendiri ternyata tidak hanya dimiliki manusia. Berbagai jenis hewan diketahui memiliki cara alami untuk mengatasi penyakit atau luka yang mereka alami. Beberapa mamalia, misalnya, menjilat bagian tubuh yang terluka karena air liurnya mengandung zat yang dapat membantu proses penyembuhan. Sementara itu, lumba-lumba diketahui menggosokkan tubuhnya ke karang tertentu di laut untuk membantu mengatasi infeksi kulit.
Di antara berbagai satwa tersebut, simpanse menjadi salah satu hewan yang paling menarik perhatian para ilmuwan. Sebagai primata yang memiliki kedekatan genetik dengan manusia, simpanse menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengenali dan memanfaatkan tumbuhan yang memiliki khasiat obat. Penelitian terbaru bahkan mengungkap bahwa simpanse tidak sekadar mengonsumsi tumbuhan sebagai sumber makanan, tetapi juga memanfaatkannya untuk membantu proses penyembuhan ketika sakit atau terluka.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal PLOS One pada 20 Juni 2024 melalui penelitian berjudul “Pharmacological and Behavioral Investigation of Putative Self-Medicative Plants in Budongo Chimpanzee Diets.” Penelitian ini dilakukan oleh tim ilmuwan yang mengamati komunitas simpanse liar di Hutan Budongo, Uganda, sebuah kawasan hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati.
| Baca juga: Cara Mengatasi Insomnia yang Perlu Dicoba |
Penulis utama penelitian, Elodie Freymann, menjelaskan bahwa studi tersebut berawal dari pengamatan terhadap sejumlah simpanse yang mengalami luka atau menunjukkan tanda-tanda sakit. Para peneliti kemudian berusaha mencari tahu apakah satwa-satwa tersebut mengonsumsi tumbuhan tertentu sebagai bagian dari upaya penyembuhan alami.
Selama bertahun-tahun melakukan pengamatan di lapangan, tim peneliti mengikuti aktivitas simpanse liar dan mengumpulkan berbagai informasi mengenai pola makan mereka. Mereka juga memeriksa sampel kotoran dan urine untuk mengetahui kondisi kesehatan satwa tersebut serta jenis tumbuhan yang dikonsumsi. Dari hasil pengamatan tersebut, para peneliti berhasil mengidentifikasi 13 jenis tumbuhan yang diduga memiliki fungsi pengobatan dan sering dimanfaatkan oleh simpanse.
Sebanyak 17 sampel tumbuhan yang biasa dikonsumsi kemudian diuji di laboratorium. Hasilnya cukup mengejutkan. Hampir 90 persen ekstrak tumbuhan tersebut terbukti memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri. Selain itu, sekitar sepertiga dari sampel yang diteliti juga menunjukkan sifat antiinflamasi atau antiperadangan yang dapat membantu mengurangi rasa sakit dan mempercepat pemulihan jaringan tubuh yang rusak.
Menurut Freymann, beberapa simpanse yang diamati menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengonsumsi tumbuhan tertentu. Dalam salah satu kasus, seekor simpanse yang mengalami cedera pada tangannya terlihat kembali mampu menggunakan anggota tubuh tersebut hanya beberapa hari setelah memakan jenis pakis tertentu. Meski demikian, para peneliti tetap berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Mereka menegaskan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hubungan langsung antara konsumsi tumbuhan tertentu dan proses kesembuhan yang terjadi.
Penelitian ini juga menemukan fakta menarik lainnya. Dari 13 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan simpanse, sebanyak 11 jenis ternyata telah lama digunakan oleh masyarakat tradisional setempat sebagai bahan pengobatan alami. Kesamaan ini menunjukkan bahwa baik manusia maupun simpanse mungkin telah mengenali manfaat tumbuhan tertentu melalui proses yang berbeda, namun menghasilkan pemanfaatan yang serupa.
Temuan mengenai kemampuan primata dalam melakukan pengobatan sendiri sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Pada Mei 2024, para ilmuwan juga melaporkan bahwa orangutan liar di Sumatra mampu menggunakan tumbuhan tertentu untuk mengobati luka di wajahnya. Perilaku tersebut dianggap sebagai salah satu bukti paling kuat bahwa primata memiliki pengetahuan alami dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk menjaga kesehatan mereka.
| Baca juga: Manfaat Daun Gedi bagi Kesehatan |
Selain itu, penelitian terhadap populasi orangutan di Kalimantan Timur juga menunjukkan hasil serupa. Dari 59 jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan orangutan di kawasan Bentang Alam Wehea-Kelay, sekitar 50 persen di antaranya diketahui memiliki manfaat medis dan telah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai obat tradisional. Tumbuhan tersebut digunakan untuk mengobati luka, mencegah infeksi, mengurangi peradangan, hingga sebagai suplemen kesehatan.
Para ilmuwan menilai bahwa temuan-temuan ini memiliki arti penting bagi dunia kesehatan dan konservasi. Mengingat lebih dari 95 persen DNA simpanse dan orangutan memiliki kemiripan dengan manusia, perilaku mereka dalam memilih tumbuhan berkhasiat dapat menjadi petunjuk berharga bagi penemuan senyawa obat baru yang bermanfaat bagi manusia.
Peneliti Biosistematika dan Evolusi BRIN, Alex Sumadijaya, menuturkan bahwa masih banyak tumbuhan di kawasan hutan tropis yang belum diteliti secara mendalam. Potensi tumbuhan obat, terutama di luar Pulau Jawa, masih sangat besar dan menyimpan peluang untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan maupun farmasi.
Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya upaya konservasi hutan dan perlindungan satwa liar. Hutan yang sehat tidak hanya menjadi rumah bagi simpanse, orangutan, dan berbagai spesies lainnya, tetapi juga menyimpan kekayaan tumbuhan yang mungkin suatu hari dapat membantu manusia menemukan obat-obatan baru. Melalui pengamatan terhadap perilaku satwa liar, para ilmuwan semakin memahami bahwa alam masih menyimpan banyak rahasia yang berpotensi memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....