WC Jongkok atau WC Duduk, Mana yang Lebih Baik? Ini Penjelasannya

  • 18 Mei 2026 07:51 WIB
  •  Gorontalo
Poin Utama
  • WC jongkok dapat membantu posisi BAB lebih alami bagi sebagian orang.
  • WC duduk tetap aman bila lutut dibuat lebih tinggi dari pinggul.
  • Postur tubuh, serat, dan durasi toilet lebih penting daripada jenis WC.

RRI.CO.ID, Gorontalo - WC jongkok dan WC duduk sering dibandingkan saat membahas buang air besar. Keduanya memiliki kelebihan, tetapi posisi tubuh menjadi faktor penting.

Perbandingan keduanya tidak hanya menyangkut jenis toilet. Postur saat BAB dapat memengaruhi tekanan, kenyamanan, dan kebiasaan mengejan.

BMC Public Health pada 2 Juli 2025 menerbitkan kajian berjudul Sitting vs. Squatting: A Scoping Review of Toilet Postures and Associated Health Outcomes. Kajian itu membahas dampak posisi duduk dan jongkok terhadap kesehatan.

BMC Public Health menyebut posisi jongkok dapat mengurangi tekanan pencernaan dan membantu pengosongan usus. Posisi duduk dan jongkok juga memiliki dampak berbeda bagi tubuh.

Dalam posisi jongkok, lutut berada lebih tinggi dari pinggul. Posisi ini dapat membantu jalur keluarnya feses menjadi lebih terbuka.

Karena itu, WC jongkok dapat membantu sebagian orang saat BAB. Namun, manfaat tersebut tetap dipengaruhi kondisi tubuh masing-masing.

WC jongkok tidak otomatis lebih baik untuk semua orang. Lansia, ibu hamil, atau orang dengan nyeri lutut bisa kesulitan memakainya.

WC duduk memiliki kelebihan dari sisi kenyamanan dan keamanan. Toilet jenis ini lebih mudah digunakan oleh orang dengan keterbatasan gerak.

Meski begitu, WC duduk perlu digunakan dengan postur yang tepat. Lutut sebaiknya dibuat lebih tinggi dari pinggul agar posisi tubuh lebih mendekati jongkok.

Dilansir dari Health.com, posisi seperti jongkok dapat membantu mengurangi tekanan saat BAB. Posisi ini juga dapat membantu mengurangi kebiasaan mengejan.

Pengguna WC duduk dapat memakai bangku kecil di bawah kaki. Cara ini membantu meniru posisi jongkok tanpa harus mengganti jenis toilet.

American Gastroenterological Association pada 29 April 2026 menerbitkan pedoman diagnosis dan penanganan wasir. AGA menyarankan peningkatan serat, menghindari mengejan, dan tidak terlalu lama di toilet.

AGA News menegaskan perubahan diet dan gaya hidup tetap menjadi terapi lini pertama. Makan lebih banyak serat dan menghindari duduk lama dapat mengurangi perdarahan dan prolaps.

Jadi, pilihan toilet bukan satu-satunya penentu kesehatan pencernaan. Durasi di toilet, asupan serat, cairan, dan kebiasaan mengejan tetap berperan.

Kesimpulannya, WC jongkok bisa membantu sebagian orang BAB lebih lancar. WC duduk tetap aman bila posturnya benar dan tidak digunakan terlalu lama.

Jika BAB disertai nyeri hebat, sembelit menetap, atau darah, pemeriksaan medis perlu dilakukan. Keluhan itu tidak boleh langsung dianggap masalah ringan.

Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....