Kebiasaan Pemicu Saraf Kejepit

  • 25 Mei 2026 17:23 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, GORONTALO – Kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele ternyata dapat memicu gangguan pada tulang belakang hingga menyebabkan saraf kejepit. Kondisi ini umumnya muncul akibat tekanan berlebih pada saraf di area leher, punggung, maupun pinggang akibat postur tubuh yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik.

Berdasarkan informasi kesehatan yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, gangguan muskuloskeletal seperti nyeri punggung dan leher menjadi salah satu penyebab utama disabilitas di dunia. WHO menyebutkan lebih dari 1,7 miliar orang mengalami masalah pada otot, tulang, dan persendian yang sebagian besar dipicu pola hidup kurang sehat.

Salah satu kebiasaan yang paling sering memicu saraf kejepit adalah duduk terlalu lama tanpa mengubah posisi tubuh. Aktivitas ini dapat memberikan tekanan terus-menerus pada tulang belakang dan bantalan saraf, terutama bagi pekerja kantoran atau mereka yang beraktivitas di depan komputer dalam waktu panjang.

Selain itu, kebiasaan menunduk saat bermain telepon genggam juga menjadi perhatian serius. Posisi leher yang terus menekuk dapat meningkatkan beban pada ruas tulang belakang bagian leher hingga memicu nyeri dan ketegangan otot. Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada 2025 bahkan menunjukkan aktivitas sedentari lebih dari enam jam sehari meningkatkan risiko nyeri leher secara signifikan.

Faktor lain yang turut memicu saraf kejepit adalah penggunaan kasur terlalu empuk. Kasur yang tidak mampu menopang tubuh dengan baik dapat membuat posisi tulang belakang tidak sejajar saat tidur sehingga memicu tekanan pada saraf tertentu, terutama di area pinggang dan punggung.

Kebiasaan mengangkat beban berat dengan posisi tubuh yang salah juga berpotensi menyebabkan cedera saraf. Gerakan membungkuk tanpa teknik yang benar dapat membuat bantalan tulang belakang bergeser dan menekan saraf di sekitarnya. Kondisi ini sering dialami pekerja lapangan maupun masyarakat yang terbiasa mengangkat barang berat tanpa peregangan otot terlebih dahulu.

WHO juga menyoroti bahwa kurang olahraga dan minim peregangan dapat memperburuk kesehatan otot serta tulang belakang. Aktivitas fisik yang rendah menyebabkan otot menjadi kaku dan melemah sehingga tidak mampu menopang tubuh secara optimal. Karena itu, WHO merekomendasikan masyarakat untuk rutin bergerak dan mengurangi waktu duduk terlalu lama.

Para ahli kesehatan mengimbau masyarakat untuk mulai memperbaiki postur tubuh saat duduk, berdiri, maupun tidur guna mencegah risiko saraf kejepit. Melakukan peregangan ringan setiap beberapa jam, rutin berolahraga, serta menjaga posisi tubuh tetap ergonomis dinilai efektif membantu menjaga kesehatan tulang belakang dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....