Kebiasaan Ngemil Larut Malam Bisa Ganggu BAB yang Berhubungan dengan Stres
- 18 Mei 2026 09:15 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Ngemil larut malam berkaitan dengan gangguan BAB saat stres.
- Makan setelah pukul 21.00 dapat meningkatkan risiko sembelit dan diare.
- Pola makan teratur membantu mendukung kesehatan pencernaan.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Kebiasaan ngemil larut malam bisa menjadi sinyal bahaya bagi pencernaan. Risiko itu makin kuat saat tubuh menanggung stres berkepanjangan.
Sebuah studi baru mengaitkan makan setelah pukul 21.00 dengan gangguan buang air besar. Gejala yang muncul meliputi sembelit dan diare.
Temuan itu akan dipaparkan dalam Digestive Disease Week 2026 di Chicago. Forum tersebut membahas perkembangan terbaru tentang penyakit saluran cerna.
Peneliti menganalisis data lebih dari 11.000 peserta survei kesehatan dan nutrisi. Mereka menilai hubungan stres tubuh, waktu makan, dan gangguan BAB.
Stres tubuh diukur melalui beberapa penanda kesehatan. Penanda itu mencakup kolesterol, tekanan darah, dan indeks massa tubuh.
Makan larut malam ditandai dengan konsumsi lebih dari 25 persen kalori setelah pukul 21.00. Pola itu dinilai dapat memperkuat dampak stres pada pencernaan.
Hasil studi menunjukkan risiko gangguan BAB meningkat pada kelompok tertentu. Risiko itu lebih tinggi pada peserta stres tinggi yang makan larut malam.
Kelompok tersebut lebih sering mengalami sembelit atau diare. Risiko mereka sekitar 70 persen lebih tinggi dibanding kelompok pembanding.
| Baca juga: Cara Mengatasi Insomnia yang Perlu Dicoba |
Peneliti juga menganalisis lebih dari 4.000 peserta studi kesehatan usus. Kelompok stres tinggi dan makan larut malam memiliki risiko masalah usus 2,5 kali lebih besar.
“Bukan hanya apa yang Anda makan, tetapi juga kapan Anda memakannya,” kata dr. Harika Dadigiri. Ia merupakan dokter residen di New York Medical College.
Menurut Dadigiri, waktu makan dapat memberi dampak tambahan saat tubuh sedang tertekan. Ia menyebut kondisi itu sebagai pukulan ganda bagi kesehatan usus.
Peneliti juga menemukan keragaman bakteri usus yang lebih rendah pada kelompok berisiko. Kondisi itu menunjukkan waktu makan dapat memengaruhi kesehatan saluran cerna.
| Baca juga: Cara Tidur Nyenyak yang Patut Dicoba |
Namun, temuan ini tidak berarti masyarakat harus berhenti ngemil sepenuhnya. Peneliti menyarankan kebiasaan makan lebih teratur dan lebih awal.
“Saya bukan polisi es krim,” kata Dadigiri. Ia menilai rutinitas makan yang konsisten dapat mendukung fungsi pencernaan.
Dadigiri dijadwalkan mempresentasikan temuan itu pada Senin, 4 Mei 2026. Hasil pertemuan medis masih bersifat sementara sebelum terbit di jurnal ilmiah.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....