Gorontalo Darurat Kematian Ibu, Dokter Soroti Kegagalan Sistem

  • 13 Apr 2026 15:02 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo — Angka kematian ibu hamil dan melahirkan di Provinsi Gorontalo hingga April 2026 mencapai 14 kasus. Kondisi ini dinilai sudah masuk kategori darurat karena hampir mendekati batas maksimal target tahunan yang ditetapkan pemerintah, yakni 20 kasus.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn), Maimun Ihsan kepada RRI, menyatakan tingginya angka tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor medis, tetapi juga mencerminkan kegagalan sistem secara menyeluruh.

“Ini sudah masuk dalam darurat kematian ibu. Artinya, bukan lagi sekadar persoalan medis, tapi kegagalan sistem karena banyak faktor yang saling terkait,” ujarnya Pada Senin 13 April 2026.

Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu. Pertama, rendahnya kesadaran ibu hamil untuk rutin memeriksakan kehamilan. Kedua, kurangnya dukungan keluarga. Ketiga, belum optimalnya pelayanan tenaga kesehatan dalam melakukan deteksi dini risiko kehamilan.

Menurutnya, pemeriksaan kehamilan tidak cukup hanya bersifat administratif, tetapi harus mampu mendeteksi potensi risiko sejak awal agar dapat segera ditangani.

Selain itu, faktor sistem rujukan juga menjadi kendala, mulai dari ketersediaan transportasi hingga kesiapan fasilitas kesehatan rujukan dalam menerima pasien.

Dari 14 kasus kematian yang terjadi, penyebab langsung terbanyak adalah hipertensi dan perdarahan. Sementara penyebab tidak langsung di antaranya penyakit paru, termasuk tuberkulosis (TBC).

“Ibu hamil dengan TBC berisiko tinggi mengalami komplikasi karena daya tahan tubuh menurun. Apalagi jika penyakitnya tidak terdeteksi atau belum diobati secara tuntas,” jelasnya.

Ia menegaskan, deteksi dini sebenarnya dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas, terutama dengan dukungan program jaminan kesehatan seperti BPJS.

“Tidak ada alasan untuk tidak memeriksakan kehamilan. Semua sudah difasilitasi pemerintah,” tambahnya.

Namun demikian, tantangan lain yang dihadapi adalah rendahnya pemahaman masyarakat, termasuk dalam pengambilan keputusan medis yang seringkali terhambat karena harus melalui musyawarah keluarga.

“Keterlambatan pengambilan keputusan bisa berdampak fatal, misalnya saat membutuhkan tindakan operasi atau kesiapan donor darah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....