Penggunaan Smartphone Berlebihan Dikaitkan dengan Gangguan Makan Remaja
- 05 Apr 2026 17:42 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Penggunaan smartphone yang berlebihan dikaitkan dengan kebiasaan makan yang tidak terkontrol dan emosional pada remaja dan dewasa muda.
- Risiko ketidakpuasan terhadap tubuh dan gejala kecanduan makanan meningkat pada mereka yang menggunakan ponsel lebih dari tujuh jam sehari.
- Paparan terus-menerus terhadap citra tubuh ideal di layar dapat menekan harga diri pada masa penting perkembangan remaja.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Saat layar ponsel makin lama menahan tatapan, risikonya ternyata tak berhenti di kelelahan mata. Studi terbaru menemukan, penggunaan smartphone berlebihan berkaitan dengan gejala gangguan makan dan ketidakpuasan terhadap tubuh pada remaja.
Studi ini dipimpin para peneliti dari King’s College London. Hasilnya dipublikasikan di JMIR Mental Health pada Minggu, 9 Maret 2026.
Penelitian itu berupa tinjauan sistematis atas 35 studi dari berbagai negara. Total pesertanya mencapai 52.584 orang dengan usia rata-rata 17 tahun.
| Baca juga: Jangan Beri Teh, Ini Bahayanya bagi Anak |
Para peneliti tidak menyoroti anoreksia atau bulimia yang sudah terdiagnosis. Mereka menelaah gejala yang lebih luas, seperti makan emosional, makan tak terkendali, kecanduan makanan, dan ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten di banyak negara dan kelompok usia. Semakin bermasalah penggunaan smartphone, semakin tinggi pula gejala gangguan makan dan rasa tidak puas terhadap tubuh.
Hubungan itu terlihat lebih kuat pada pengguna berat. Dalam beberapa studi, penggunaan ponsel lebih dari tujuh jam per hari berkaitan dengan gejala gangguan makan yang lebih tinggi.
Profesor Ben Carter mengatakan temuan itu terlihat bahkan pada orang tanpa diagnosis gangguan makan. “Penggunaan smartphone yang berlebihan dikaitkan dengan ketidakpuasan terhadap tubuh dan perubahan perilaku makan,” ujarnya.
Johanna Keeler menjelaskan masa remaja adalah tahap penting pembentukan jati diri. Paparan terus-menerus pada gambar ideal di ponsel dapat mendorong perbandingan penampilan dan menekan harga diri.
Temuan ini terasa dekat dengan keseharian digital saat ini. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, sementara proporsi kepemilikan atau penguasaan telepon genggam pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun mencapai 92,14 persen.
Meski begitu, studi ini tidak membuktikan bahwa smartphone langsung menyebabkan gangguan makan. Penulis jurnal menilai kekuatan buktinya masih rendah karena mayoritas studi yang dianalisis bersifat potong lintang, bukan penelitian sebab-akibat jangka panjang.
Karena itu, peneliti mendorong intervensi dini dan edukasi tentang penggunaan digital yang lebih sehat. Fokusnya bukan hanya mengurangi durasi layar, tetapi juga memperbaiki cara dan kualitas penggunaan smartphone.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....