Perempuan Lebih Rentan Migrain
- 29 Mar 2026 20:11 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo _ Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan membuat penderitanya harus beristirahat total. Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan ternyata lebih mudah terkena migrain dibandingkan laki-laki.
Melansir dari Nova.id, salah satu faktor utama yang memicu kondisi ini adalah hormon estrogen. Hormon ini memang memiliki banyak peran penting dalam tubuh perempuan, mulai dari mengatur siklus menstruasi, menjaga suhu tubuh, hingga membantu produksi kolesterol dan kolagen. Namun, ketika kadarnya berlebihan atau tidak seimbang, estrogen justru dapat menjadi “bumerang” bagi kesehatan, khususnya pada otak.
Ketidakseimbangan hormon estrogen inilah yang diduga kuat menjadi alasan mengapa perempuan lebih sering mengalami migrain. Fluktuasi hormon, terutama menjelang atau saat menstruasi, kerap menjadi pemicu utama munculnya sakit kepala sebelah ini.
| Baca juga: Manfaat Keju untuk Kesehatan |
Dokter Marcela Magda Popa menjelaskan bahwa migrain memiliki berbagai sensasi yang berbeda pada tiap individu. Ada yang merasakan nyeri berdenyut di satu sisi kepala selama satu hingga 72 jam. Bahkan, tidak jarang kondisi ini disertai gejala lain seperti mual, muntah, hingga sensitivitas terhadap cahaya dan suara.
“Dalam beberapa kasus, aktivitas fisik ringan seperti menaiki tangga saja dapat memperparah rasa sakit,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa migrain biasanya mulai muncul sejak usia remaja awal, di mana perempuan memiliki risiko hingga tiga kali lebih besar dibandingkan laki-laki.
Data dari Migraine Research Foundation juga memperkuat fakta ini. Dari sekitar 38 juta penderita migrain di Amerika Serikat, sebanyak 28 juta di antaranya adalah perempuan. Angka tersebut menunjukkan betapa dominannya kasus migrain pada kaum wanita.
| Baca juga: Jangan Beri Teh, Ini Bahayanya bagi Anak |
Meski tidak semua migrain berkaitan langsung dengan hormon, teori mengenai peran estrogen telah lama menjadi pembahasan di dunia medis. Di sisi lain, hormon testosteron yang lebih dominan pada laki-laki justru diyakini dapat membantu mengurangi gejala migrain, sehingga membuat pria cenderung lebih jarang mengalaminya.
Selain itu, migrain pada perempuan sering kali muncul pada fase-fase tertentu dalam siklus hormonal, seperti saat menstruasi, kehamilan, atau menopause. Kondisi ini semakin mempertegas hubungan antara perubahan hormon dan munculnya migrain.
Dengan memahami penyebab dan faktor risikonya, perempuan diharapkan bisa lebih waspada terhadap gejala migrain. Menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, serta berkonsultasi dengan tenaga medis menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko dan dampak dari gangguan ini.
Migrain memang tidak bisa dianggap sepele. Namun, dengan penanganan yang tepat dan pemahaman yang baik, kondisi ini tetap bisa dikendalikan agar tidak mengganggu kualitas hidup sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....