Senyawa Kopi Berpotensi Bantu Kelola Diabetes Tipe Dua

  • 29 Jan 2026 12:42 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo- Kopi sangrai ternyata menyimpan senyawa yang dapat memperlambat kenaikan gula darah. Temuan laboratorium ini memberi harapan bahan pangan baru untuk membantu mengelola diabetes tipe 2.

Tim peneliti mengidentifikasi tiga senyawa baru dari biji kopi Arabika yang dipanggang. Senyawa itu menghambat enzim pemecah karbohidrat, sehingga gula masuk darah lebih lambat.

Enzim tersebut dikenal sebagai alfa-glukosidase, yang bekerja saat tubuh mencerna nasi, roti, dan mi. Jika kerjanya diperlambat, lonjakan gula setelah makan berpeluang lebih terkendali.

Riset ini dipimpin Minghua Qiu dari Institut Botani Kunming, Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok. Hasilnya dipublikasikan di jurnal Beverage Plant Research.

Menemukan senyawa bermanfaat dalam makanan tidak mudah karena komposisinya sangat rumit. Tim memakai pemindaian laboratorium seperti NMR dan LC-MS untuk memilah kandungan kopi.

Dengan penyaringan bertahap, peneliti menandai bagian ekstrak kopi yang paling aktif. Mereka lalu memurnikan tiga senyawa baru bernama caffaldehydes A, B, dan C.

Dalam uji laboratorium, ketiganya menghambat alfa-glukosidase lebih kuat dibanding obat pembanding akarbosa. Ini baru menunjukkan potensi, bukan bukti manfaat klinis pada pasien.

Tim juga memakai analisis lanjutan untuk mencari senyawa jejak yang sulit terlihat. Hasilnya, mereka melaporkan tiga senyawa baru lain yang masih berkerabat dekat.

Para peneliti menilai pendekatan ini bisa membuka bahan fungsional berbasis kopi. Namun, mereka menekankan perlunya uji keamanan dan efektivitas pada makhluk hidup.

Pakar kesehatan mengingatkan pengelolaan diabetes tetap bertumpu pada pola makan, aktivitas, dan obat dokter. Kopi juga tidak cocok untuk semua orang, terutama yang sensitif kafein.

Temuan ini menambah catatan bahwa kopi bisa memiliki manfaat di luar rasa dan energi. Peneliti berharap penemuan senyawa baru membantu riset pangan sehat lebih terarah.

Pembaca disarankan menunggu hasil uji lanjutan sebelum menganggap kopi sebagai terapi.

Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....