Fakta Mengeringnya Laut Aral, Dari Laut Menjadi Gurun

  • 31 Jul 2026 19:49 WIB
  •  Gorontalo

Rri.co.id, Gorontalo - Laut Aral di Asia Tengah menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana aktivitas manusia dapat mengubah wajah bumi secara drastis. Perairan yang terletak di antara Kazakhstan dan Uzbekistan ini dulunya merupakan danau terbesar keempat di dunia dengan luas sekitar 68 ribu kilometer persegi.

Namun, sejak tahun 1960-an, Laut Aral mulai mengalami penyusutan akibat proyek irigasi besar-besaran yang dilakukan Uni Soviet. Air dari Sungai Amu Darya dan Syr Darya, yang selama ribuan tahun menjadi sumber utama pasokan air Laut Aral, dialihkan untuk mengairi jutaan hektare lahan pertanian, terutama perkebunan kapas.

Akibat berkurangnya pasokan air, permukaan Laut Aral terus menyusut dari tahun ke tahun. Dalam beberapa dekade, lebih dari 90 persen volume airnya hilang. Wilayah yang sebelumnya dipenuhi air kini berubah menjadi hamparan gurun baru yang dikenal sebagai Gurun Aralkum.

Mengeringnya Laut Aral tidak hanya menyebabkan hilangnya perairan, tetapi juga menghancurkan ekosistem yang pernah berkembang di kawasan tersebut. Puluhan spesies ikan menghilang akibat meningkatnya kadar garam, sementara industri perikanan yang pernah menjadi sumber penghidupan ribuan warga setempat ikut runtuh.

Fakta lainnya, dasar laut yang mengering kini menjadi sumber debu beracun. Angin membawa garam, pestisida, dan bahan kimia yang selama bertahun-tahun mengendap di dasar laut ke berbagai wilayah di sekitarnya. Kondisi ini berdampak pada kesehatan masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Para ilmuwan juga mencatat perubahan iklim lokal akibat menyusutnya Laut Aral. Musim panas menjadi lebih panas, musim dingin lebih dingin, dan curah hujan mengalami perubahan. Dampak tersebut turut memengaruhi sektor pertanian dan kehidupan masyarakat di kawasan Asia Tengah.

Meski demikian, upaya pemulihan terus dilakukan. Pembangunan Bendungan Kok-Aral di Kazakhstan berhasil meningkatkan volume air di sebagian wilayah Laut Aral bagian utara. Beberapa spesies ikan mulai kembali ditemukan dan aktivitas perikanan perlahan bangkit, meski sebagian besar Laut Aral masih menghadapi tantangan besar untuk pulih sepenuhnya.

Kisah Laut Aral kini menjadi pelajaran penting bagi dunia tentang pentingnya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Para ahli menilai, tanpa perencanaan yang matang, eksploitasi alam dalam skala besar dapat menimbulkan dampak lingkungan yang berlangsung hingga puluhan bahkan ratusan tahun.

Sumber: National Geographic Indonesia, National Geographic Society, dan berbagai laporan penelitian lingkungan mengenai Laut Aral.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....