Temuan di Sulawesi Ubah Sejarah Seni Tertua Dunia

  • 06 Jun 2026 08:49 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Indonesia kembali mencatatkan namanya dalam sejarah peradaban manusia dunia. Sebuah penelitian internasional terbaru mengungkap bahwa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun yang ditemukan di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, kini menjadi seni cadas tertua yang pernah diketahui hingga saat ini.

Temuan tersebut merupakan hasil penelitian kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Griffith University, dan Southern Cross University Australia. Hasil riset itu telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature melalui artikel berjudul Rock Art from at Least 67,800 Years Ago in Sulawesi.

Menurut peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, Adhi Agus Oktaviana, usia minimum seni cadas di Pulau Muna tercatat sekitar 16.600 tahun lebih tua dibandingkan seni cadas Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan. Temuan ini juga sekitar 1.100 tahun lebih tua dibandingkan cap tangan di Spanyol yang selama ini dianggap sebagai salah satu seni gua tertua di dunia.

Untuk menentukan usia lukisan tersebut, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi permukaan gambar. Hasil analisis menunjukkan usia lapisan tersebut mencapai 71,6 ± 3,8 ribu tahun, sehingga memberikan batas usia minimum sekitar 67.800 tahun bagi cap tangan yang ditemukan di Leang Metanduno.

Penemuan ini tidak hanya mengubah pemahaman mengenai sejarah seni manusia, tetapi juga memberikan bukti baru tentang kemampuan manusia modern pada masa prasejarah. Adhi menjelaskan bahwa keberadaan manusia di Pulau Muna pada periode tersebut menunjukkan adanya kemampuan melakukan penyeberangan laut secara sengaja hampir 70.000 tahun lalu.

Temuan tersebut turut memperkuat pandangan bahwa kawasan Wallacea bukan sekadar jalur migrasi menuju Australia, melainkan wilayah tempat manusia modern awal hidup dan berkembang. Adhi menyebut sangat mungkin pembuat seni cadas itu merupakan bagian dari populasi manusia yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur hingga mencapai daratan Sahul yang kini mencakup Australia dan Papua.

Profesor Renaud Joannes-Boyau dari Southern Cross University menilai penanggalan seni cadas ini memberikan bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul. Temuan tersebut sekaligus memperkuat teori bahwa manusia telah mencapai kawasan Australia–Papua setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.

Selain usianya yang luar biasa tua, cap tangan di Leang Metanduno juga memiliki karakteristik unik. Profesor Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution menjelaskan bahwa beberapa jari pada cap tangan tersebut tampak dipersempit sehingga menyerupai cakar atau narrow finger, yang menunjukkan adanya ekspresi simbolik yang cukup kompleks pada manusia masa itu.

Menurut Adam Brumm, makna simbolik dari bentuk tersebut masih belum dapat dipastikan. Namun, ia menilai kemungkinan terdapat gagasan mengenai hubungan erat antara manusia dan hewan, sebagaimana juga tercermin pada sejumlah seni lukis prasejarah lain yang ditemukan di Sulawesi.

Penelitian yang dipublikasikan melalui BRIN dan National Geographic Indonesia juga menunjukkan bahwa tradisi seni cadas di Sulawesi Tenggara berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang. Penanggalan di sejumlah situs lain seperti Gua Mbokita, Gua Anawai, dan Gua Berlian memperlihatkan aktivitas seni yang berlangsung dari sekitar 44.700 tahun lalu hingga sekitar 17.300 tahun lalu, menunjukkan keberlanjutan tradisi budaya selama puluhan ribu tahun.

Profesor Maxime Aubert menilai temuan tersebut semakin mengukuhkan posisi Sulawesi sebagai salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia. Ia menyebut akar tradisi seni di kawasan ini telah berkembang sejak fase paling awal hunian manusia modern di wilayah tersebut.

Di balik nilai ilmiahnya yang besar, para peneliti juga mengingatkan pentingnya pelestarian kawasan karst yang menyimpan situs-situs seni cadas purba. Dengan meningkatnya aktivitas pemanfaatan sumber daya alam di sejumlah wilayah, perlindungan terhadap warisan budaya berusia puluhan ribu tahun ini dinilai menjadi tanggung jawab bersama agar tetap dapat dipelajari dan dinikmati oleh generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....