Jejak Sunyi Hewan Pompeii: Bukti Ilmiah dan Penemuan Arkeologis
- 28 Apr 2026 16:47 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Tragedi Letusan Gunung Vesuvius tahun 79 M tidak hanya mengubur ribuan manusia, tetapi juga menyisakan bukti ilmiah tentang nasib hewan yang hidup di kota Pompeii. Melalui penelitian arkeologi selama lebih dari dua abad, para ilmuwan berhasil merekonstruksi detik-detik terakhir hewan-hewan tersebut dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Metode Ilmiah: Teknik Cetakan Giuseppe Fiorelli
Penemuan paling penting dalam memahami korban Pompeii—termasuk hewan—tidak lepas dari kontribusi arkeolog Italia Giuseppe Fiorelli pada tahun 1860-an.
Fiorelli mengembangkan teknik revolusioner: Ia menyadari bahwa tubuh yang telah membusuk meninggalkan rongga dalam lapisan abu yang mengeras Rongga tersebut kemudian diisi dengan plester , Hasilnya adalah cetakan detail posisi tubuh saat kematian.
Metode ini masih digunakan hingga kini, bahkan dikembangkan dengan teknologi resin modern dan CT scan oleh para peneliti seperti Pompeii Archaeological Park.
Temuan Anjing Terikat: Bukti Fisik yang Terdokumentasi
Salah satu bukti paling terkenal adalah cetakan seekor anjing yang ditemukan di House of the Tragic Poet. Pertama kali didokumentasikan pada abad ke-19 . Dipublikasikan dalam laporan arkeologi resmi Italia. Menunjukkan posisi tubuh melengkung akibat kontraksi otot karena panas ekstrem(heat rigor). Penelitian modern menggunakan CT scan menunjukkan detail: struktur tulang , posisi rantai di leher bahkan kondisi gigi
Penemuan Kuda di Civita Giuliana (2018–2020)
Penemuan penting lainnya terjadi di situs pinggiran Pompeii, Civita Giuliana. Penelitian dilakukan oleh Pompeii Archaeological Park bekerja sama dengan jaksa Italia untuk mencegah penjarahan. Hasilnya ditemukan tiga ekor kuda dalam kandang , salah satu kuda masih memakai perlengkapan (saddle dan harness) kemudian dibuat cetakan lengkap menggunakan teknik modern. Dan Temuan ini dipublikasikan secara luas dalam laporan ilmiah dan media internasional, termasuk liputan National Geographic.
Analisis Ilmiah Penyebab Kematian
Penelitian vulkanologi modern menunjukkan bahwa korban—termasuk hewan—tidak mati karena lava, melainkan:
Awan piroklastik (gas panas + abu) , Suhu bisa mencapai 300–700°C , Kematian terjadi dalam hitungan detik
Studi oleh ahli vulkanologi seperti Pier Paolo Petrone dari Universitas Napoli menunjukkan: jaringan tubuh mengalami penguapan cepat dan posisi tubuh membeku akibat panas ekstrem.
Bukti Kehidupan Sehari-hari: Analisis Sisa Tulang. Selain cetakan, ilmuwan juga menemukan: tulang hewan di dapur (thermopolium) , sisa makanan seperti bebek, ikan, dan kambing .Analisis zooarkeologi membantu mengungkap: pola makan masyarakat Romawi dan jenis hewan yang dipelihara
Penemuan ini bukan sekadar artefak, melainkan data ilmiah yang memperlihatkan bagaimana bencana alam ekstrem memengaruhi seluruh ekosistem—bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....