Dinas KPTPH Gorontalo Gelar Rakor Pertanian Modern PM-AAS 2026

  • 24 Jul 2026 10:33 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Gorontalo sukses menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Model Pertanian Modern/Advanced Agricultural System (PM-AAS) Tahun 2026 di Ruang Rapat Dinas KPTPH Provinsi Gorontalo.

Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mempercepat implementasi budidaya padi berbasis pertanian modern guna mendukung target swasembada pangan berkelanjutan.

Rakor diikuti oleh Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BBRMP) Provinsi Gorontalo, Kepala Dinas Pertanian kabupaten/kota atau yang membidangi fungsi pertanian, koordinator penyuluh, ketua tim kerja penyuluh, serta Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) se-Provinsi Gorontalo.

Rapat ini bertujuan menyosialisasikan penerapan budidaya padi model PM-AAS kepada pemerintah kabupaten/kota, melakukan identifikasi calon petani dan calon lahan (CPCL), serta mempercepat pelaksanaan tanam pada periode Juli–September 2026 dengan target luasan mencapai 6.576 hektare sesuai sasaran yang ditetapkan pemerintah pusat.

Dalam arahannya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Muljady D. Mario, menegaskan bahwa keberhasilan program PM-AAS sangat bergantung pada kesiapan lahan, ketersediaan air, serta komitmen petani dalam menerapkan teknologi budidaya modern.

"Program PM-AAS uang kami bahas pada rapat hari Selasa bukan sekadar meningkatkan luas tanam, tetapi merupakan transformasi sistem budidaya padi menuju pertanian yang lebih modern, efisien, dan produktif," kata Muljady, Kamis 23 Juli 2026.

Muljady mengungkapkan pelaksanaan program harus dilakukan pada lahan beririgasi teknis dengan ketersediaan air yang memadai serta didukung petani yang siap menerapkan seluruh standar teknis budidaya.

Selain membahas percepatan penetapan CPCL, Rakor juga menghasilkan sejumlah langkah strategis, di antaranya penyusunan jadwal tanam Juli hingga September 2026, pemetaan kebutuhan dan ketersediaan benih padi, identifikasi kebutuhan alat tanam drum seeder untuk sistem tanam benih langsung (Tabela), serta perhitungan kebutuhan pupuk, pestisida, dan alat mesin pertanian.

Pembahasan juga difokuskan pada upaya mitigasi musim kemarau dan potensi dampak El Nino melalui optimalisasi jaringan irigasi, penanganan sedimentasi saluran primer dan sekunder, pengaturan distribusi air oleh petugas pintu air (P3A), serta pemanfaatan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, pompa air dalam, dan pompa air dangkal.

Kepala Dinas juga menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak dalam menyosialisasikan teknologi PM-AAS kepada petani secara berkelanjutan.

Model budidaya ini mengedepankan pemanfaatan alat dan mesin pertanian modern, penggunaan benih sebanyak 70–80 kilogram per hektare, pola tanam rapat 4:1 atau 6:1, serta penggunaan mekanisasi pada tahap panen dan pascapanen guna meningkatkan efisiensi usaha tani.

"Kami berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bergerak cepat dan bersinergi agar target PM-AAS tahun 2026 dapat tercapai. Dengan produktivitas yang ditargetkan mencapai 9 hingga 11 ton gabah kering panen per hektare," ujar Muljady.

Program ini diharapkan mampu meningkatkan produksi padi, menekan biaya usaha tani, serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani di Provinsi Gorontalo.

Melalui implementasi PM-AAS, Pemerintah Provinsi Gorontalo optimistis mampu mewujudkan sistem budidaya padi yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional serta memperkuat kesejahteraan petani. (mcgorontaloprov/Oman)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....