Dalam laporannya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2) selaku Ketua Panitia, Erni Nuraini Mansur, menyampaikan bahwa pelatihan tahun ini menghadirkan inovasi melalui pengintegrasian materi Keterampilan Dasar Bahasa Isyarat ke dalam kurikulum pelatihan petugas TB. Langkah tersebut merupakan implementasi Transformasi Kesehatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang ramah disabilitas, sehingga komunikasi dengan pasien Tuli dapat berlangsung lebih efektif dan mendukung keberhasilan pengobatan.
Para peserta menyambut positif materi tersebut. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa pembelajaran bahasa isyarat memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi dengan pasien Tuli merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien dan menghormati hak setiap warga untuk memperoleh layanan kesehatan yang setara.
Melalui pelatihan ini, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo menegaskan komitmennya untuk mewujudkan layanan kesehatan yang inklusif sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo Tahun 2025–2029.
Dengan penguatan kapasitas petugas kesehatan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kompetensi komunikasi yang inklusif, diharapkan upaya eliminasi Tuberkulosis di Provinsi Gorontalo dapat berjalan lebih efektif dengan mengedepankan prinsip no one left behind, sehingga seluruh masyarakat memperoleh hak yang sama atas pelayanan kesehatan yang berkualitas. (mcgorontaloprov/krisna/ilb/md)