Kadis DKP Provinsi Gorontalo Jelaskan Fenomena Availability Heuristic
- 24 Feb 2026 11:56 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo Aryanto Husain dilapori kalau harga ikan sedang naik. Harganya bahkan mendekati dua kali lipat. Di beberapa pasar ikan dan lapak-lapak penjualan tawar menawar diwarnai suara melemah. Bukan karena puasa, penjual dan pembeli sama-sama pasrah, harga itu susah untuk ditawar karena ikan lagi kurang pasokannya.
Saat mengalami kelangkaan, kecenderungan akan membentuk persepsi kelangkaan yang sering lebih lebih kuat dari fakta , hal ini seperti terjadi saat orang berbondong-bondong memborong minyak goreng hanya karena ada isu produknya berkurang di pasar.
"Gejala availability heuristic ini bisa menimpa siapa saja. Ketika suatu produk terasa jarang di pasar, pikiran langsung menyimpulkan “produknya habis”, padahal bisa jadi hanya distribusi dan perilaku konsumsi yang berubah," kata Aryanto Husain, Selasa, 24 Februari 2026.
| Baca juga: DPMPTSP Ajak UMKM Menjadi Investor |
Aryanto menjelaskan kelangkaan seharusnya menjadi alarm kesadaran, bukan sumber kepanikan.
Menurutnya rasa "langka" seharusnya bisa mendorong manusia lebih bijak dan sadar mengonsumsi secukupnya, menghargai sumber daya, dan memperbaiki perilaku kolektif.
Kelangkaan lebih sering menjadikan takut, dan justeru lupa bersyukur. Kulkas bisa saja masih penuh dengan ikan, tapi hati kenapa tetap cemas. Meja makan lengkap, tapi keluhan lebih cepat keluar dari pada doa.
"Scarcity mindset mendorong kita selalu merasa kekurangan. Pikiran menyempit, hanya fokus pada “apa yang akan habis”, bukan “apa yang sudah ada”. Lupa bersyukur," ujar Aryanto.
Harga ikan tidak naik sendirian, kenaikannya bisa ditemani produk lainnya. Fikiran ekonomi manusia teringat inflasi, seberapapun tebalnya uang di dompet, tidak bisa membawa pulang belanja seperti biasanya. Akibatnya pani bisa berlebihan.
Ironisnya, saat ikan murah dan melimpah, konsumen abai menyisakan bahkan membuang. masyarakat lebih takut kehilangan ikan murah daripada bersyukur pernah menikmatinya. Ia beranggapan harga mahal bukan hanya soal stok, tapi soal rasa takut “tidak kebagian”.
"Padahal ikan tetap ada di kolam, sungai dan masih melimpah di lautan. Laut tidak pindah ke mana-mana. Ikan tetap berenang. Yang berubah adalah cara manusia memberi nilai: dari “cukup” menjadi “tidak pernah cukup”. Ketika kenyamanan menjadi kebiasaan, rasa syukur menghilang," ujar Aryanto.
Keterbiasaan makan ikan setiap hari menjadikan masyarakat lupa bahwa itu adalah hadiah kemewahan ekologis. Rasa syukur yang kurang merusaknya. Rasa langka memperparahnya. masyarakat kemudian merusak relung ekologi yang seharusnya tetap terjaga buat mereka hidup nyaman.
Saat menikmati kemewahan rasa berbagai variasi sajian ikan berapa banyak di antara warga yang ingat siapa yang menangkap, siapa yang membawanya ke pasar, siapa yang mengolahnya menjadi produk siap jual.
Aryanto mengungkapkan bahwa nelayan, ikan, dan penghargaan adalah sebuah paradoks. Nelayan hidup dekat laut, tapi justru sering paling jarang menikmati ikan terbaik. Warga yang tinggal di kota lupa bersyukur karena tenggelam dalam rasa kekurangan.
Dalam dunia yang takut kehabisan, bersyukur seharusnya menjadi tindakan paling rasional. Karena orang yang bersyukur tidak serakah, dan orang yang tidak serakah jarang menciptakan kelangkaan.
Ia menegaskan bahwa kelangkaan bukan hanya soal ikan di laut, tetapi tentang kesadaran di kepala manusia. Rasa takut mempercepat krisis, rasa syukur memperpanjang keberlanjutan. (mcgorontaloprov/yanto)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....