Harga Minyak Menuju USD100, Dampak bagi Gorontalo
- 09 Mar 2026 17:50 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo – Lonjakan harga minyak dunia yang menembus kisaran 100 dolar Amerika Serikat per barel memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global maupun nasional. Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu produksi serta distribusi minyak di kawasan tersebut.
Data perdagangan minyak mentah jenis Brent menunjukkan harga mencapai sekitar 107,97 dolar AS per barel setelah perdagangan dibuka kembali di Chicago Mercantile Exchange pada Minggu (8/3/2026). Angka tersebut melonjak sekitar 16,5 persen dibandingkan harga penutupan sebelumnya yang berada di level 92,69 dolar AS per barel.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo sekaligus ekonom Kementerian Keuangan Provinsi Gorontalo, Herwin Mopangga, menilai kenaikan harga minyak ini berpotensi menimbulkan tekanan kebijakan bagi pemerintah. Pasalnya, asumsi harga minyak dalam APBN 2026 ditetapkan sekitar 70 dolar AS per barel, jauh di bawah harga pasar saat ini.
“Jika harga minyak dunia bertahan pada level tinggi, pemerintah akan menghadapi dilema kebijakan antara mempertahankan harga BBM melalui subsidi yang lebih besar atau menyesuaikan harga domestik dengan risiko meningkatnya inflasi,” ucap Herwin.
Ia menjelaskan kenaikan harga energi umumnya memicu inflasi yang bersumber dari kenaikan biaya produksi atau cost-push inflation. Energi merupakan komponen penting dalam berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari transportasi, distribusi barang, hingga produksi pangan dan perikanan.
Menurutnya, dampak kenaikan harga energi dapat terasa lebih kuat di daerah yang bergantung pada logistik jarak jauh seperti Gorontalo. Struktur ekonomi daerah yang bertumpu pada sektor pertanian, perikanan, perdagangan, dan jasa sangat dipengaruhi oleh biaya transportasi dan distribusi barang.
“Ketika harga BBM meningkat, ongkos angkut dari desa ke pasar maupun pengiriman antar daerah akan naik. Pada akhirnya, harga barang di tingkat konsumen ikut terdorong meningkat,” kata Herwin.
Ia mencontohkan sektor pertanian jagung yang menjadi komoditas unggulan Gorontalo sangat sensitif terhadap perubahan biaya logistik. Petani harus menanggung tambahan biaya untuk mengangkut hasil panen dari lahan menuju tempat pengumpulan atau pelabuhan pengiriman.
Kondisi serupa juga dialami sektor perikanan yang bergantung pada ketersediaan bahan bakar untuk aktivitas melaut. Kenaikan harga solar dapat meningkatkan biaya operasi kapal nelayan sehingga berdampak pada harga ikan di pasar maupun frekuensi melaut para nelayan.
Herwin menilai pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dan menjaga kelancaran distribusi pangan untuk mengurangi dampak kenaikan harga energi. Selain itu, dukungan terhadap sektor produksi seperti petani, nelayan, dan pelaku UMKM juga menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Jika harga minyak dunia bertahan di atas 100 dolar AS per barel, tantangan ekonomi bukan hanya soal inflasi, tetapi juga menjaga daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global,” tambahnya. (RA)