Tiga Tumbuhan Invasif Ancam Ekosistem Cagar Alam

  • 20 Agt 2026 22:34 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo - Hamparan vegetasi hijau masih mendominasi kawasan Cagar Alam Manggis Gadungan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pepohonan dan tumbuhan bawah tumbuh memenuhi kawasan hutan, menciptakan kesan bahwa ekosistem berada dalam kondisi baik.

Namun, kondisi hijau secara visual belum tentu mencerminkan keseimbangan ekosistem. Di balik rapatnya vegetasi, berbagai jenis tumbuhan terus berkompetisi memperoleh cahaya matahari, ruang tumbuh, air, dan unsur hara.

Salah satu kelompok tumbuhan yang menjadi perhatian adalah liana atau tumbuhan merambat. Keberadaan liana pada dasarnya merupakan bagian dari proses alami hutan. Persoalan muncul ketika spesies tertentu berkembang secara berlebihan hingga berpotensi mendominasi vegetasi, menghambat pertumbuhan tumbuhan lain, dan mengganggu proses ekologis.

Analisis risiko yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan mengidentifikasi 27 jenis tumbuhan yang berpotensi bersifat invasif di Cagar Alam Manggis Gadungan.

Dari keseluruhan jenis tersebut, tiga di antaranya memperoleh nilai keinvasifan paling tinggi dan ditetapkan sebagai prioritas pengendalian. Ketiganya adalah Poikilospermum suaveolens, Senegalia pennata, dan Marsdenia sinensis.

Ketiga jenis tersebut memiliki karakter sebagai tumbuhan merambat yang memanfaatkan vegetasi lain sebagai penopang untuk menjangkau area dengan paparan cahaya lebih tinggi.

Penentuan prioritas pengendalian tidak semata-mata didasarkan pada seberapa banyak tumbuhan tersebut ditemukan. Tingkat ancaman terhadap ekosistem serta peluang keberhasilan pengendalian juga menjadi pertimbangan penting.

Melalui analisis risiko, setiap jenis tumbuhan dinilai berdasarkan sejumlah indikator dan sistem skor. Hasil penilaian kemudian digunakan untuk mengelompokkan tingkat risikonya, mulai dari kategori sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah hingga dapat diabaikan.

Pendekatan tersebut memungkinkan pengelolaan dilakukan secara lebih terukur dan tidak hanya berdasarkan pengamatan bahwa suatu jenis tumbuhan terlihat melimpah atau mengganggu.

Pengelolaan tumbuhan invasif di kawasan konservasi membutuhkan kehati-hatian. Penanganan yang tidak tepat justru berpotensi menimbulkan gangguan baru terhadap keseimbangan ekosistem.

Karena itu, pengelola perlu mempertimbangkan dua aspek utama, yakni besarnya ancaman suatu jenis terhadap ekosistem serta tingkat kemungkinan tumbuhan tersebut dapat dikendalikan.

Hasil analisis terhadap tiga jenis liana menjadi dasar untuk menentukan skala prioritas. Meski demikian, pemantauan secara berkala tetap diperlukan untuk mengetahui pola penyebaran, tingkat dominansi, perkembangan populasi, hingga pengaruhnya terhadap tumbuhan lain.

Persoalan serupa juga ditemukan di sejumlah kawasan di luar cagar alam yang memiliki fungsi penting dalam menjaga sumber mata air. Perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek bersama pegiat konservasi Kediri turut menyoroti keberadaan tumbuhan invasif di kawasan tersebut.

Beberapa lokasi masih memiliki pohon dari genus Ficus, tetapi juga ditemukan tumbuhan invasif serta sejumlah pohon berukuran besar yang tumbang. Kondisi ini membuka peluang kolaborasi untuk menjaga kawasan yang berperan dalam perlindungan sumber air di wilayah Kediri.

Ancaman tumbuhan invasif tidak mengenal batas administratif. Penyebaran benih dapat berlangsung melalui aliran air, angin, satwa, maupun aktivitas manusia.

Karena itu, upaya pengendaliannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pengelola kawasan konservasi, pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, peneliti hingga komunitas lingkungan.

Sejumlah pihak yang terlibat dalam pembahasan tersebut antara lain Dinas Lingkungan Hidup Kediri, Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek, Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Muspika Kecamatan Puncu, serta pemerintah desa penyangga seperti Desa Manggis, Wonorejo, dan Asmorobangun.

Kolaborasi juga melibatkan Yayasan Masyarakat Ficus Indonesia, Wild Water Indonesia, Pramuka Saka Wanabakti Kediri, Pokmas Alas Simpenan Sejahtera, Mapala Pelita, staf BBKSDA Jawa Timur, Kader Konservasi Rudiyanto, akademisi Universitas Brawijaya, serta peneliti Kebun Raya Purwodadi.

Keterlibatan lintas sektor menjadi penting karena pemulihan ekosistem tidak selalu harus dilakukan dengan menanam pohon baru. Pada kawasan yang masih mampu melakukan regenerasi secara alami, proses tersebut dapat dipertahankan dengan mengurangi berbagai gangguan yang menghambat pertumbuhan dan keseimbangan vegetasi.

Dengan pendekatan berbasis data, pemantauan berkelanjutan, serta kolaborasi antarpihak, pengelolaan tumbuhan invasif diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat tanpa mengganggu proses alami yang masih berlangsung di dalam kawasan konservasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....