Bijak Menghadapi Tren Anak
- 12 Jul 2026 22:53 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID.Gorontalo - Di era digital saat ini, tren baru muncul hampir setiap hari. Mulai dari gaya berpakaian, mainan, tantangan di media sosial, hingga kebiasaan yang viral di internet, semuanya dengan cepat menarik perhatian anak-anak. Keinginan untuk mencoba hal baru memang merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang. Namun, jika anak terbiasa mengikuti tren tanpa memahami alasan maupun dampaknya, mereka berisiko menjadi pribadi yang mudah terpengaruh oleh lingkungan.
Dilansir dari mamasewa.com, orang tua tidak perlu melarang anak mengikuti semua tren. Justru yang lebih penting adalah membimbing mereka agar mampu menjadi diri sendiri, memiliki pendirian, dan tetap memegang nilai-nilai positif meski berada di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial.
Psikolog perkembangan anak menilai bahwa keinginan anak untuk mengikuti tren sering kali muncul karena mereka ingin diterima oleh lingkungan pertemanan. Anak cenderung merasa takut berbeda atau dikucilkan apabila tidak memiliki atau melakukan hal yang sama dengan teman-temannya.
Selain itu, rasa ingin tahu yang tinggi juga menjadi alasan mengapa anak mudah tertarik pada sesuatu yang sedang populer. Mereka ingin mencoba pengalaman baru tanpa sepenuhnya memahami manfaat maupun risiko yang mungkin muncul.
Faktor lain yang tak kalah besar adalah pengaruh media sosial. Konten viral, influencer favorit, hingga iklan yang terselip dalam berbagai platform digital mampu membentuk keinginan anak untuk mengikuti apa yang sedang menjadi perbincangan. Belum lagi pada masa pencarian jati diri, anak sering kali mengambil identitas dari lingkungan sekitar karena belum benar-benar mengenali dirinya sendiri.
Kurangnya arahan dari orang tua juga dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Jika setiap keinginan anak selalu dipenuhi tanpa adanya diskusi mengenai alasan dan manfaatnya, mereka akan terbiasa menganggap bahwa semua tren layak untuk diikuti.
Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Ajak mereka berdiskusi mengenai tren yang sedang ramai diperbincangkan. Tanyakan apa yang mereka sukai dari tren tersebut, lalu bantu mereka melihat sisi positif maupun negatifnya tanpa menghakimi.
Anak juga perlu dibiasakan berpikir kritis. Orang tua dapat melatih mereka untuk bertanya sebelum mengikuti sesuatu, seperti apakah tren tersebut benar-benar bermanfaat, siapa yang membuatnya, dan apakah ada dampak buruk yang mungkin ditimbulkan. Kebiasaan berpikir sebelum bertindak akan membantu anak lebih selektif dalam mengambil keputusan.
Selain itu, menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini juga sangat penting. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, serta ajaran agama dapat menjadi pedoman ketika anak dihadapkan pada berbagai pengaruh dari luar. Fondasi karakter yang kuat membuat anak tidak mudah terbawa arus hanya karena sesuatu sedang viral.
Orang tua juga dianjurkan untuk membantu anak mengenali potensi dan kelebihan dirinya. Dukungan terhadap hobi, bakat, dan minat positif akan menumbuhkan rasa percaya diri sehingga anak tidak merasa harus mengikuti semua tren demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Pendampingan penggunaan media sosial juga menjadi langkah yang tak kalah penting. Anak perlu memahami bahwa tidak semua yang terlihat di internet adalah kenyataan. Banyak konten dibuat untuk kepentingan promosi atau sekadar mengejar popularitas sehingga perlu disikapi dengan bijak.
Tak kalah penting, orang tua harus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Anak belajar melalui apa yang mereka lihat. Jika orang tua mampu memilih tren yang bermanfaat dan tidak mudah terbawa arus, anak pun akan mencontoh sikap tersebut.
Membangun lingkungan pergaulan yang sehat juga dapat membantu anak memiliki pengaruh positif. Teman yang memiliki minat baik, keluarga yang suportif, dan aktivitas yang bermanfaat akan membuat anak merasa diterima tanpa harus selalu mengikuti apa yang sedang viral.
Mengikuti tren memang bukan sesuatu yang salah. Namun, tidak semua tren membawa manfaat, terutama bagi anak-anak yang sedang membentuk karakter dan identitas dirinya. Oleh karena itu, peran orang tua bukan sekadar melarang, melainkan menjadi pembimbing agar anak mampu memilih mana yang patut diikuti dan mana yang cukup disaksikan. Dengan bekal komunikasi yang baik, nilai-nilai yang kuat, dan kemampuan berpikir kritis, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri serta tidak mudah terpengaruh oleh tren sesaat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....