Kisah Marbot Masjid yang Menginspirasi
- 11 Mar 2024 16:09 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak : Muhammad Syukur merupakan seorang marbot Masjid Darul Huda di Jalan Salat Panjang Pontianak Utara. Syukur kesehariannya bertugas merawat dan membersihkan masjid sejak tahun 2015 sampai sekarang.
Dalam bertugas membersihkan masjid, Syukur hanya mendapat honor sebesar 400 ribu rupiah dalam sebulan dari pengurus masjid.
Muhammad Syukur mengakui, bahwa honor 400 ribu itu hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam seminggu. Apalagi Syukur memiliki tanggungan merawat anak difabel yang merupakan keponakannya sendiri sehingga dengan terpaksa setiap bulan harus mengutang untuk memenuhi kebutuhannya.
"400 ribu itu, untuk bayar hutang belanja di toko 200 ribu, bayar listrik dan lainnya. Sehingga untuk menutupi kebutuhan sehari-hari terpaksa harus ngutang sampai terima honor dari masjid," katanya saat ditemui jurnalis RRI Pontianak.
Dia merawat anak difabel sejak 2007 saat anak tersebut masih berusia 3 bulan sampai sekarang berusia 16 tahun.
Warga Pontianak sejak 1981 ini, harus kerja ekstra dan mengatur waktu dengan optimal untuk bertugas sebagai marbot masjid dan mengurusi satu anak difabe.
Saat memasuki bulan Ramadhan, Syukur mengaku, tugasnya tidak ada perbedaan seperti hari-hari biasanya. Bahkan dia bersyukur hadirnya bulan Ramadhan dia selalu menerima bantuan paket sembako dari warga sebagai belas kasihan. Dia bersyukur karena masih ada yang ingin membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Tanggungan satu anak cacat kebutuhan sehari-hari nyuapin makan bubur sama belikan kue roma kelapa. Sehingga saya hanya mengharap dari Allah," ucapnya dengan ekspresi sedih.
Honor sebagai marbot masjid, memang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi Syukur memiliki tanggungan merawat anak cacat yang merupakan keponakannya sendiri sehingga dengan terpaksa setiap bulan harus mengutang untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga dengan terpaksa Syukur harus mengutang ke toko untuk belanja kebutuhan hidupnya.
Dua tugas yang dilakukan Syukur ini, membutuhkan stamina dan sangat menguras tenaga, karena harus pulang pergi jalan kaki ke Masjid dengan jarak kurang lebih satu kilometer dan merawat anak cacat. Namun Syukur tetap konsisten dalam menjalaninya semata-mata ingin mendapatkan ridho Allah SWT. Terlebih saat bulan Ramadhan, aktivitas ibadahnya tetap terus ditingkatkan, baik siang maupun malam hari.
Meskipun fisiknya terasa letih, namun Syukur konsisten menjalani tugasnya dengan penuh keikhlasan dan cinta kepada Allah SWT.
Kisah perjuangan Muhammad Syukur bukan hanya sekedar cerita biasa, tetapi merupakan cerminan dari ketabahan dan keikhlasan dalam menjalani takdir yang telah ditetapkan. Semoga kisahnya bisa menginspirasi kita semua untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....