Merajut Empati Demi JKN dan NKRI Jadi Dedikasi Petugas BPJS Kesehatan
- 30 Jul 2026 00:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Petugas BPJS Kesehatan Satu bertindak sebagai penyeimbang informasi di 27 rumah sakit demi memastikan kesetaraan pelayanan pasien.
- Program JKN PBI menanggung penuh biaya cuci darah rutin delapan kali sebulan bagi lansia penderita penyakit kronis di RSUD Koja.
- BPJS Kesehatan Jakarta Utara memberikan kepastian reaktivasi kartu kepesertaan mandiri korban PHK dalam waktu 15 hingga 30 menit.
Dengungan ritmis
RRI.CO.ID, Jakarta Utara – Siang itu, RRI menyambangi Kantor Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Utara untuk bertemu dengan pimpinan dan petugasnya. Udara panas beralih sejuk AC saat kami memasuki gedung yang lokasinya berada di jalur kendaraan trailer besar.
Keramahan dan kehangatan penyambutan petugasnya menjadi hal pertama yang kami dapatkan saat membuka pintu. Dan, penyambutan itu bukan sekadar basa-basi.
RRI menyaksikan sendiri kehangatan pelayanan yang disajikan salah seorang petugas Kantor Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Utara. Di ruang tunggu tepat di belakang kami, petugas duduk berdampingan membantu peserta bernama Agus.
Agus mendatangi kantor pelayanan untuk mengurus reaktivasi kartu kepesertaan mandiri keluarga yang sempat nonaktif. Pria korban pemutusan hubungan kerja ini membutuhkan jaminan kesehatan demi pemeriksaan kandungan rutin istrinya.
Ia datang untuk melunasi tagihan iuran Kelas 3 sebesar Rp105.000 untuk tiga orang anggota keluarga terdaftar. Petugas dengan ramah menjelaskan proses kepastian aktivasi kartu yang berlangsung secara cepat serta efisien.
"Nanti setelah ini ditunggu aja 15 sampai 30 menit ya, langsung aktif ya," kata petugas.
"Oh, langsung aktif berarti? 1 Agustus baru bayar lagi? Oke," ujar Agus, Senin, 20 Juli 2026.
Petugas itu juga mengedukasinya mengenai kemudahan saluran transaksi tanpa tatap muka melalui WhatsApp Pandawa. Layanan digital di nomor 08118165165 tersebut hadir untuk mempermudah seluruh urusan administrasi peserta JKN.
Usai menyaksikan tuntas proses pelayanan di lobi, giliran kami dipersilakan masuk menuju ruang kerja Yuni. Sesuai janji temu, petugas BPJS Kesehatan Satu ini menyambut kedatangan kami dengan senyuman ramah dari sofa.
Perempuan yang sudah delapan tahun bertugas ini menjelaskan dinamika mengampu lima fasilitas kesehatan rujukan. Sebanyak 27 rumah sakit di Jakarta Utara saat ini dilayani oleh lima orang petugas.
Yuni senantiasa bertekad memberikan pendampingan secara profesional tanpa pernah membeda-bedakan tingkat kesulitan kasus medis. Pendekatan rasa empati selalu diutamakan agar setiap warga merasa terlayani secara adil dan bermartabat.
"Saya melihat semua pasien itu sama ya, Pak, setara. Kasus mau sulit atau mau berat, ya sama," ucap Yuni.

Menurutnya, tantangan utama petugas BPJS Kesehatan Satu di lapangan kerap timbul akibat perbedaan antara prosedur dengan ekspektasi warga. Yuni selalu menghadirkan solusi edukatif serta koordinasi intensif bersama pihak manajemen rumah sakit setempat untuk menyelesaikannya.
"Sebenarnya lebih kepada kemauan peserta yang tidak bisa kita sesuaikan dengan ekspektasinya," kata Yuni menjelaskan titik permasalahannya.
“Misalnya, solusi kita tawarkan adalah tindakan ini tidak bisa di rumah sakit X, harus dirujuk ke rumah sakit B. Nah, Bapak ini enggak mau di rumah sakit B, maunya X,” katanya.
“Kan sebenarnya secara mutu layanan, itu tidak mengurangi kan? Karena, sebenarnya bisa dilakukan di rumah sakit B itu,” kata Yuni lagi.
Melalui sambungan telepon, Kepala Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Utara Yayak Nugroho memberikan perspektif tambahan. Ia menekankan fungsi vital petugas BPJS Satu sebagai jembatan.
"BPJS Kesehatan Satu memiliki peran sebagai penyeimbang antara rumah sakit dengan peserta, supaya tidak terjadi asimetri informasi," ujar Yayak.
Pendekatan humanis dan rasa saling menghargai menjadi landasan utama dalam mengoptimalkan seluruh standar pelayanan. Yayak menegaskan pihaknya berkomitmen penuh untuk terus mendampingi warga dalam mendapatkan hak jaminan kesehatan secara adil.
"Mereka itu, para BPJS Kesehatan Satu, itu kan juga manusia, Pak. Ya, mbok ya diwongke lah," ucapnya.
Pesan tersebut sekaligus menyiratkan dedikasi para petugas BPJS Kesehatan Satu yang terkadang harus mampu menjembatani pernak-pernik emosional peserta. Ini yang membuat kami merasa perlu bergerak ke RS Koja demi menyaksikan langsung dampak penjaminan peserta JKN.
Dengungan ritmis lembut dari mesin cuci darah langsung menyambut langkah kami di lantai empat RSUD Koja. Yuni dengan rompi hijau “BPJS Kesehatan Satu Siap Membantu” senantiasa mendampingi kami melihat langsung perjuangan para pasien.
Ruang Hemodialisis tersebut memiliki 30 tempat tidur yang melayani sekitar 300 pasien rutin setiap bulan. Kami menjumpai Soebandrio yang berbaring tenang sambil mengenakan baju batik bercorak hijau serta cokelat.
“Oh enggak, (saya-red) sama istri,” katanya saat ditanya apakah ada yang menemaninya.
“Istri saya suruh minggir dulu. ‘Minggir dulu, mau datang tamu’, saya bilang,” kata Soebandrio berseloroh yang membuat kami tertawa.

Lengan kanan lansia berusia 70 tahun asal Cilincing ini tampak terhubung langsung ke mesin cuci darah. Pria kelahiran 7 Juli 1956 ini pertama kali divonis cuci darah di Rumah Sakit Islam Sukapura pada tahun 2018.
Ia sempat menolak tindakan cuci darah tersebut karena memiliki niat luhur untuk menunaikan ibadah haji. Soebandrio kemudian berikhtiar menjalani pengobatan alternatif herbal demi mempertahankan kesehatan fungsi organ ginjalnya.
Tingginya biaya pengobatan herbal tersebut perlahan-lahan menguras seluruh tabungan pribadinya hingga akhirnya ia mengalami kolaps. Tetangga lantas mengantarkan Soebandrio yang terkulai lemas menuju ruang perawatan medis RSUD Koja saat malam.

Soebandrio ternyata cukup jenaka saat menceritakan pengalaman emosional menghadapi kekhawatiran biaya rangkaian operasi. Ia secara spontan memberikan jawaban pasrah bernuansa canda ketika dokter mempertanyakan perihal jaminan BPJS Kesehatan.
“Dia (dokternya-red) bilang begini, ‘Kalau enggak dijamin BPJS gimana?’. Saya bilang, ‘Udah Dok, saya mendingan mati’, saya gituin aja kan," kata Soebandrio dengan mimik lucu yang membuat kami sekali lagi tertawa.
Dokternya lantas menenangkan Soebandrio dengan senyuman serta nada bicara ramah. Tindakan medis pada akhirnya dapat berjalan lancar karena seluruh biaya operasi ditanggung penuh BPJS Kesehatan.
"Tenang aja, wis tenang wae. (Dia-red) orang Jogja, ‘tenang aja’. Alhamdulillah dijamin," ujar Soebandrio menirukan ucapan dokternya.

Soebandrio menceritakan perjuangan berat berupa empat kali tindakan operasi besar pada beberapa organ tubuhnya. Ia pernah menjalani operasi ginjal kanan-kiri, kantong empedu, serta hernia hingga masuk ruang intensif dua hari.
Soebandrio juga menceritakan kisah almarhum kakaknya yang meninggal dunia usai empat tahun menjalani perawatan cuci darah. Kala itu, era sebelum hadirnya BPJS Kesehatan, membuat rumah keluarga di Solo terpaksa dijual hingga menyisakan utang.
Satu sesi cuci darah kini membutuhkan biaya Rp800.000 dan berlangsung rutin sebanyak delapan kali per bulan. Jaminan kepesertaan PBI membuat Soebandrio tidak perlu mengeluarkan biaya berobat rutin sepeser pun sampai sekarang.
"Walaupun saya cuci darah, saya bawa happy-lah. Saya ikhlas ya Allah, kau beri aku cuci darah. Namun berikan kami kemudahan dalam berobat segala macam. Itu aja," kata Soebandrio.
Di tengah perawatan rutin, Soebandrio mengaku tetap ceria menjalankan aktivitas sehari-hari mengasuh serta mengantar empat cucunya. Kehadiran cucu-cucu tersayang memberikannya semangat hidup bagi lansia yang selalu berprasangka baik ini.
Ketenangan dan senyum bahagia Soebandrio menjadi bukti nyata hadirnya rasa tenang di tengah proses perawatan medis. Petugas Humas RSUD Koja Ria menjelaskan koordinasi pelayanan dengan BPJS Kesehatan Satu di lapangan selalu berjalan lancar.
"Keberadaan BPJS Kesehatan Satu sendiri alhamdulillah sangat membantu. Jadi pelayanan dan informasinya yang diberikan sama," ujar Ria.
Perjalanan RRI satu hari itu menunjukkan betapa komitmen pelayanan kesehatan seluruh lini penting dalam memberikan kepastian jaminan kesehatan. Pesan Kepala Cabang Yayak Nugroho menutup kunjungan kami melalui penegasan janji pengabdian atas nama seluruh petugas BPJS Kesehatan.
"Kami akan tetap terus melayani dengan sepenuh hati, demi JKN, demi NKRI," ucap Yayak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....