Dongeng Literasi Anak Kemendag, saat Tawa Anak Menumbuhkan Kejujuran

  • 23 Jul 2026 13:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kegiatan Dongeng Literasi Anak (Dolan) diselenggarakan di Perpustakaan Kementerian Perdagangan pada 22 Juli 2026 dengan menghadirkan 25 anak berusia dua hingga lima tahun.
  • Program ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kejujuran, ketelitian, dan kecintaan membaca sejak dini melalui metode dongeng interaktif dengan menggunakan boneka kelinci dan buaya.
  • Peserta kegiatan berasal dari Taman Asuh Ramah Anak serta putra-putri pegawai Kementerian Perdagangan dalam suasana yang hangat dan edukatif.

TAWA renyah anak-anak memecah kesunyian Perpustakaan Kementerian Perdagangan yang biasanya akrab dengan bisik lembaran buku. Di antara boneka kelinci dan buaya, benih-benih kejujuran, ketelitian, serta kecintaan membaca perlahan tumbuh dalam hati mungil mereka.

Suasana penuh kehangatan itu mewarnai kegiatan Dongeng Literasi Anak (Dolan) di Perpus pada Rabu, 22 Juli 2026. Kegiatan itu menghadirkan 25 anak berusia dua hingga lima tahun dari Taman Asuh Ramah Anak serta putra-putri pegawai.

Melalui kisah seekor kelinci yang membeli mainan dari seekor buaya, anak-anak diajak menyelami makna kejujuran dalam setiap transaksi. Cerita sederhana itu mengajarkan bahwa setiap pilihan perlu disertai ketelitian agar tidak berakhir dengan penyesalan.

“Ketika membeli sesuatu, anak-anak jadi bisa cek dulu apakah barang itu sudah baik, layak dibeli, dan memang dibutuhkan. Anak-anak bisa melihat bagaimana cara mempersiapkan diri untuk melakukan transaksi,” ujar pendongeng Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, Valentin Danuwirya.

Bagi Valentin, dongeng bukan sekadar rangkaian cerita yang mengundang tawa anak-anak. Dongeng menjadi jembatan yang menghubungkan imajinasi dengan nilai kehidupan tanpa harus menggurui pendengarnya.

“Kami tidak langsung menyebutkan manfaatnya, tetapi membiarkan anak-anak berimajinasi dengan makna yang kami selipkan di dalam setiap cerita. Anak-anak tahu banyak hal dari cerita-cerita yang ada di sekitar,” kata Valentin.

Keceriaan itu semakin lengkap ketika Menteri Perdagangan Budi Santoso hadir menyapa anak-anak dengan senyum hangatnya. Kepolosan seorang balita yang bertanya tentang cita-cita pun membuat suasana berubah menjadi momen yang menghangatkan hati.

“Rajin belajar. Di sini (kantor Kemendag) ada perpustakaan, nanti anak-anak bisa baca di sini, kalian baca ya di sini,” kata Budi.

Budi mengajak anak-anak menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua untuk bertumbuh bersama ilmu pengetahuan. Baginya, setiap halaman buku menyimpan jendela baru yang akan membawa anak-anak mengenal dunia lebih luas.

Kehangatan acara juga meninggalkan kesan mendalam bagi para orang tua yang mendampingi buah hati mereka. Mereka melihat perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang menumbuhkan rasa ingin tahu sejak usia dini.

“Saya melihat susunan acaranya menarik, jadi saya tertarik untuk ikut. Saya juga ingin anak saya ada kesadaran untuk membaca buku,” ujar pegawai Kementerian Perdagangan, Tino Dhamroni.

Harapan yang sama turut disampaikan pegawai Kementerian Perdagangan, Nurokhman, yang ingin kegiatan tersebut terus berlanjut. “Saya berharap acara seperti ‘Dolan di Perpus’ ini bisa lebih sering diadakan,” ujar Nurokhman.

Di balik kisah sederhana tentang seekor kelinci dan seekor buaya, Perpustakaan Kementerian Perdagangan sedang menanam benih-benih masa depan. Dari tawa yang bergema di antara rak-rak buku, lahirlah harapan agar generasi kecil itu tumbuh menjadi pembaca cerdas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....