Senja Jakarta dan Harapan Pelaku Usaha Menembus Pasar Global
- 14 Mei 2026 23:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Forum NGOPI mempertemukan pelaku UMKM dengan eksportir dan agregator untuk memperluas pasar global.
- Pelaku usaha menghadapi tantangan ekspor seperti regulasi baru, perang global, dan kenaikan dolar AS.
- Kemendag mendorong program UMKM BISA Ekspor melalui jaringan perwakilan dagang di 33 negara.
RRI.CO.ID, Jakarta - Senja Jakarta turun perlahan di sela gedung-gedung ibu kota ketika ruang diskusi kecil itu mulai dipenuhi suara harapan. Aroma kopi hangat menguar pelan, menyatu dengan percakapan para pelaku usaha yang datang membawa mimpi menembus pasar dunia.
Di tengah temaram lampu dan riuh obrolan sore, ratusan pelaku usaha dari berbagai daerah berkumpul dalam forum NGOPI di Jakarta Pusat, Rabu, 13 Mei 2026. Mereka datang bukan sekadar membawa produk, tetapi juga harapan agar usaha kecil yang dirintis perlahan dapat dikenal hingga negeri seberang.
Forum NGOPI atau Ngobrol Produk Indonesia mempertemukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dengan eksportir serta agregator. Ruang itu menjadi tempat bertukar cerita tentang perjuangan, kegagalan, dan jalan panjang menuju pasar global.
Pengusaha batik asal Solo, Abdullah, datang dengan semangat memahami peluang ekspor lebih dalam. Di balik lembar kain batiknya, tersimpan harapan agar warna dan motif tradisi Indonesia dapat dikenakan masyarakat dunia.
Sementara itu, pelaku kopi sangrai asal Jakarta, Hamzah, sibuk mencatat berbagai prosedur perdagangan internasional. Aroma kopi yang selama ini memenuhi ruang kecil usahanya, kini ingin ia kirim melintasi batas negara.
Pelaku usaha camilan rumahan asal Balikpapan, Nana, juga menyimpan mimpi sederhana yang tumbuh besar di dalam hati. Ia berharap produknya dapat menemukan tempat di pasar luar negeri, meski persaingan global semakin keras dan melelahkan.
Di sudut ruangan lain, beberapa pelaku usaha membagikan kisah panjang menghadapi tantangan ekspor yang tak selalu ramah. Pasar internasional, bagi mereka, bukan hanya tentang peluang besar, tetapi juga tekanan yang sering kali datang tanpa aba-aba.
“Ada banyak regulasi baru seperti aturan produk dangerous goods hingga kebijakan devisa hasil ekspor yang harus kami ikuti. Hal tersebut memengaruhi kecepatan ekspor karena kami harus menyesuaikan diri,” ujar pemilik PT Herisa Dwi Sejahtera, Marisa Hidayat.
Pelaku usaha bubuk cokelat PT Terra Internasional Indonesia, Nurul Afni, juga merasakan beratnya dinamika perdagangan global. Produk cocoa powder miliknya pernah menempuh perjalanan panjang hingga Sri Lanka, Mesir, dan Pakistan.
Namun di balik keberhasilan pengiriman itu, ada kecemasan yang terus mengikuti para eksportir setiap harinya. Perang global dan kenaikan dolar Amerika Serikat membuat harga perdagangan internasional semakin sulit ditebak arahnya.
“Saat ini perang sangat menantang sekali, kemudian meningkatnya dolar (Amerika Serikat) menjadi tantangan ketika berjualan karena harga-harga meningkat tajam. Saya rasa (forum ini) sangat membantu para eksportir karena kami saling tukar rasa dengan masalah yang kami hadapi,” ujar Nurul.
Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Budi Santoso, hadir mendengarkan langsung keresahan para pelaku usaha dalam forum tersebut. Ia memperkenalkan program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi atau UMKM BISA Ekspor.
Kementerian Perdagangan memiliki 46 perwakilan dagang yang tersebar di 33 negara untuk membantu pelaku usaha menembus pasar global. Perwakilan itu terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang mendampingi proses ekspor.
“Banyak pelaku usaha cerita ke saya kalau mereka bingung untuk mendapatkan buyer. Nah, Kemendag punya UMKM BISA Ekspor dengan perwakilan di 33 negara,” ujar Budi.
Ia juga memperkenalkan Indonesia Design Development Center (IDDC) kepada para pelaku usaha yang hadir sore itu. Fasilitas tersebut membantu pengembangan desain produk agar lebih siap bersaing di pasar internasional.
Ketika senja Jakarta perlahan tenggelam dan forum NGOPI menutup pertemuan dengan hangat, percakapan di ruangan itu belum benar-benar usai. Di antara sisa aroma kopi dan tumpukan catatan kecil, mimpi para pelaku UMKM masih menyala, menunggu giliran menembus dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....