Pedal Gas dan Draft Akta, Kisah Nia dan Ina dalam Sosok Kartini Masa Kini

  • 21 Apr 2026 13:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Di balik hiruk-pikuk jalanan, Nia menapaki hidupnya dari balik kemudi. Perempuan ini mulai mengenal dunia kemudi sejak 13 tahun, ketika anak seusianya masih berada di balik meja belajar.

Bagi Nia, perjalanan justru dimulai lebih cepat, bahkan awal perjalanannya menapaki karir ini pun sederhana. Tahun 2007 silam, ia diminta sang ayah, yang juga seorang sopir, untuk sekadar memanaskan mesin.

Kemudian, Nia belajar memajukan kendaraan, hingga perlahan belajar mengendalikan mobil. Tak disangka, dari kebiasaan kecil itu, kemampuannya terus terasah.

Bahkan, kendaraan pertama yang ia kemudikan bukanlah mobil biasa, melainkan truk pasir. “Aku pernah nyetir truk, pick up, sampe sekarang jadi sopir pribadi,” ujar Nia kepada RRI.co.id, Selasa, 21 April 2026.

Jalanan menjadi ruangnya belajar sekaligus tempat ia menemukan jati diri. Menariknya, salah satu rute terjauh yang pernah ia tempuh adalah hingga ke Pulau Bali.

Keputusan Nia menjadi seorang driver bukan tanpa alasan, sebab kecintaannya pada dunia mengemudi menjadi landasan utama. Baginya, mengemudi bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari hidup yang ia nikmati.

“Jadi driver itu bikin saya punya banyak pengalaman, pengetahuan, dan yang paling penting, teman,” katanya. Menghabiskan waktu di jalan, menurut Nia, membuka matanya tentang kerasnya medan sekaligus hangatnya pertemanan.

Di momen peringatan Hari Kartini, Nia punya pesan sederhana namun kuat bagi perempuan Indonesia. “Jadilah wanita yang tangguh dan kuat mental di segala medan,” katanya.

Sementara itu, Ina yang baru berumur 22 tahun memilih menjalani dua peran sekaligus, sebagai mahasiswi dan staf notaris. Sejak Agustus 2022, ia mulai menapaki dunia kerja, bukan sekadar untuk mencari pengalaman, tetapi upaya membiayai pendidikannya.

Keputusan untuk bekerja sambil kuliah bukan hal mudah. Ada waktu yang harus dibagi, tenaga yang harus dijaga, dan fokus yang tak boleh terpecah.

Namun bagi nya, semua itu adalah bagian dari proses. Ina sadar, langkah yang ia ambil hari ini adalah investasi untuk masa depan.

Di balik rutinitas yang padat, ada momen sederhana yang selalu ia tunggu, yakni hari gajian. Bagi Ina, itu bukan hanya soal angka, tetapi juga bentuk apresiasi atas kerja keras yang telah ia jalani.

Ketika ditanya soal pesan Hari Kartini, Ina justru menjawab ringan sambil tertawa. “Nanti ya, lagi nunggu akad,” ujarnya berseloroh.

Candaan itu mencerminkan sisi santainya di tengah kesibukan yang ia jalani setiap hari. Kisah Nia dan Ina menjadi gambaran perempuan Kartini yang mandiri dan menjalani hidup dengan caranya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....