Bank Sampah Jadi Pilar Ekonomi Sirkular, Dorong Inovasi dan Perubahan Perilaku
- 31 Mar 2026 22:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Banten - Berawal dari inisiatif sederhana berupa bank sampah, Kertabumi Recycling Center menjadi ekosistem pengelolaan sampah terpadu yang tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada ekonomi masyarakat. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci keberlanjutan ditengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
“Saya tahu bahwa untuk mengubah orang mau membawa sampahnya itu tidak mudah. Menurut saya, Perubahan perilaku bisa terjadi dari diri sendiri, kedua (kalau) ada dampak ekonomi yang terjadi disitu.“ ucap Santi Novianti, Co-Founder Kertabumi saat diwawancarai RRI pada Senin 30 Maret 2026, Tangerang Selatan, Banten.
Setiap sampah yang dibawa atau disetorkan oleh masyarakat dapat langsung dikonversi menjadi uang. Menurut Santi, inilah yang membedakan Kertabumi dengan Bank Sampah lainnya.
"Kita ngga nabung sistemnya. Bawa sampah hari ini bisa langsung dapat uangnya saat itu juga.” ujar Santi.
Saat ini tercatat sekitar 2.800 nasabah aktif yang tersebar di Jabodetabek. Perputaran uang mencapai Rp75 juta hingga Rp100 juta.
Selain melibatkan masyarakat umum, Kertabumi juga menjalin kerja sama dengan perusahaan dan institusi pendidikan. Program pengambilan sampah rutin dilakukan di 12 sekolah setiap dua minggu sekali. Untuk sektor perusahaan, diterapkan sistem sirkular, dimana sampah yang disetorkan ke Kertabumi diolah secara bertanggung jawab dan dikembalikan ke perusahaan dalam bentuk sebuah produk.
”Kalau perusahaan, sampah yang mereka bawa kesini itu kita olah jadi beberapa macam produk. Atau nanti kita liat sampahnya itu bisa sesuai sama core bisnisnya mereka,"ucapnya.
Dalam operasionalnya, Kertabumi menerapkan empat metode pengolahan sampah, yaitu sampah menjadi souvenir, sampah menjadi funiture, sampah menjadi kontruksi bangunan, dan sampah menjadi solar. Setiap bulannya, Kertabumi mampu mengelola sekitar 10 hingga 15 ton sampah, angka ini terus meningkat seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan.
Santi menegaskan bahwa bank sampah saja tidak cukup untuk bertahan dalam jangka panjang. Inovasi menjadi faktor utama, karena itu selain layanan bank sampah, Kertabumi juga mengembangkan berbagai program lain.
“Awalnya dari bank sampah, setelah itu kita berfikir bahwa untuk bisa sustain harus terus berinovasi. Akhirnya kita mengembangkan ada workshop, kinjungan edukasi, kolaborasi corporate social responsibility (CSR) dengan perusahaan, hingga kegiatan pelestarian lingkungan seperti penanaman terumbu karang dan mangrove, cukup banyak sih sebenarnya.“ kata Santi.
Dengan pendekatan yang menggabungkan edukasi, ekonomi, dan inovasi, Kertabumi Recycling Center menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat bertransformasi menjadi solusi berkelanjutan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan lingkungan. Menurut Santi, tren industri daur ulang akan terus meningkat seiring dengan makin tingginya perhatian terhadap isu lingkungan, seperti pemanasan global serta kebijakan pemerintah dan dunia yang semakin ketat.
Kondisi itu diperkuat oleh situasi Indonesia yang kini menghadapi darurat sampah, di mana banyak TPS dan TPA sudah mengalami kelebihan kapasitas. Oleh karena itu, bisnis daur ulang dinilai memiliki prospek cerah sekaligus menjadi bagian penting dari solusi untuk mengatasi krisis lingkungan di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....