Keteguhan Cefi: Mengayuh Harapan di Balik Sepeda Ontel Kota Tua

  • 22 Mar 2026 19:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kisah seorang pelaku usaha sewa sepeda ontel di Kota Tua Jakarta
  • Sempat kehilangan sepeda saat malam tahun baru

SINAR matahari pagi mulai menghangatkan kawasan Kota Tua Jakarta pada hari kedua perayaan Lebaran tahun ini. Di sudut lapangan, Cefi duduk tegak sambil memandangi deretan sepeda ontel miliknya, menanti penyewa yang belum juga ramai datang.

Pria berkaos hitam dan topi denim biru itu sesekali memperhatikan aktivitas wisatawan yang melintas. Wajahnya tampak lelah, namun tetap menyimpan keteguhan seorang pelaku usaha kecil yang menggantungkan harapan dari roda-roda sepeda ontelnya.

Ia menawarkan pengalaman berkeliling kawasan bersejarah dengan tarif Rp25 ribu selama 30 menit. Untuk menambah daya tarik, Cefi juga menyediakan topi pantai berwarna cerah agar penyewa bisa berfoto dengan nuansa klasik Kota Tua.

"Kalau untuk target per hari kita tidak bisa menentukan, ya kadang turun, kadang naik. Beda jauh sama tahun-tahun yang lalu, biasanya jam segini sudah antre banyak orang," ujar Cefi saat ditemui di kawasan Kota Tua Jakarta, Minggu, 22 Maret 2026.

Deretan sepeda ontel di kawasan Kota Tua Jakarta. (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

Di balik rutinitasnya, Cefi menyimpan pengalaman pahit yang masih membekas. Ia pernah kehilangan satu unit sepeda saat malam pergantian tahun, momen yang seharusnya membawa keuntungan justru berujung kerugian.

"Kemarin waktu malam tahun baru saya sempat kehilangan satu sepeda waktu banyak pengunjung. Kejadiannya sekitar jam sebelas malam, saya tunggu lama, saya cari keliling, tidak ada," katanya dengan raut kecewa.

Ia mengaku kejadian tersebut menjadi risiko yang harus dihadapi sebagai pekerja lapangan. Meski demikian, ia tetap memilih bertahan karena usaha ini menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.

"Kalau nggak mau rusak, kita taruh aja di gudang, karena ini memang buat di lapangan. Risiko tetap ada kalau sepeda dibawa orang, cuman ya namanya kita kerja di lapangan," ujarnya.

Selain itu, Cefi juga menyoroti perhatian pemerintah terhadap pelaku usaha kecil di kawasan wisata. Ia merasa keberadaan penyedia jasa sepeda ontel belum sepenuhnya mendapat dukungan yang memadai.

Menurutnya, kebijakan sterilisasi kawasan saat kunjungan pejabat kerap berdampak pada menurunnya pendapatan. Ia menilai kondisi tersebut berbeda dengan beberapa tahun lalu yang lebih memberi ruang bagi komunitas lokal.

"Kalau dulu pemerintah kunjungan itu disambut, kita nyambut pakai sepeda, bahkan kita diundang. Beda pemimpin, beda aturan, padahal seharusnya kan menyambut kalau di sini ada komunitas seperti ini," ucapnya.

Di tengah kondisi tersebut, Cefi tetap menemukan harapan dari kedatangan wisatawan, termasuk turis mancanegara. Pengunjung dari Eropa dan Asia kerap terlihat menikmati suasana Kota Tua dengan sepeda ontel.

Salah satu penyewa sepeda ontel di kawasan Kota Tua Jakarta. (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

Meski melayani wisatawan dari berbagai negara, ia tidak membedakan tarif sewa. Baginya, pelayanan yang sama menjadi bentuk profesionalitas meskipun terkadang terkendala bahasa.

"Untuk tarif kita samakan saja. Kadang malah mereka yang sering ngasih tips banyak," ujarnya sambil tersenyum tipis.

Pagi yang cerah di Kota Tua seakan menjadi simbol harapan baru bagi Cefi. Di balik setiap kayuhan pedal sepeda, ia terus berjuang menjaga roda kehidupan tetap berputar demi masa depan keluarganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....