Lantunan Yasin dan Rindu yang Tak Usai

  • 22 Mar 2026 12:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ziarah kubur
  • Nyekar makam
  • Tradisi ziarah kubur

PAGI di hari kedua lebaran itu datang dengan sunyi yang lembut, seolah langit menahan napasnya untuk menghormati kenangan. Dari rumah-rumah panggung kayu di Desa Pulau Melako, Sarolangun Jambi, orang-orang mulai berkemas dengan langkah yang tidak tergesa, namun sarat makna.

Tikar dilipat rapi, dimasukkan ke dalam tas bersama lembaran-lembaran surat Yasin yang lusuh disentuh waktu. Di sudut dapur, asap tipis mengepul dari obat nyamuk yang akan dibawa, sebagai teman setia di antara rerumputan makam.

Havizoh seorang peziarah mengikat kerudungnya perlahan, matanya menyimpan rindu yang tak pernah benar-benar usai. Teruntuk Ayahanda di peraduan sunyi yang berpulang Syawal tahun lalu.

Ia menggenggam mushaf kecil, seakan di dalamnya tersimpan jalan pulang bagi doa-doa yang belum selesai. “Kami datang bukan hanya untuk mengenang,” katanya lirih, “Tapi untuk menyambung yang tak terlihat.”

Peziarah kecil berjalan menuju makam (Foto: RRI/Seprianto)

Langkah kaki mulai meninggalkan halaman rumah belakang, menyusuri jalan tanah yang masih basah oleh embun. Anak-anak berjalan di samping orang tua mereka, belajar diam dari suasana yang khidmat.

Burung-burung bernyanyi pelan, seakan turut mengiringi perjalanan menuju keheningan yang lebih dalam. Sesampainya di kubur, tikar dibentangkan di antara nisan yang berdiri seperti penjaga waktu.

Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang mengingatkan bahwa hidup dan pulang adalah dua sisi yang tak terpisahkan. Orang-orang duduk bersila, membuka lembaran Yasin dengan tangan yang penuh hormat.

Bukhori seorang peziarah tengah melantunkan Surah Yasin (Foto: RRI/Seprianto)

Bukhori, saudara Havizoh menundukkan kepala sebelum mulai memimpin membaca. “Di sini,” ujarnya pelan, “Kami merasa lebih dekat dengan yang telah pergi, seolah jarak hanyalah ilusi.”

Suara bacaan mulai mengalun, diawali basmallah dan istigfar perlahan namun serempak, seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Sejenak, lantunan Yasin mengalir lembut bagai bisikan langit.

Menembus relung jiwa yang paling sunyi hingga hati larut dalam ketenangan yang tak terlukiskan. Setiap ayatnya menggema syahdu, seakan merangkul luka dan harapan sekaligus.

Menghadirkan rasa dekat yang begitu dalam kepada Sang Pencipta. Setiap ayat menjadi jembatan antara dunia yang tampak dan yang tak lagi kasat mata.

"Semoga ayahanda di alam sana diliputi kesejukan dari lantunan ayat-ayat suci, dilapangkan kuburnya dan diterangi dengan cahaya yang menenteramkan. Semoga setiap doa yang mengalun menjadi pelipur rindu, menghadirkan kedamaian abadi serta tempat terbaik di sisi-Nya," ujar Havizoh lirih.

Peziarah mengadahkan tangan sambil berdoa (Foto: RRI/Seprianto)

Sebagai penutup yang menenangkan dari Yasin, hati pun diajak memasuki keagungan firman berikutnya dengan penuh khidmat. Kemudian dilantunkan pembuka Surah Al-Mulk: Tabārakalladzī biyadihil-mulk... yang mengalir membawa jiwa semakin tunduk dan damai.

Suaranya naik turun seperti gelombang yang menyentuh hati. Di sela-sela bacaan, ada jeda-jeda sunyi yang justru berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Doa-doa meluncur ke langit. Membawa nama-nama yang telah lama bersemayam di tanah.

Peziarah menyiram makam dengan air yang telah didoakan (Foto: RRI/Seprianto)

Obat nyamuk menyala perlahan, asapnya menari di udara, menyatu dengan harap yang tak terlihat. Anak-anak mulai mengamati, menyerap tradisi tanpa banyak bertanya, karena hati mereka sudah mengerti.

Di wajah para orang tua, tergambar keteguhan yang lahir dari kehilangan yang telah lama dipeluk. Havizoh menutup mushafnya dengan lembut, matanya basah namun tenang.

Ia percaya bahwa setiap huruf yang dibaca akan sampai, meski tak pernah terlihat jalannya. Bukhori mengangkat tangan, memimpin doa terakhir, suaranya bergetar seperti daun yang disentuh angin.

Peziaran anak-anak tengah berdoa di samping makam kakeknya (Foto: RRI/Seprianto)

Dan ketika semua usai, mereka tidak langsung beranjak. Ada diam yang ingin dinikmati, ada rasa yang belum ingin dilepaskan. Mereka tahu, ziarah ini bukan sekadar tradisi, melainkan percakapan sunyi antara yang hidup dan yang telah kembali.

Langkah pulang pun dimulai, namun hati mereka tertinggal sejenak di antara nisan. Di Desa Pulau Melako, hari kedua lebaran bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang mengingat bahwa cinta tidak pernah benar-benar berakhir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....