Lebaran di Rantau, Kisah Wira Menemukan Makna Baru

  • 21 Mar 2026 21:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lebaran
  • Idulfitri
  • Mahasiswa rantau

BAGI banyak mahasiswa perantau, Idulfitri adalah panggilan pulang. Sebuah jeda hangat untuk kembali ke pelukan keluarga, menyusuri kenangan, dan merawat rindu yang menahun.

Namun, bagi Wira Dharma Alrasyid, mahasiswa Universitas Airlangga asal Aceh, Lebaran tahun ini justru menjadi kisah tentang bertahan. Menemukan makna baru di tanah rantau.

Di tengah riuh rencana mudik yang menguar di sudut-sudut kota Surabaya, Wira memilih diam di tempatnya berpijak kini. Keputusan itu bukan tanpa alasan.

“Iya, aku fix nggak pulang karena keluarga sedang di Jakarta sekarang,” ujarnya, Sabtu 21 Maret 2026. Ia menambahkan, bahkan jika keluarganya berada di Aceh, waktu libur yang singkat tetap membuat rencana mudik terasa sulit dijangkau.

Lebih dari sekadar jarak dan waktu, realitas lain turut membayangi. Harga tiket pesawat yang melonjak tajam menjelang Lebaran.

Bagi Wira, pilihan untuk tetap tinggal menjadi jalan tengah antara rasionalitas dan keberanian mencoba pengalaman baru. Ada jeda sunyi yang berbeda ketika Idulfitri dirayakan jauh dari rumah.

Tidak ada aroma kue kering buatan sendiri yang biasa memenuhi dapur, atau hangatnya percakapan keluarga di pagi hari raya. Namun, Wira perlahan belajar menata rasa.

“Setidaknya masih ada hal-hal yang bisa bikin aku nyaman,” katanya. Lebaran bersama teman-teman di Surabaya pun menjadi alternatif yang menghadirkan kehangatan dalam bentuk lain.

Lebih sederhana, tetapi tetap bermakna. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, ia memandang pengalaman ini bukan sekadar situasi yang harus dijalani, melainkan bagian dari proses pendewasaan.

Hidup di perantauan, menurutnya, menuntut kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan. Termasuk merayakan hari besar tanpa keluarga di sisi.

Untuk mengisi hari kemenangan, Wira melaksanakan salat Id di masjid kampus Universitas Airlangga. Setelah itu, langkahnya akan berlanjut ke Malang, menyambung silaturahmi dengan kerabat yang lebih dekat secara jarak.

Meski begitu, rindu tetap menemukan jalannya. Ia mengenang tradisi Ramadan di kampung halaman.

Membuat kue kering dan bolu bersama keluarga, sebuah ritual kecil yang sarat makna. “Memang awalnya terasa aneh dan sedih,” ucapnya.

Namun, di balik itu, ia menemukan sisi lain dari Lebaran. Ruang untuk tumbuh dan memahami arti pulang yang tidak selalu tentang tempat.

“Lebaran di tempat baru itu seru,” katanya, menutup cerita dengan nada ringan.

Di tengah jarak yang memisahkan, ia tak lupa menjaga kedekatan dengan cara sederhana. Menyapa keluarga lewat panggilan video, menganyam kembali kehangatan yang tak lekang oleh ruang dan waktu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....