Potret Dapur Roti Sukoharjo dari Kesulitan ke Peluang
- 11 Mar 2026 17:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
AROMA roti hangat menyeruak dari dapur sederhana di Desa Combongan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Di ruangan itu, adonan roti dipanggang sejak pagi oleh para pekerja.
Di balik wangi roti yang memenuhi ruangan, tersimpan cerita perjuangan sebuah usaha kecil.
Dapur roti rumahan itu perlahan bangkit setelah melewati berbagai kesulitan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kemudian membuka peluang baru bagi usaha tersebut.
Permintaan roti dan kue meningkat untuk mendukung kebutuhan program MBG.
Pabrik Roti dan Kue Permata di Desa Combongan menjadi salah satu yang merasakan dampaknya.
Usaha rumahan ini kini memproduksi roti dan kue setiap hari untuk mendukung program MBG.
Pemilik usaha, Niko mengatakan, program tersebut membantu keberlangsungan usahanya. Produksi yang meningkat membuat dapur roti kembali ramai oleh aktivitas pekerja.
“Program ini sangat membantu sekali. Kami bisa memperkerjakan saudara-saudara kami untuk membantu produksi,” Niko, dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Saat ini dapur roti tersebut mempekerjakan sekitar 10 karyawan tetap. Beberapa pekerja tambahan juga dipanggil ketika kebutuhan produksi meningkat.
Kesempatan kerja itu terbuka bagi warga sekitar yang kesulitan mencari pekerjaan. Sebagian di antaranya pernah terkena pemutusan hubungan kerja dari pabrik besar.
Menurut Niko, usaha kecil seperti miliknya kerap menghadapi keterbatasan pasar dan produksi. Namun, program MBG membuka peluang baru bagi usaha rumahan untuk berkembang.
Selain berdampak pada usaha, manfaat program juga dirasakan oleh keluarga. Kebutuhan makanan anak di sekolah membantu mengurangi pengeluaran orang tua.
Niko pun menyampaikan apresiasi atas hadirnya program tersebut. Ia mengharapkan, program MBG dapat terus berjalan dan memberi manfaat lebih luas.
“Program ini bukan hanya membantu anak-anak mendapatkan makanan bergizi. Program ini juga membantu usaha kecil seperti kami berkembang dan membuka lapangan pekerjaan," ujarnya.
Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)!memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang ekonomi baru. Program ini juga mendukung upaya mewujudkan kemerdekaan gizi bagi anak-anak penerima manfaat.
Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM, Riza Damanik mengatakan, program tersebut melibatkan banyak pelaku usaha kecil. Menurutnya, sebagian besar anggaran MBG dialokasikan untuk pengadaan bahan baku dapur.
“Dari total anggaran MBG, sekitar 85 persen digunakan untuk pengadaan bahan baku dapur. Bahan tersebut meliputi sayuran, hasil peternakan, perikanan, hingga produk perkebunan,"'kata Riza Agustus 2025, lalu.
Ia menilai, skema tersebut membuka peluang besar bagi pelaku usaha pangan. Terutama bagi sekitar 29 juta UMKM sektor pangan yang banyak tersebar di wilayah pedesaan.
Menurut Riza, keterlibatan pelaku usaha dalam rantai pasok MBG terus meningkat. Tercatat sebanyak 6.435 UMKM telah terlibat dalam program tersebut.
"Para pelaku usaha itu berasal dari berbagai sektor produksi pangan. Mulai dari petani, nelayan, peternak, pedagang pasar, hingga penyedia jasa katering daerah,"'ucapnya.