Belajar, Berani, dan Menang di Lomba Gizi
- 24 Jan 2026 14:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Status mahasiswa tingkat satu baru saja melekat di kartu identitas kampus. Namun, para calon ahli gizi ini memilih naik ke panggung lomba.
Mereka membawa data, gagasan, dan keresahan tentang kesehatan generasi sebaya. Dengan semangat belajar, mereka mengolah ilmu menjadi pesan, dan pesan menjadi keberanian.
Cindy Oktavian dan Ghania Zakya, ialah nama yang berhasil merebut Juara 1 Lomba Presentasi Edukasi Gizi. Mereka membawa topik yang tak biasa, yakni hubungan konsumsi angkak dengan anemia pada remaja putri.
Anemia pada remaja putri sejatinya bukan isu baru. Namun Cindy dan Ghania memilih untuk tidak berhenti pada pendekatan yang umum.
/2zn33tl8aaf8yy3.jpeg)
Cindy Oktavian dan Ghania Zakya, pemenang Lomba Presentasi Edukasi Gizi, di Poltekkes Jakarta II, Jumat, 23 Januari 2026 (Foto: RRI/Hana Syarif)
Mereka tak ingin sekadar mengulang edukasi klasik soal konsumsi tablet tambah darah atau pola makan bergizi. Cindy, yang memiliki latar belakang keluarga Tionghoa, sudah akrab dengan angkak.
Angkak sendiri merupakan beras merah fermentasi yang kerap digunakan dalam masakan tradisional. Tak berhenti pada cerita keluarga, keduanya kemudian menelusuri berbagai literatur dan penelitian.
“Kami ingin memperkenalkan makanan yang mungkin belum familiar buat banyak orang, tapi ternyata punya manfaat nyata,” ujar Ghania. Lewat presentasi edukatif, Cindy dan Ghania membuka wawasan bahwa solusi gizi bisa datang dari kearifan pangan.
Tak hanya Juara 1 yang mencuri perhatian, Pemegang trofi juara 2 juga menghadirkan kisah yang tak kalah hangat. Abellia Claura S.M dan Muhammad Haikal Kawedar membuktikan bahwa semangat belajar dan kolaborasi bisa mengalahkan rasa malas yang kerap datang diam-diam.
Tema yang mereka pilih adalah pola makan sehat di era modern. Persiapan mereka pun dilakukan dengan cara sederhana.
Karena masih dalam masa libur, Abellia dan Haikal memanfaatkan malam hari untuk berdiskusi secara daring. “Kita Zoom hampir tiap malam. Share screen, cari sumber masing-masing, terus saling presentasi,” ujar Haikal.

Abellia Claura S.M dan Muhammad Haikal Kawedar, Juara II Lomba Presentasi Edukasi Gizi, di Poltekkes Jakarta II, Jumat, 23 Januari 2026 (Foto: RRI/Hana Syarif)
Soal rasa gugup, Abellia dan Haikal punya cara sendiri. Selain berdoa, mereka memilih untuk saling menjaga kontak mata saat presentasi.
Sementara itu, podium Juara 3 ditempati oleh Radiva Narabel dan Syabiila Yasara. Mereka adalah dua peserta yang justru datang dengan persiapan paling singkat.
Radiva dan Syabiila mengangkat topik perubahan slogan gizi seimbang, dari “4 Sehat 5 Sempurna” menjadi “Isi Piringku.” Menurut keduanya, perubahan ini bukan sekadar soal istilah, tetapi juga pergeseran cara pandang terhadap pola makan.
Berbeda dari peserta lain, persiapan Radiva dan Syabiila terbilang ekstrem. Mereka mengaku baru mempersiapkan materi sehari sebelum lomba.
“Jujur, baru semalam,” kata Syabiila singkat, disambut tawa. Kejujuran dan spontanitas itulah yang justru membuat presentasi mereka terasa hidup.

Radiva Narabel dan Syabiila Yasara, Juara III Lomba Presentasi Edukasi Gizi, di Poltekkes Jakarta II, Jumat, 23 Januari 2026 (Foto: RRI/Hana Syarif)
Bahkan, aksesori sederhana berupa bando yang dikenakan pun memiliki cerita tersendiri. Pada awalnya, bando tersebut dibeli untuk kebutuhan expo kampus, lalu “terselamatkan” di hari lomba.
Ketika nama mereka disebut sebagai Juara 3, perasaan kaget tak bisa disembunyikan. Apalagi mereka tampil sebagai peserta terakhir, setelah menyaksikan banyak penampilan kuat sebelumnya.
“Rasanya campur aduk. Senang, tapi juga nggak nyangka sama sekali,” kata Syabiila.
Meski baru menapaki langkah awal dalam meramu data dan kata, para calon ahli gizi ini telah membuktikan satu hal, yakni keberanian untuk peduli. Ke depan, ilmu yang mereka asah harus menyentuh kenyataan di meja makan dan ruang keluarga masyarakat.
Lewat tangan generasi inilah, Indonesia menaruh harapan akan edukasi gizi yang lebih membumi. Sebuah pendekatan yang juga disampaikan dengan hati dan konsistensi.