Napas Baru Keroncong Lewat Generasi Muda

  • 25 Des 2025 07:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SENI keroncong terus menemukan napas baru melalui regenerasi lintas usia. Fenomena ini terlihat dari keterlibatan generasi muda dalam berbagai pertunjukan keroncong.

Di atas panggung, senyum tenang para musisi senior berpadu semangat pemain muda. Petikan cak, gesekan bass, dan denting biola mengalun hangat, mengisi ruang dengan kebersamaan.

Kerontjong Toegoe saat tampil dalam acara Malam 24 di Roemah Toegoe, Jakarta Utara, Rabu (24/12/2025) (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

Pimpinan Orkes Kerontjong Irama Jakarta, Harun Rusli, menyambut positif keterlibatan generasi muda. Ia menilai antusiasme tersebut menunjukkan kecintaan terhadap budaya sendiri.

Menurutnya, kecintaan itu menjadi kunci keberlanjutan keroncong Indonesia. “Bagus, sekarang sudah banyak anak-anak muda tampil dan mencintai budayanya sendiri,” ujar Harun dengan senyum tipis sebelum tampil dalam acara 'Malam 24' di Roemah Toegoe, Jakarta Utara, Rabu (24/12/2025).

Pimpinan Orkes Kerontjong Irama Jakarta, Harun Rusli (Kacamata hitam), dalam acara Malam 24 di Roemah Toegoe, Jakarta Utara, Rabu (24/12/2025) (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

Harun mengaku kecintaannya pada keroncong tumbuh sejak kecil melalui keluarga. Tradisi tersebut ia lanjutkan sebagai estafet budaya yang harus dijaga.

“Dari kecil, sudah turun-temurun. Kalau bukan kita yang meneruskan, siapa lagi,” ujarnya.

Harun menegaskan keroncong bukan sekadar warisan, melainkan identitas budaya. Ia juga menepis anggapan keroncong sebagai musik yang membosankan.

“Keroncong itu tidak selalu ngantuk. Keroncong juga bisa berdansa,” ujarnya.

Di sisi lain, musisi keturunan Portugis generasi ke-10, Arthur James Michiels, tampak duduk menunggu giliran di bawah panggung. Dengan kemeja putih dan topi cokelat ala koboi, Arthur tampil santai namun berwibawa.

Arthur menilai keterlibatan pelajar SD dan SMP sebagai tonggak penting regenerasi keroncong. Ia menyebut kemampuan anak-anak memainkan keroncong sebagai pemandangan luar biasa.

“Saya sangat senang karena apa yang ditanam oleh ayah saya di tahun 1988 sekarang sudah berbuah. Tadi kita lihat anak-anak SD dan SMP sudah bisa bermain keroncong, itu luar biasa,” ujarnya dengan nada bangga.

Musisi keturunan Portugis generasi ke-10, Arthur James Michiels, dalam acara Malam 24 di Roemah Toegoe, Jakarta Utara, Rabu (24/12/2025) (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

Arthur menegaskan regenerasi membuatnya tidak khawatir terhadap masa depan Keroncong Tugu. Menurutnya, tradisi musik ini akan terus hidup dan berkembang.

“Kami tidak khawatir bahwa musik keroncong akan tetap lestari. Dengan ini, musik keroncong akan menuju musik dunia,” ujarnya.

Regenerasi keroncong tersebut tumbuh dari tangan-tangan muda yang tampil penuh semangat. Mereka mulai menjadikan keroncong sebagai ruang berekspresi yang menyenangkan.

Pegiat keroncong cilik bernama Loli tampil ceria bersama grup De Meninas. Ia dan teman-temannya mengenakan kostum bernuansa merah putih, memancarkan kebanggaan budaya.

Siswi kelas dua SMP itu mengaku bangga terlibat dalam pelestarian seni keroncong. Menurutnya, keroncong adalah musik klasik yang tetap terasa menyenangkan.

Pegiat keroncong cilik bernama Loli tampil ceria bersama grup De Meninas, dalam acara Malam 24 di Roemah Toegoe, Jakarta Utara, Rabu (24/12/2025) (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

"Kami mulai mempelajari sejak 26 Juni 2024. Belajarnya asik dan seru," ujar Loli sebelum tampil dalam acara Malam 24.

Dengan senyum lepas, Loli dan teman-temannya naik ke panggung tanpa ragu. Penampilan ceria mereka menghadirkan harapan baru bagi masa depan keroncong.

Kehadiran generasi muda seperti Loli menjadi bukti keroncong terus hidup. Seni tradisi ini bergerak maju melalui semangat dan keceriaan anak-anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....