Kini Hangat Mentari Itu Disimpan untuk Satangnga

  • 03 Des 2025 15:37 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Ponsel di meja redaksi bergetar panjang, memecah keheningan dinginnya ruangan yang ber-AC. Notifikasi dari aplikasi WhatsApp menyala, pertanda ada pesan yang masuk.

Ia membawa kiriman tiga video dari seberang lautan, koordinat terjauh di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. File yang dikirim oleh Daeng Ronrong itu tidak besar, dikompres oleh sinyal yang timbul tenggelam.

Durasinya pun tidak mencapai satu menit. File pertama yang dibuka menampilkan suasana yang cerah.

Laut biru tenang terhampar dengan matahari terik yang terasa dari terangnya suasana sekitar. Sebuah palka perahu kayu yang terbuka juga tampak di layar ponsel pintar.

Suara mesin tempel ketinting menderu, bersama gerak maju jolloro membelah lautan biru. Jolloro merupakan perahu semi-tradisional yang biasa digunakan masyarakat suku Bugis.

Di dalamnya, Daeng Ronrong menunjukkan dua ikan tenggiri besar berjejal. Tubuh peraknya berkilau ditimpa cahaya matahari.

File kedua dibuka. Kali ini ia menunjukkan ikan tenggiri, tuna, cakalang sebagai rezeki nomploknya hari ini.

"Weih... ikan lagi lima, besti! Hehehei... masih hidup, alhamdulillah!" seru Daeng Ronrong dari balik kamera, renyah dan penuh tawa.

Di tengah lautan, nelayan tangguh ini merayakan rezekinya dengan bahasa yang riang. Ikan-ikan itu seakan menjadi janji bahwa dapur akan mengebul.

Namun, saat jempol menekan video terakhir, yang lebih panjang, suasana berubah 180 derajat. Di layar, bingkai kamera berguncang, mengikuti ritme lambung perahu kayu yang diterpa gelombang.

Cakrawala tidak lagi berupa garis lurus di layar ponsel, melainkan miring dan melompat-lompat. Semburat awan kelabu tampak menggelayut di ujung cakrawala, diiringi ombak lautan yang hampir setinggi bibir jolloronya.

Daeng Ronrong muncul di layar sembari berswavideo yang bukan dimaksudkan untuk konten di media sosial. Ia mengenakan sweter merah, topinya ditarik rendah ditutupi kupluk sweter, menahan tamparan angin.

"Kencang angin, Bosku... Musim barat sudah mulai datang. Ampun dije!"

Daeng Ronrong (kanan) bersama rekannya nelayan di perairan sekitar Pulau Satangnga (Foto: Daeng Ronrong)

Meski disampaikan dengan tawa, itu menjadi kegetiran karena sebentar lagi kedatangan"tembok" yang siap mengurung Pulau Satangnga. "Musim barat" adalah mimpi buruk bagi 1.277 jiwa warga yang mendiami pulau di kawasan Provinsi Sulawesi Selatan ini.

Saat musim barat datang, laut berubah menjadi pagar betis yang tak tertembus. Di sinilah ironi terjadi.

Ikan segar yang dimiliki Daeng Ronrong sebelumnya terancam membusuk. Mengapa?

Pulau tempat Daeng Ronrong tinggal ini tidak ada listrik 24 jam. Tidak ada gudang penyimpanan dingin atau cold storage. Tidak ada pabrik es.

Satu-satunya cara menyelamatkan "harta karun" di palka itu adalah ia harus memacu perahunya untuk membeli es balok. Dan itu harus ditempuhnya selama 1,5 jam menuju daratan Galesong.

"Saya biasa membeli es di Galesong dan biasa rugi. Karena jika cuaca tidak baik dan tidak bisa menyeberang maka ikannya biasa busuk," kata Daeng Ronrong kepada RRI, Sabtu (22/11/2025).

"Di situlah penyebabnya kita rugi, karena harga turun," katanya lagi.

"Biasa rugi" menjadi kegetiran lain karena ini menyiratkan Daeng Ronrong telah mengalaminya sejak lama. Sementara, perjuangan 1,5 jam perjalanan membeli es balok untuk membekukan ikan tangkapannya berhitung dengan spekulasi tangkapan hari itu.

Saat Daeng Ronrong berjuang di lautan, perjuangan lain di daratan sedang berlangsung. Di lorong-lorong berpasir Desa Mattiro Baji, drama persoalan energi listrik muncul dalam bentuk berbeda.

Sarah, tokoh perempuan yang lahir dan besar di Pulau Satangnga ini, adalah saksi hidup betapa melelahkannya "ketiadaan" itu. Di pulau karang yang dikepung air asin ini, air tawar adalah barang mewah.

"Keseharian kami para perempuan yang tinggal di sini serba tidak ada listrik. Kami kesulitan dalam hal air," kata Sarah kepada RRI, Sabtu (22/11/2025).

"Kami para perempuan harus bolak-balik mengambil air dari sumur menggunakan ember dengan jarak tempuh yang cukup jauh."

Daeng Ronrong menunjukkan angin dan ombak yang mulai membesar menjelang kedatangan musim barat di perairan sekitar Pulau Satangnga (Foto: Tangkap layar video WhatsApp Daeng Ronrong)

Penjelasan Sarah ini seolah ingin menyiratkan gambaran lain yang lebih mendasar. Tanpa listrik, artinya sumur-sumur harus ditimba manual dan bukan hanya sesekali, tapi setiap hari.

Mereka meniti jalan setapak di bawah terik matahari, bolak-balik, untuk memastikan beras bisa ditanak. Matahari tergelincir ke barat pun bukanlah pertanda istirahat, melainkan sirene peringatan.

Begitu genset dinyalakan, dengan durasi sangat terbatas, mereka dipaksa masuk ke dalam mode "kejar tayang". Hidup mereka didikte oleh sisa bensin di tangki mesin.

"Dari jam 6 sampai 10 malam banyak aktivitas tertunda, terutama pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci pakaian, membantu anak belajar," kata Sarah melanjutkan.

Semua harus selesai sebelum gelap menelan pulau, atau sebelum suara mesin genset berhenti menderu. Dan ketika kegelapan menang, dampaknya merembet ke ruang-ruang yang paling krusial, yakni masa depan anak-anak Satangnga.

Di bangunan kuning cerah SDN 34 Satangnga, Pak Sukri berdiri. Satu dekade mengabdi, ia menjadi penjaga nyala api ilmu bagi 138 siswa di pulau ini.

Ia kerap merasa sedih melihat anak-anak didiknya kalah langkah. Ini bukan karena mereka bodoh, tapi karena fasilitas yang timpang, salah satunya dari ketersediaan listrik di tempat ini.

"Dulu, waktu pakai genset itu, kami masyarakat Satangnga biasa memakai biaya 15 (ribu rupiah-red) per harinya," kata Daeng Ronrong membenarkan.

Angka ini dikonfirmasi oleh aparat pemerintah desa. Biaya Rp15.000 satu liter bensin botolan adalah kemewahan yang tak semua orang tua siswa sanggup beli setiap malam.

Akibatnya? Jam belajar anak-anak menjadi korban.

Selama bertahun-tahun, ruang pembelajaran di pulau ini tidak pernah benar-benar hening. Pak Sukri menceritakan momen-momen saat pelajaran tambahan di sekolah atau saat anak-anak belajar mengaji di malam hari.

Ketika sedang asyik-asyiknya menyerap ilmu, lampu pijar yang bersumber dari genset itu seringkali berkedip, meredup, lalu mati. Suara 'batuk-batuk' genset penanda kesenyapan total tengah menjelang memunculkan celetukan polos dari para siswanya.

"Ih, mati mesin...," kata Pak Sukri menirukan ucapan para siswanya dengan logat khas suku Bugis.

Bisa belajar di malam hari adalah suatu keistimewaan. Sementara, bagi keluarga yang tak sanggup membeli bensin eceran, malam hari berarti gelap total.

"Yang saya dapatkan dari cerita beberapa siswa, mereka yang tidak memiliki listrik atau alat penerang di rumahnya, mereka susah untuk belajar di saat malam hari. (Ini-red) karena di rumahnya penerangan kurang memadai," kata Pak Sukri yang sehari-hari tinggal di perumahan sekolah.

"Bahkan terkadang, ada siswa yang mengerjakan PR di sekolah saat pagi hari karena tidak ada lampu di rumahnya."

Saat anak-anak kota mengakses internet 24 jam, anak-anak Satangnga harus "mencuri" waktu pagi-pagi buta hanya untuk menyelesaikan PR-nya. Ada rasa kecewa di sana.

Kegiatan rapat Desa Mattiro Baji (Foto: Muhammad Arif)

Ada mimpi yang terputus. Ketiadaan energi telah menciptakan jurang kesempatan yang begitu lebar.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Selasa (11/11/2025), Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha menyebut mereka bukan hanya 3T. Ia menyebutnya sebagai wilayah 4T yang bukan sekadar "Tertinggal, Terdepan, dan Terluar", tapi juga "Tak Tentu Nasibnya".

Nasib "tak tentu" mereka karena terbentur tembok biaya tinggi, membuat pemerataan energi seolah hanya mimpi. Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi, dalam wawancara terpisah menjelaskan mengapa kabel listrik tak kunjung hadir di sana.

"Agak sulit kalau untuk daerah 3T, karena dibutuhkan tadi, pembangkit dan juga jaringan distribusi. Dan itu tidak layak secara ekonomis (di sana-red)," kata Fahmy saat diwawancarai RRI, Kamis (27/11/2025).

Namun, tanpa listrik 24 jam yang stabil, proyektor tidak bisa menyala. Laptop guru kehabisan daya.

Jendela informasi dunia pun tertutup rapat. Paradoks dengan mereka yang hidup di lumbung cahaya matahari Khatulistiwa dengan sinar melimpah.

Namun, mereka terjebak dalam keterbatasan energi fosil yang mahal dan kotor. Inilah realitas Satangnga sebelum perubahan datang menjelang.

Bukan subsidi solar dengan asap dibakar habis yang dinantikan, melainkan keajaiban teknologi yang membungkam kebisingan genset. Keajaiban yang mampu "menangkap" kehangatan mentari, untuk disimpan demi menyuburkan mimpi dan menyirami harapan mereka di kemudian hari.

Setelah puluhan tahun terombang-ambing dalam nasib yang "tak tentu", jawaban atas doa warga Satangnga akhirnya muncul di cakrawala. Bukan dalam bentuk kabel laut yang menjuntai di dasar samudra.

Ia hadir dalam bentuk kotak-kotak putih yang dimuat di atas perahu kayu pada awal Mei 2025. Ia datang menerjang ombak yang sama yang kerap menyusahkan Dg. Ronrong.

Kapal itu membawa muatan istimewa: Surya Power Solusi untuk Negeri atau disebut SuperSUN. Inovasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mikro ini menghasilkan listrik bersih andal bagi masyarakat dan sekaligus berkelanjutan.

Unit tersebut dilengkapi baterai penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS). Merujuk laporan riset "Indonesia Energy Transition Outlook", teknologi penyimpanan daya seperti inilah kunci melistriki wilayah kepulauan yang terisolasi.

Namun, mendatangkan teknologi canggih ke pulau terpencil bukanlah perkara membalik telapak tangan. Ini menjadi operasi logistik yang menuntut keringat.

Membawa panel surya, baterai lithium, dan perangkat inverter menuju pulau yang dikepung lautan adalah operasi yang menuntut presisi. Ini karena bukan kapal kargo yang merapat, melainkan perahu-perahu kayu warga yang diandalkan.

"Tantangan teknis yang dirasakan oleh tim PLN lebih terkait dengan jarak dan karakter geografis pulau. Tantangan terbesar di lapangan ya pada saat barang mau dibawa ke pulau, karena melihat situasi cuaca dulu," kata Manager PLN ULP Takalar Bustamin kepada RRI saat mengenang bagaimana logistik berat itu harus berpindah tangan, Minggu (23/11/2025).

Cuaca laut tak terduga yang menghantui perjalanan 1,5 jam menuju pulau adalah hal yang nyata. Dan, di sinilah keajaiban nilai-nilai luhur bangsa menemukan wujudnya, menjelma menjadi tindakan nyata.

Petugas PLN tengah melakukan instalasi SuperSUN di atap fasilitas umum di Desa Mattiro Baji (Foto: PLN)

Teknologi ini dijemput punggung-punggung warga yang basah oleh keringat dan air laut. Bustamin melukiskan momen itu dengan suara terdalam, penuh kesan yang membekas.

"Bantuan masyarakat (diberikan-red) dalam bentuk dukungan material seperti minum dan makanan maupun dukungan non-material seperti antusias, kehangatan, serta prinsip gotong royong. Itu sangat memotivasi tim kami, karena kami tidak hanya sebatas memasang panel dan baterai, tetapi memiliki peran yang lebih mendalam yaitu secara langsung hadir membawa perubahan kualitas hidup masyarakat," katanya.

Hal tersebut membuat beban logistik menjadi terasa ringan. Warga membantu memikul peralatan berat dari perahu, meniti jembatan dermaga, hingga membawanya ke sembilan titik instalasi di desa.

Perjuangan kolektif itu memuncak saat mencapai momen sakralnya. Hari saat sakelar pertama dinyalakan.

Bagi Muhammad Arif, Camat Kepulauan Tanakeke, momen itu adalah puncak dari penantian panjangnya. Petugas PLN pun menekan sakelar.

Sedetik kemudian lampu-lampu di fasilitas umum menyala terang. Putih.

Tidak ada suara raungan. Tidak ada asap.

Bersih. Hening.

Dalam detik yang hening itu, emosi Camat Kepulauan Tanakeke pecah. Ia tidak malu mengakui keruntuhan benteng emosinya saat melihat cahaya lampu menyala di Kantor Desa.

"Terlalu cengeng mungkin kalau saya mengatakan bahwa pertama menyala SuperSUN di Pulau Satangnga, saya sebagai Camat menangis dan seolah-olah saya sedang bermimpi," kata Arif dengan jujur.

"Bahkan dari awal pemasangan SuperSUN sampai dicoba dinyalakan, saya bersama Kepala Desa menunggu sampai menyala lampunya."

"Jujur kami sangat bahagia karena beberapa aktivitas seperti di kantor, sekolah, dan masjid sudah punya listrik tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi dan tanpa harus terganggu dengan suara genset," kata Arif menambahkan.

Kepala Desa Mattiro Baji Muhammad Ridwan merasakan hal yang sama. Ia menjadi saksi betapa warganya kini penuh rasa ingin tahu dan berharap besar dengan kehadiran teknologi ini.

"Alhamdulillah setelah ada listrik SuperSUN menyala kami sangat senang sekali. Warga berdatangan dan bertanya kapan kami juga bisa dapat listrik seperti ini, karena ini baik sekali," kata Kades Ridwan.

Peresmian SuperSUN oleh Bupati Takalar (Foto: Muhammad Arif)

SuperSUN menjadi standar baru harapan warga Pulau Satangnga. Kehadiran teknologi ini juga turut membawa perubahan psikologis instan bagi kaum ibu.

"Pada saat pertama kali SuperSUN menyala rasanya kami para perempuan mendapat kehidupan yang baru. Semua yang dilakukan, seperti pekerjaan rumah, lebih mudah, tidak terburu-buru oleh waktu karena lampu sudah menyala 24 jam," kata Sarah.

"Anak-anak bisa belajar kapan saja. Dan, kami para wanita bisa beristirahat," katanya lagi.

Di SDN 34 Satangnga, respons awal siswa pun tak kalah emosionalnya. Pak Guru Sukri menggambarkan suasana ruang kelas yang berubah drastis.

"Waktu pertama listrik Super SUN menyala di sekolah saya merinding. Ruangan dan sekolah yang biasanya redup kini terang benderang. Siswa terlihat senang dan bahagia," kata Pak Sukri.

Tidak ada lagi yang berteriak "Mati mesin!" di tengah pelajaran. Sebuah teknologi pintar yang bekerja dalam hening berhasil berlabuh di hati warga pulau, membuktikan mereka tidak dilupakan.

Suara decit spidol saat menulis di papan tulis putih itu masih ada. Tapi kini, ia bukan satu-satunya suara di ruang kelas SDN 34 Satangnga.

Ada bebunyian baru yang mengisi udara pagi. Audio video pembelajaran, narasi digital dari film dokumenter, dan - yang paling berharga - suara anak-anak terpukau kini menyertai.

Dahulu, menghadirkan dunia luar ke dalam kelas terisolasi ini adalah perjuangan finansial yang pelik. Setiap kali Pak Guru Sukri ingin menggunakan proyektor, ia harus menghitung isi kantong.

Menyalakan elektronik berarti menyalakan mesin genset. Menyalakan genset berarti membakar bensin seharga Rp15.000 per liternya.

Akibatnya, 'pintu' menuju cakrawala digital itu seringkali terkunci rapat. Bukan karena mereka tak memegang kuncinya, melainkan karena harga memutar kuncinya terlalu mahal, membuat mereka tidak berdaya.

Namun hari ini, dinding keterbatasan bernama "bahan bakar" itu telah runtuh. Bersama mengalirnya daya listrik ke ruang kelas, mengalir pula daya cipta anak-anak pulau yang membebaskan imajinasi mereka.

"Alhamdulillah. Kalau kegiatan-kegiatan seperti guru mengajar, dia biasa pakai LCD di layar," ucap Pak Sukri.

"Semangat belajar anak -anak semakin tumbuh, apalagi mereka bisa menonton video pembelajaran. Dan anak anak mudah memahami materi pelajaran karena mereka melihat atau menonton visualisasi video," katanya lagi.

Dan lebih dari sekadar ruang belajar, sekolah ini berevolusi menjadi "jantung" energi bagi komunitas sekitar. Panel-panel di atap sekolah yang tak kenal lelah "meminum" sinar surya, ternyata memberi dampak sosial lain.

"Banyak sekali manfaatnya, Pak. Cas HP. Bahkan orang tua siswa pun biasa terkadang minta tolong dicas-kan HP-nya di sana, yang ada di sekitar sekolah," kata Pak Sukri merinci fungsi baru sekolahnya.

Sementara itu, sebuah perubahan lain juga terjadi di pusat pemerintahan desa. Dulu, selembar surat keterangan bisa memakan waktu berjam-jam hanya karena 'drama' genset ngadat atau bensin habis.

"Alhamdulillah kondisi sekarang ini agak terbantu kita. Apalagi warga yang membutuhkan surat-surat itu di Kantor Desa tidak kesusahan lagi dan bisa cepat ditangani, karena komputer bisa langsung dinyalakan, karena listrik sudah tersedia," kata Kepala Desa Muhammad Ridwan.

Namun, di antara semua perubahan yang terjadi, ada satu dampak yang nilainya tak bisa diukur dengan rupiah. Kades Ridwan mengungkapkan fakta melegakan tentang Puskesmas Pembantu (Pustu) di desanya.

Sebelum ada pasokan listrik yang stabil, malam hari adalah zona rawan bagi warga yang sakit. Kedaruratan medis di tengah malam seringkali harus ditangani dengan fasilitas penerangan seadanya.

"Di Pustu juga sudah bisa menangani pasien kalau malam," kata Ridwan.

Cahaya yang disimpan SuperSUN siap menemani tenaga medis bekerja dengan presisi. Bagi warga yang sakit di malam hari, cahaya lampu Pustu menjadi penanda bahwa bantuan selalu ada.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat Edyansyah tengah mengecek inovasi SuperSUN di SDN 34 Satangnga, Kabupaten Takalar, Provinsi (Foto: PLN)

General Manager PLN UID Sulselrabar menegaskan kehadiran teknologi ini berdampak langsung pada kesehatan finansial fasilitas publik. Bagi operasional kantor desa atau fasilitas umum yang dayanya besar, penghematannya sangat signifikan.

"Biaya energi turun drastis dari Rp75.000 per hari menjadi sekitar Rp5.000 per hari," kata General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) Edyansyah.

Angka itu merujuk pada beban operasional genset yang dulu harus ditanggung untuk menyalakan kantor pelayanan. Bagi sebuah desa, penghematan hingga 15 kali lipat ini adalah napas lega yang panjang.

Bagi sebuah desa kepulauan, selisih angka itu sungguh luar biasa besar. Dana yang dulu hangus menjadi asap, kini bisa dialihkan menjadi beasiswa atau modal usaha.

Keadilan energi, pada akhirnya, bermuara pada keadilan ekonomi. Bahkan, keajaiban teknologi ini tidak berhenti di penghematan.

Sistem SuperSUN ini tidak dibiarkan "ditinggal" bekerja sendirian di pulau terpencil. Bustamin, Manager PLN ULP Takalar, menjelaskan unit-unit pembangkit ini memiliki "mata" dan "otak" digital yang canggih.

"Fitur smart meter pada sistem SuperSUN memang jadi salah satu keunggulan utama. Melalui smartphone atau portal khusus, tim PLN dapat melihat real-time konsumsi listrik, arus, tegangan," kata Bustamin.

"(PLN dapat-red) mendeteksi anomali performa dan mengambil tindakan preventif lebih cepat. (Ini juga-red) mengurangi kebutuhan kunjungan fisik hanya ketika benar-benar diperlukan, yang sangat berguna untuk lokasi terpencil seperti Pulau Satangnga."

Artinya, meski terpisah lautan, "kesehatan" pasokan listrik Satangnga dipantau detik demi detik dari pusat kendali. Harapan mereka kini dijaga oleh teknologi yang awas dan responsif.

Dan, yang paling menyentuh bukan hanya soal nyala lampu, tapi pesan moral yang ditanamkan. Kembali ke ruang kelas SDN 34 Satangnga, Pak Guru Sukri menanamkan kesadaran baru.

Bagi Pak Sukri, SuperSUN bukan hanya soal listrik gratis, tapi media edukasi. Ia menggunakan panel surya di sekolahnya sebagai laboratorium nyata.

Ia tunjukkan murid-muridnya bahwa listrik tidak melulu soal kebisingan mesin, tapi bisa lahir dari diamnya cahaya matahari. Tidak lagi sekadar berteori, murid-muridnya diajak keluar menyaksikan atap sekolah tempat panel surya berjejer rapi memantulkan langit biru.

"Saya menjelaskan kepada siswa bahwa listrik yang kita gunakan berasal dari energi matahari, menggunakan bahasa sederhana. Dan juga saya menjelaskan, ini adalah energi yang bersih dan tidak mencemari lingkungan," ujar Pak Sukri bercerita.

Sebuah pelajaran moral tak ternilai kini tumbuh dalam kesadaran anak-anak Satangnga. Terang dalam gulita tak harus digelayuti semerbak asap.

Kemajuan tak harus melukai alam. Mentari di pulau ini tak lagi dibiarkan terbenam begitu saja dan menyisakan gelap.

Cahayanya kini "ditangkap", didekap, dan disimpan untuk menerangi mimpi-mimpi kecil di meja belajar mereka. Sebuah jejak peradaban baru yang lebih ramah lingkungan dimulai dari ruang kelas kecil di ujung selatan Sulawesi.

Di sini, energi bukan lagi musuh alam, melainkan sahabat yang menjanjikan bagi masa depan.

Cahaya yang kini menyala di ruang kelas dan puskesmas Desa Mattiro Baji bukanlah sebuah kebetulan. Ia merupakan jawaban atas pertanyaan yang selama ini menggantung di ribuan pulau terluar Indonesia.

"Apakah keadilan energi itu ada?"

Bagi dunia luar, Pulau Satangnga adalah wilayah yang terlalu jauh, terlalu kecil, dan terlalu mahal untuk dijangkau. Puluhan tahun lamanya listrik tak kunjung datang, karena impian mereka membentur tembok biaya.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi membedah realitas ini. Di balik statistik rasio elektrifikasi nasional yang mendekati 100 persen, tersisa "residu" lima persen yang sulit ditaklukkan.

"Kesulitannya bagi PLN itu tidak tersedianya jaringan pembangkit listrik atau juga jaringan distribusi yang menghubungkan sampai ke daerah 3T tadi. Kalau dia membangun jaringan listrik dengan biaya yang mahal tetapi konsumennya (penduduk) tidak sebesar di Jawa, itu tidak layak secara ekonomis," kata Fahmy lugas.

Secara logika bisnis biasa, misi ini nyaris mustahil. Menarik kabel laut untuk melistriki seribu jiwa adalah tindakan nekat.

Namun, negara ini tidak dibangun di atas hitungan untung-rugi semata. Di sanalah negara hadir mengambil peran.

Ia berdiri di atas semangat keadilan sosial dengan mandat konstitusi yang berbicara. Negara memilih hadir demi memastikan Dg. Ronrong dan anak didik Pak Sukri tidak tertinggal gerbong kemajuan.

Pertanyaannya kemudian adalah "mengapa matahari?" Jawabannya tersembunyi dalam angka-angka mencengangkan di dokumen riset "Beyond 207 Gigawatts" dari Institute for Essential Services Reform (IESR).

Riset tersebut membuka mata bahwa Indonesia adalah "raksasa surya" yang sedang tidur. Potensi teknis energi surya negeri ini bukan lagi ratusan, melainkan mencapai rentang 3.396 GWp hingga 19.835 GWp.

Angka ini 16 hingga 95 kali lipat lebih besar dari estimasi lama pemerintah yang hanya mematok angka 207 GW. Khusus di Sulawesi Selatan, tempat Satangnga bernaung, radiasi matahari bersinar konsisten dengan potensi teknis lebih dari 559 GWp.

Sebuah kelimpahan energi yang ironis jika disandingkan dengan fakta nelayan yang masih kesulitan es batu. Laporan "Indonesia Energy Transition Outlook" (IESR, 2025) menunjukkan kebijakan energi nasional ada di dua persimpangan jalan.

Perangkat Desa Mattiro Baji, Pulau Satangnga sedang mengoperasikan komputer untuk melayani masyarakat di kantor desa menggunakan listrik PLN melalui SuperSUN (Foto: PLN)

Apakah terus membakar bahan bakar impor yang harganya fluktuatif, atau beralih memanen kekayaan langit yang melimpah ruah? Satangnga membuktikan jalan kedualah yang paling masuk akal.

Dokumen IESR mempertegas pilihan tersebut dalam laporan lain bertajuk "Powering the Future" (2024). Kombinasi Solar PV dengan penyimpanan baterai (Energy Storage System/ESS) di wilayah kepulauan terisolasi bukan lagi opsi mahal.

"Pembangkitan listrik menggunakan sistem solar PV ditambah penyimpanan bisa lebih 'cost-effective' dibandingkan dengan generator bahan bakar fosil seperti generator diesel," tulis laporan IESR tersebut.

Dan di sinilah titik baliknya. Laporan "Indonesia Energy Transition Outlook 2025" menyebut tahun ini sebagai momen "lepas landas" transisi energi nasional.

Setelah bertahun-tahun terjebak dalam rencana, arah kebijakan baru kini mendorong aksi nyata di lapangan. Satangnga adalah salah satu bukti "pendaratan" pertama era saat energi matahari tak lagi disia-siakan, tapi dipanen untuk rakyat.

Namun, keputusan teknis "memanen matahari" di pulau terpencil ini bukanlah inisiatif lokal yang berdiri sendiri. Ia adalah gaung nyata dari komando besar yang ditarik tegas dari panggung diplomasi dunia.

Keberanian mengganti diesel kotor dengan teknologi masa depan ini, sejatinya berhulu dari janji negara. Janji tersebut diucapkan di Rio de Janeiro, Brasil, pada puncak KTT G20 November 2024 lalu.

Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar berwacana di hadapan para pemimpin global. Ia meletakkan fondasi arah baru bangsa.

"Kami berencana untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga batu bara dan semua pembangkit listrik tenaga fosil dalam 15 tahun ke depan. Kami juga berencana untuk membangun lebih dari 75 gigawatt tenaga terbarukan dalam masa ini," kata Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin dunia.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya saat meresmikan PLTA Jatigede di Sumedang, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjabarkan peta jalan eksekusinya. Ia tak mau ada lagi warga yang gelap gulita di era modern ini.

"Terdapat 340 kecamatan, yang belum kita kasih listrik sekitar 6.700 dusun. Kita membutuhkan anggaran kurang lebih sekitar Rp48 triliun selama lima tahun untuk menerangi dusun-dusun, desa-desa, dan kecamatan yang belum terlistriki," ucap Bahlil di Sumedang, Senin (20/1/2025).

"Kami yakin, insaallah, apa yang Bapak Presiden arahkan ini akan mampu kita lakukan. Kita wujudkan semuanya akan terlistriki," katanya.

Optimisme itu dipertebal saat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau infrastruktur energi di Ambon, Maluku. Menurut Wapres, pemerataaan akses listrik akan menggeliatkan kehidupan masyarakat, terutama ekonomi.

"Saya berharap pada tahun 2026, daerah-daerah terpencil dan terluar yang saat ini masih dialiri listrik 12 jam atau 6 jam, bisa menikmati listrik 24 jam penuh. Pemerataan akses listrik akan mempercepat pertumbuhan ekonomi desa dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat," kata Wapres Gibran saat mengunjungi pembangkit listrik terapung Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Barge Mounted Power Plant (BMPP) Nusantara I, Selasa (14/10/2025).

Hari ini, semua visi besar itu telah dirasakan di Pulau Satangnga. Kepala Desa Muhammad Ridwan pun menyampaikan rasa terima kasihnya.

Ia sekaligus menitipkan sebuah harapan tulus dari warganya yang baru saja "merdeka" dari kegelapan. Harapan itu ditujukannya langsung ke Jakarta.

"Harapan kami, semoga bisa menyamaratakan (fasilitas-red) ini (ke seluruh-red) warga Indonesia, yang rencana untuk daerah-daerah terpencil. Semoga itu bisa dipercepat, Pak. Semoga bisa sampai ke Pak Presiden," ucap Ridwan.

Mentari di langit senja Satangnga memang akan selalu terbenam. Tapi mulai hari ini, hangatnya tidak ikut pergi.

Ia abadi. Ia ditangkap, didekap, disimpan, dan dinyalakan untuk masa depan anak-anak pulau yang tak akan pernah lagi redup.

Indonesia Emas, ternyata, dimulai dari nyala lampu di batas negeri yang sunyi ini.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....