Di Bawah Langit Monas: Dua Kisah, Satu Cinta untuk Republik Indonesia

  • 17 Agt 2026 15:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kirab Pengantaran Bendera Pusaka berlangsung khidmat di kawasan Monas, dengan motor listrik, pasukan Turangga, dan Kereta Kencana Garuda Prabayaksa
  • Viktor Zalukhu, salah satu motoris motor listrik, mendapat pengalaman pertama mengawal Kirab Bendera Pusaka setelah menjalani persiapan selama lebih dari dua pekan
  • Christine Sajenine Keola merasakan langsung kemeriahan perayaan HUT Ke-81 RI di Monas dan memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan untuk menjalani kehidupan

Pagi itu di bawah langit kawasan Monas, napas kemerdekaan terasa begitu hidup dan sangat menyentuh hati. Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Republik Indonesia ini diwarnai kebesaran Kirab Pengantaran Bendera Pusaka serta Pesta Rakyat.

Di antara lautan manusia yang memadati area tersebut, ada dua cerita bergerak dalam ritme sangat berbeda. Keduanya ternyata bermuara pada satu makna yang sama, yakni sebuah wujud cinta mendalam untuk negeri tercinta.

Barisan rombongan kirab pengantaran bendera pusaka dan teks proklamasi telah bersiap rapi sejak mentari pagi menyapa. Suasana hening dan penuh khidmat mengiringi setiap detik awal prosesi bersejarah yang sangat dinantikan seluruh rakyat.

Puluhan motor listrik ramah lingkungan tampak gagah memimpin barisan terdepan dengan harmoni tanpa suara yang memekakkan. Tepat di belakangnya melangkah anggun pasukan Turangga menampilkan barisan kuda berbulu mengkilap dengan hentakan kaki kencang.

Pasukan Tarungga yang menjadi bagian dari rombongan Kirab Pengantaran Bendera Pusaka Merah Putih dari Monas menuju Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026 (Foto: RRI/Sasa Haniyah)

Kereta kencana Garuda Prabayaksa ditarik oleh delapan ekor kuda pilihan yang melambangkan kemuliaan bulan suci kemerdekaan. Dua purna paskibraka duduk dengan sangat tenang membawa sang saka merah putih beserta teks proklamasi berharga.

Sepanjang rute jalanan ibu kota terdapat lautan masyarakat yang rela berdiri diam demi menyaksikan momen mengharukan. Mata mereka tampak berkaca menyiratkan rasa syukur terdalam karena bisa menyatu langsung dengan napas kemerdekaan bangsa.

Di tengah barisan kirab yang melangkah sangat gagah dan tertib, terlihat sosok prajurit Salah satu motoris molis (Motor listrik) Viktor Zalukhu. Tahun ini adalah kali pertama ia mendapat kepercayaan penuh untuk mengawal jalannya Kirab Bendera Pusaka nasional.

Salah satu motoris motor listrik dari satuan Polisi Militer ta 4 unit 1 saklakpom II Victor Zalukhu yang menjadi bagian dari rombongan Kirab Pengantaran Bendera Pusaka dan Teks Proklamasi dari Monumen Nasional menuju Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin, 17 Agustus 2026 (Foto: RRI/Namira Kaguma)

Viktor menjadi satu dari empat puluh lima personel yang bertugas mengendarai motor listrik dalam iring-iringan tersebut. Di balik penampilannya yang sangat tenang hari itu, terdapat kerja keras selama dua pekan di markas.

“Untuk persiapan kurang lebih 2 minggu lebih, latihannya di Mako (Markas Komando) Paspampres. Untuk tantangannya untuk mengendalikan kendaraan atau menyesuaikan formasinya itu lebih agak menantang dikit,” ujarnya di samping Motor Listriknya di Kawasan Monumen Nasional, Senin, 17 Agustus 2026.

Meski menuntut ketelitian serta kedisiplinan tingkat tinggi, Viktor selalu menjalaninya dengan sepenuh hati dan dedikasi penuh. Ketika roda motornya akhirnya menyusuri jalanan ibu kota, segala penat dan lelah seketika menguap begitu saja.

Di mata seorang Viktor, usia delapan puluh satu tahun adalah pengingat untuk terus merawat rasa syukur. Ia ingin melihat bangsa ini terus berjalan bergandengan tangan untuk menyongsong fajar kemajuan menuju Indonesia Emas.

‘Harapannya kedepannya untuk Indonesia lebih maju. Lebih maju dan kita sukseskan Indonesia Emas 2045,” ucapnya penuh semangat.

Jika Viktor merasakan kemerdekaan dari balik kemudinya, hal yang jauh berbeda dialami oleh Christine Sajenine Keola. Gadis muda ini datang membawa secercah rasa antusias tinggi sejak mentari pagi belum sepenuhnya bersinar terang.

Selama bertahun-tahun lamanya, Christine hanya bisa menatap kemeriahan perayaan kemerdekaan melalui kotak televisi di dalam kamarnya. Namun pada pagi yang cerah itu, ia akhirnya bisa bernapas lega di tengah riuh rendah kegembiraan.

Masyarakat asal Jakarta Christin yang menjadi salah satu penerima kaos gratis dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-81 Republik Indonesia di Monas, Senin, 17 Agustus 2026 (Foto: RRI/Namira Kaguma)

Meskipun harus ikut berdesakan mengantri demi sepotong kaos edisi kemerdekaan gratis, tidak ada raut wajah lelah. Suasana yang ia saksikan secara langsung ternyata jauh lebih magis dibandingkan apa yang terlihat di layar.

"Aku melihatnya gila serame ini ternyata pas aku lihat di TV tuh kayak yaelah paling gini-gini

doang. Tapi ternyata sih bener-bener rame banget,” ujarnya sembari tersenyum.

Bagi seorang Christine, kehangatan perayaan ini menyadarkannya bahwa kemerdekaan memiliki energi luar biasa ketika dirayakan bersama-sama. Ia memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan sejati untuk menjalani kehidupan tanpa adanya belenggu dari pihak manapun.

“Kemerdekaan bagi aku tuh kebebasan untuk aku hidup. Kebebasan,” ucapnya.

Pagi di Monas itu menjadi saksi bisu bagaimana cerita Viktor dan Christine bersinggungan di udara yang sama. Mereka hadir membawa peran yang sangat berbeda, namun sama-sama menjadi denyut nadi perayaan hari kemerdekaan bangsa.

Dari dedikasi prajurit hingga langkah riang warga biasa, kita belajar bahwa kemerdekaan tidak pernah berwajah tunggal. Keduanya telah membuktikan bahwa kemerdekaan sejati adalah tentang rasa syukur mendalam dan kebersamaan yang menghangatkan jiwa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....