Legenda dan Fakta Ikan Tuing-Tuing Mandar

  • 15 Agt 2025 14:10 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Di pesisir Mandar, Sulawesi Barat, nama ikan tuing-tuing bukan sekadar sebutan biasa. Menurut legenda yang diceritakan turun-temurun, makhluk bersisik ini pertama kali dikenal ketika seorang putra raja menerima hadiah dari Kerajaan Dasar Laut Naungsasi.

Ikan itu berbeda dari ikan lain, siripnya lebar dan mampu melayang di udara. Keunikan itu membuat sang putra raja menjulukinya tuing-tuing. Sejak saat itu, ikan ini menjadi simbol kebanggaan sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat pesisir Mandar, dari hidangan istana hingga makanan sehari-hari nelayan.

Lebih dari sekadar pangan, ikan tuing-tuing melekat dalam ritual masyarakat Mandar melalui tradisi Motangnga, perburuan telur ikan terbang yang digelar setiap musim angin timur (Wattu Timor). Budayawan laut Muhammad Ridwan Alimuddin menuturkan bahwa kegiatan ini bukan hanya ritual adat, tapi juga sumber penghidupan utama bagi para nelayan.

Bahkan, ikan ini dijuluki Maraqdia, gelar kebangsawanan dalam bahasa Mandar, sebagai tanda penghormatan. Olahan seperti ikan terbang asap menjadi kuliner khas yang tak pernah absen di meja makan masyarakat setempat.

Meski disebut ikan terbang, para ahli seperti Augy Syahailatua dari Jurnal Oseana menegaskan bahwa ikan ini sejatinya tidak benar-benar terbang seperti burung. Mereka melakukan gliding yaitu meluncur di udara setelah melesat keluar dari air dengan kecepatan tinggi.

Sirip dada yang lebar berfungsi seperti sayap, sementara ekor yang kuat menjadi pendorong utama. Dalam satu lompatan, ikan terbang bisa meluncur sejauh 200 hingga 400 meter, memanfaatkan hembusan angin laut untuk lolos dari predator seperti tuna dan marlin.

Kisah ikan terbang tidak hanya hidup di cerita rakyat, tetapi juga tercatat di batuan purba. Penelitian Guang-Hui Xu dan timnya menemukan fosil Potanichthys xingyiensis berusia lebih dari 235 juta tahun di China. Meskipun bukan nenek moyang langsung ikan terbang modern, fosil ini menunjukkan bahwa kemampuan meluncur telah menjadi strategi bertahan hidup sejak zaman Trias. Studi genetika modern bahkan mengungkap bahwa adaptasi ini muncul secara terpisah di beberapa kelompok ikan, membuktikan betapa pentingnya kemampuan “terbang” di dunia laut.

Kini, ikan tuing-tuing tetap menjadi denyut kehidupan bagi masyarakat pesisir Mandar. Ia menghubungkan masa lalu dan masa kini, dari cerita mistis di istana laut, ritual perburuan di musim angin timur, hingga riset ilmiah yang menguak rahasia sirip dan kemampuannya melayang.

Perpaduan antara mitos, tradisi, dan sains menjadikan ikan terbang bukan sekadar komoditas laut, melainkan simbol identitas dan kekayaan budaya yang patut dijaga kelestariannya, baik di laut maupun di hati masyarakat yang menggantungkan hidup padanya. (Alifah)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....